TEHERAN, Cinta-news.com – Dunia kembali menahan napas. Iran secara resmi mengunci akses Selat Hormuz untuk kedua kalinya, dan kali ini mereka benar-benar serius. Keputusan dramatis ini langsung memicu kekhawatiran global karena jalur minyak paling sibuk di planet bumi kini nyaris lumpuh total.
Lantas, apa pemicu utama di balik langkah nekat ini? Angkatan Laut Garda Revolusi Iran (IRGC) dengan tegas mengumumkan bahwa Selat Hormuz resmi ditutup lagi mulai Sabtu (18/4/2026) siang. Mereka tidak main-main. Dalam pengumuman yang gencar disiarkan media lokal, Iran menyatakan blokade jalur strategis ini akan terus berlangsung sampai Amerika Serikat mencabut seluruh blokade terhadap kapal-kapal Iran. Dengan kata lain, Iran memasang taruhan tinggi: “Cabut sanksi laut kalau tidak mau ekonomi global terganggu.”
Selanjutnya, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) ikut angkat bicara secara terpisah. Mereka menegaskan bahwa Teheran akan terus melakukan pengawasan super ketat terhadap setiap gerakan di Selat Hormuz. Pengawasan ini tidak akan berhenti sebelum perang antara Iran dan koalisi AS-Israel benar-benar berakhir dan perdamaian sejati tercapai. Artinya, situasi masih sangat panas dan bisa meledak kapan saja.
Menariknya, SNSC juga mengungkap fakta mengejutkan dalam pernyataan resmi mereka. Ternyata, Iran sebelumnya sempat menyetujui meja perundingan dengan Amerika Serikat melalui mediasi Pakistan. Tujuan mulia mereka adalah mengakhiri konflik berkepanjangan yang sudah merugikan banyak pihak. Namun, apa daya? Negosiasi tersebut gagal total setelah pihak lawan mengajukan tuntutan tambahan yang menurut Iran sangat tidak masuk akal dan tidak bisa diterima dengan cara apa pun. Akibatnya, harapan damai buyar seketika.
“Iran tidak akan pernah berkompromi terhadap kepentingan nasionalnya,” demikian isi pernyataan keras tersebut, seperti yang dilaporkan oleh Tasnim News Agency, media yang memiliki afiliasi dekat dengan IRGC. Namun, di tengah ketegangan yang meninggi, Iran ternyata masih membuka satu pintu kecil. Mereka mengaku telah menerima proposal baru yang disampaikan melalui mediator Pakistan. Saat ini, proposal tersebut masih dalam tahap kajian mendalam. Apakah ini celah perdamaian atau hanya taktik pengalihan? Kita tunggu saja.
Sempat Dibuka Terbatas, Kini Diputus Total
Sebelum memutuskan tindakan ekstrem ini, Iran sempat membuka Selat Hormuz secara terbatas dan penuh syarat. Bayangkan, mereka hanya mengizinkan kapal komersial untuk melintas, itu pun dengan aturan super ketat. Kapal militer atau kapal dari negara yang dianggap bermusuhan sama sekali tidak mendapat akses. Semua kapal yang melintas harus berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata Iran dan mengikuti rute yang sudah ditentukan.
Selain itu, setiap kapal wajib memberikan data lengkap, memperoleh izin resmi, serta membayar biaya keamanan, keselamatan, dan perlindungan lingkungan. Ibaratnya, Iran menjadi satpam sekaligus petugas pajak di jalur tersibuk dunia. Dalam kesempatan itu, Iran juga melontarkan peringatan keras: jika pihak lawan berani mengganggu lalu lintas kapal atau menerapkan blokade lagi, maka pembukaan terbatas ini akan dibatalkan sepenuhnya.
Nah, peringatan itu ternyata bukan sekadar gertakan. Pernyataan tersebut kemudian diyakini menjadi pemicu utama Iran menutup Selat Hormuz lagi kemarin. Mengapa mereka begitu tegas? Karena Iran menilai lalu lintas kapal di Selat Hormuz juga menjadi jalur logistik vital bagi pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan. Dengan kata lain, setiap kapal yang melintas bisa dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional Iran. Alhasil, demi melindungi diri, mereka lebih memilih menutup akses total daripada mengambil risiko.
Respons AS Makin Panas, Ketegangan Eskalasi Drastis
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons dengan nada yang tidak kalah keras. Meskipun ia menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk aktivitas perdagangan global, Trump justru menegaskan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap kapal dan pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan tanpa kompromi. Blokade ini hanya akan dicabut jika Teheran bersedia mencapai kesepakatan, termasuk membahas program nuklir Iran yang selama ini menjadi sumber ketegangan.
“Blokade akan tetap berlaku sepenuhnya sampai kesepakatan tercapai,” tulis Trump dengan percaya diri di Truth Social pada Jumat (17/4/2026), seperti dikutip dari Reuters. Pernyataan ini jelas seperti menuangkan bensin ke dalam api. Iran yang sudah siap tempur pasti tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan seperti itu.
Di sisi lain, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran kembali mengeluarkan pernyataan penutup yang penuh semangat pada Sabtu. Mereka dengan lantang menegaskan bahwa Teheran akan terus mempertahankan kepentingan nasionalnya dan tidak akan pernah tunduk pada tekanan eksternal dalam bentuk apa pun. Sikap ini menunjukkan bahwa Iran lebih memilih konfrontasi terbuka daripada dipandang lemah di mata dunia.
Akhirnya, di tengah situasi yang masih sangat berpotensi memanas, Iran menyerukan persatuan nasional serta kewaspadaan penuh di semua sektor. Baik militer, politik, maupun masyarakat sipil diminta bersatu padu menghadapi kemungkinan terburuk. Dunia kini hanya bisa berharap bahwa logika dan diplomasi masih punya ruang untuk bekerja, sebelum Selat Hormuz benar-benar menjadi panggung perang besar berikutnya. Satu yang pasti: harga minyak dan stabilitas global sedang berada di ujung tanduk.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











