Cinta-news.com – Kabar mengejutkan datang dari Iran! Pemerintah resmi mengangkat mantan komandan elite Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Mohsen Rezaei, sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional yang baru pada Minggu (9/8/2026). Penunjukan ini langsung mengguncang panggung politik Timur Tengah dan memicu berbagai spekulasi di kalangan analis internasional.
Rezaei secara resmi menggantikan Mohammad Bagher Zolghadr yang sebelumnya mengambil alih jabatan tersebut setelah sekretaris dewan sebelumnya, Ali Larijani, tewas dalam serangan mematikan Israel. Pergantian di posisi strategis ini terjadi di tengah ketegangan regional yang masih membara pasca-konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Juru bicara Presiden Masoud Pezeshkian, Seyed Mehdi Tabatabaei, mengonfirmasi bahwa Zolghadr telah mengundurkan diri secara sukarela dan akan segera menduduki posisi baru di pemerintahan. Namun, pengamat menilai langkah ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan sinyal kuat tentang pergeseran kekuasaan di dalam negeri Iran.
Menariknya, para analis menilai bahwa Zolghadr tidak memiliki otoritas sekuat beberapa komandan militer senior lainnya, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiun. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan besar: mengapa Iran memilih sosok Rezaei yang jauh lebih berpengaruh dan kontroversial?
Sosok Legendaris di Balik Perang Iran-Irak
Mari kita telusuri lebih dalam sosok Mohsen Rezaei. Dikutip dari New York Times, pria ini pernah memimpin langsung Korps Garda Revolusi Islam Iran selama perang dahsyat Iran-Irak pada era 1980-an. Bayangkan, ia adalah otak di balik strategi militer Iran saat menghadapi invasi Irak yang didukung berbagai negara Barat.
Tak berhenti di situ, Rezaei juga pernah menjabat sebagai penasihat kepercayaan bagi pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Kedekatannya dengan pusat kekuasaan menjadikan Rezaei sebagai salah satu figur paling berpengaruh yang memahami seluk-beluk kebijakan pertahanan dan keamanan Iran selama lebih dari empat dekade.
Dewan Keamanan Nasional yang kini dipimpinnya beranggotakan pejabat sipil dan militer tingkat atas. Lembaga ini memainkan peran krusial dalam menentukan arah kebijakan Iran terkait konflik yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat. Bahkan pada Juni lalu, dewan tersebut menyetujui nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan sementara perang, meskipun kesepakatan itu dengan cepat gagal di tengah jalan.
Mengapa Penunjukan Ini Begitu Penting?
Pengangkatan Rezaei menunjukkan bahwa kelompok lama di Iran sedang mengkonsolidasikan kekuasaan dengan lebih agresif. Seorang pakar masalah keamanan Iran yang berbasis di Berlin, Hamidreza Azizi, memberikan analisis tajam tentang signifikansi penunjukan ini.
Azizi menjelaskan bahwa langkah ini sangat penting karena beberapa alasan mendasar. Pertama, penunjukan Rezaei menandakan bahwa para kepala keamanan Iran yang telah lama berkuasa semakin memperkuat cengkeraman kekuasaan mereka. Mereka tidak membuka jalan bagi transisi menuju generasi elite politik yang lebih muda, seperti yang selama ini diharapkan banyak pihak.
Fakta mencengangkan lainnya adalah Rezaei telah menjadi tokoh tetap di tingkat tertinggi militer dan politik Iran selama lebih dari empat dekade. Selain peran militernya yang mentereng, ia beberapa kali mencalonkan diri sebagai presiden, meskipun selalu gagal meraih kursi kepresidenan. Namun kegagalan itu justru membuatnya semakin berpengaruh di balik layar.
Pergulatan Kelompok Garis Keras vs Moderat
Azizi juga mengungkapkan bahwa penunjukan ini mengindikasikan upaya cerdik untuk menyeimbangkan pengaruh Mohammad Bagher Ghalibaf, yang selama ini memimpin negosiasi Iran dengan AS. Ghalibaf, seorang komandan Garda Revolusi veteran lainnya, adalah ketua parlemen dan dikenal sangat dekat dengan Zolghadr.
Pergantian di puncak dewan keamanan ini dapat mewakili tindakan penyeimbangan yang brilian oleh Ayatollah Khamenei untuk mencegah pengaruh berlebihan Ghalibaf. Ini adalah permainan catur politik tingkat tinggi yang sedang dimainkan di Teheran!
