BERLIN, Exposenews.id – Bundeswehr, angkatan bersenjata Jerman, tengah melakukan rekrutmen besar-besaran menyusul meningkatnya ketegangan dengan Rusia. Data terbaru menunjukkan, dalam tujuh bulan pertama 2025, jumlah pendaftar naik 28% menjadi 13.700 orang dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pemerintah Jerman menargetkan peningkatan personel aktif dari 182.000 saat ini menjadi 260.000 tentara pada 2030 – langkah signifikan untuk memperkuat pertahanan di tengah ketidakstabilan geopolitik Eropa Timur.
Minat Masyarakat Meningkat, Tapi Tantangan Tetap Ada
Tidak hanya sektor militer, minat bergabung dengan layanan sipil pertahanan juga melonjak 31%. Kementerian Pertahanan Jerman mencatat peningkatan 11% dalam konsultasi awal dan 8% dalam pendaftaran. “Ini menunjukkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pertahanan nasional,” ujar juru bicara kementerian.
Namun, tantangan utama tetap menghantui. Penurunan rekrutmen sebesar 7% pada 2023 akibat populasi yang menua dan persaingan lapangan kerja belum sepenuhnya teratasi. Untuk mengatasi kekurangan personel, pemerintah menimbang kembali menghidupkan wajib militer yang telah dihentikan sejak 2011 Mulai 2026, pria berusia 18 tahun diwajibkan mengisi survei kesediaan mereka untuk bertugas.
Kanselir Merz: Bundeswehr Harus Jadi Kekuatan Terkuat di Eropa
Kanselir Friedrich Merz menegaskan komitmennya menjadikan Bundeswehr sebagai angkatan bersenjata terkuat di Eropa. Pemerintah berencana meningkatkan anggaran pertahanan hingga 3,5% dari PDB pada 2029 – jauh di atas target NATO sebesar 2%. “Kami harus siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk ancaman dari Timur,” tegas Merz dalam pidato terbarunya.
Reaksi Kremlin: Langkah Jerman Provokatif
Moskow langsung merespons keras kebijakan Jerman ini. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut langkah Berlin sebagai “provokasi yang mengancam stabilitas Eropa.” Ia membantah tuduhan bahwa Rusia berencana menyerang negara-negara NATO, namun tetap menegaskan bahwa Moskow akan mengambil tindakan balasan jika diperlukan.
Pro Kontra Wajib Militer
Rencana reintroduksi wajib militer memicu perdebatan sengit di Jerman. Sebagian pihak mendukung sebagai langkah strategis, sementara yang lain menganggapnya sebagai langkah mundur. “Kami harus memprioritaskan diplomasi, bukan militerisasi,” kritik anggota parlemen dari Partai Hijau.
Di tengah ketegangan yang terus memanas, Jerman tampak serius dalam memperkuat pertahanannya. Namun, pertanyaan besar tetap mengemuka: Akankah peningkatan kekuatan militer ini mencegah perang, atau justru memicu perlombaan senjata baru di Eropa?
Dapatkan Berita Terupdate Lainnya di Exposenews.id