Sebelumnya, Ghalibaf dengan berani membela perjanjian gencatan senjata yang dicapai Iran dengan AS pada Juni lalu. Ia melakukannya bahkan ketika elemen-elemen yang lebih garis keras di dalam negeri dengan sengit menyerang kesepakatan tersebut. Sikap moderat Ghalibaf ini tampaknya memicu reaksi dari faksi konservatif.
Yang membuat situasi semakin panas adalah pernyataan Azizi yang menegaskan, “Pengangkatan Rezaei akan berarti bahwa pihak yang lebih garis keras dalam sistem tersebut mendapatkan kendali.” Kalimat ini langsung memicu spekulasi bahwa kebijakan Iran akan berbelok tajam ke arah yang lebih agresif dalam menghadapi AS dan sekutunya.
Apa Dampaknya bagi Stabilitas Regional?
Dengan pengangkatan Rezaei, pertanyaan besar muncul: akankah Iran mengubah pendekatan diplomatiknya? Atau justru sebaliknya, mereka akan semakin memperkuat posisi militer dan keamanannya? Para pengamat internasional kini mencermati setiap gerakan Iran dengan kacamata berbeda.
Rezaei dikenal sebagai figur yang tidak pernah kompromi terhadap kepentingan nasional Iran. Pengalamannya memimpin perang melawan Irak membuatnya memahami betul arti konflik bersenjata. Kini, dengan jabatan barunya, ia memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan-keputusan krusial yang akan menentukan nasib jutaan orang di kawasan.
Yang tidak kalah menarik adalah bagaimana hubungan Rezaei dengan pemimpin tertinggi Khamenei akan memengaruhi kebijakan luar negeri Iran. Sebagai mantan penasihat dekat, Rezaei memiliki akses istimewa yang mungkin tidak dimiliki oleh pejabat lainnya. Hal ini membuat posisinya semakin kuat dan sulit diganggu gugat.
Reaksi Dunia Internasional
Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah AS atau negara-negara Eropa mengenai penunjukan ini. Namun, sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa mereka akan memantau dengan ketat setiap kebijakan baru yang dihasilkan di bawah kepemimpinan Rezaei.
Israel, yang sebelumnya terlibat dalam insiden yang menewaskan Larijani, kemungkinan besar akan merespons dengan kewaspadaan tinggi. Mengingat Rezaei adalah tokoh militer senior dengan pengalaman tempur luas, tidak menutup kemungkinan terjadi peningkatan ketegangan di perbatasan utara Israel.
Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab diperkirakan akan mengambil sikap hati-hati. Mereka pasti khawatir bahwa pengangkatan Rezaei akan mengarah pada kebijakan yang lebih agresif di Selat Hormuz dan perairan Teluk Persia.
Apa Kata Masyarakat Iran?
Di dalam negeri, reaksi masyarakat Iran terbagi. Kelompok konservatif menyambut antusias penunjukan ini karena mereka melihat Rezaei sebagai sosok yang akan mempertahankan nilai-nilai revolusi dengan tegas. Namun, kelompok reformis justru mengkhawatirkan bahwa langkah ini akan mengubur harapan akan perubahan dan keterbukaan politik.
Para pemuda Iran, yang selama ini mendorong reformasi dan keterbukaan, mungkin akan kecewa dengan pilihan ini. Mereka berharap adanya wajah-wajah baru yang bisa membawa Iran keluar dari isolasi internasional. Namun, tampaknya para pemimpin senior memilih jalur yang lebih aman dengan mengandalkan figur-figur berpengalaman meskipun sudah berusia lanjut.
Kesimpulan: Babak Baru bagi Keamanan Iran
Penunjukan Mohsen Rezaei sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional bukanlah sekadar pergantian jabatan biasa. Ini adalah sinyal kuat bahwa faksi garis keras semakin menguatkan cengkeraman mereka atas kebijakan pertahanan dan keamanan Iran. Dengan rekam jejak militernya yang panjang dan kedekatannya dengan pemimpin tertinggi, Rezaei diprediksi akan membawa perubahan signifikan dalam pendekatan Iran terhadap konflik regional.
Yang perlu dicermati ke depan adalah apakah langkah ini akan membawa Iran pada konfrontasi terbuka dengan AS dan sekutunya, atau justru menjadi strategi untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi yang akan datang. Satu hal yang pasti: dinamika keamanan di Timur Tengah akan memasuki babak baru yang penuh ketidakpastian.
Dunia kini menunggu langkah pertama Rezaei dalam menjalankan tugas barunya. Akankah ia memilih pendekatan diplomatik atau militer? Hanya waktu yang akan menjawab. Namun satu hal yang jelas, Iran di bawah kepemimpinan keamanan baru ini akan menjadi aktor yang semakin sulit diprediksi di panggung internasional.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











