Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Helikopter Layanan Medis Jatuh di Sarawak, 5 Kru Termasuk Dokter Tewas

KUALA LUMPUR, Cinta-news.com – Kabar duka kembali menyelimuti dunia penerbangan Malaysia. Sebuah helikopter yang mengemban misi mulia sebagai layanan medis udara alias flying doctor tiba-tiba jatuh di wilayah utara Sarawak, Malaysia, pada Selasa (8/9/2026). Nahas, insiden tragis ini langsung merenggut seluruh nyawa penumpang yang berada di dalamnya, yakni seorang pilot dan empat staf Kementerian Kesehatan Malaysia. Bayangkan, lima orang yang tengah berjuang membawa kesehatan bagi warga pedalaman justru harus kehilangan nyawa mereka sendiri.

Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, pun langsung angkat bicara. Dia mengonfirmasi bahwa para staf medis tersebut sedang menjalankan tugas saat kecelakaan mengerikan itu terjadi. Korban tewas terdiri dari seorang pilot, seorang pejabat medis (dokter), seorang asisten pejabat medis, dan dua orang perawat. Sungguh, dunia kesehatan Malaysia kehilangan pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa.

Salah satu korban meninggal telah diidentifikasi sebagai Dr. Ainul Baroah Kamaruddin yang berasal dari Kelantan. Kepastian tersebut dikonfirmasi oleh adik ipar korban, Nureez Mohd Pauzi, melalui unggahan di media sosial Facebook, sebagaimana dilansir dari Reuters. Duka mendalam pun menyelimuti keluarga dan kerabat korban.

Layanan flying doctor sendiri merupakan fasilitas transportasi udara khusus yang digunakan untuk menyalurkan perawatan medis, penanganan darurat, serta layanan klinis ke wilayah pedalaman atau daerah yang terisolasi. Jadi, bayangkan betapa pentingnya peran helikopter ini bagi masyarakat yang jauh dari akses rumah sakit.

Kendala Operasi SAR dan Lokasi Terpencil

Berdasarkan informasi awal dari Layanan Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (AFRS) Bandara Miri, helikopter tersebut jatuh di dekat ujung landasan pacu STOLport (short take-off and landing airport) Long Lellang, Distrik Marudi, sekitar pukul 15.40 waktu setempat. Lokasi Long Lellang berjarak sekitar 930 kilometer dari ibu kota Sarawak, Kuching, sementara kota besar terdekat adalah Miri yang berjarak sekitar 310 kilometer. Jauh banget, kan?

Upaya pencarian dan penyelamatan (SAR) pada Selasa sempat terkendala oleh kondisi kabut asap yang tebal. Kepala Kepolisian Sarawak, Mohamad Zainal Abdullah, menjelaskan bahwa tim penyelamat sempat dilarang menggunakan jalur udara untuk proses pencarian. “Lokasi kecelakaan berada di area terpencil yang membutuhkan waktu tempuh hingga 10 jam perjalanan darat,” ujar Mohamad Zainal Abdullah dalam keterangan resminya. Waduh, 10 jam perjalanan darat tentu bukan waktu yang singkat.

Pejabat Komite Pengurusan Bencana Miri di Sarawak mengonfirmasi kepada kantor berita Bernama bahwa seluruh penumpang yang berjumlah lima orang tewas di lokasi kejadian. Tidak ada yang selamat dari insiden nahas tersebut.

Investigasi dan Penanganan Korban

Proses investigasi penyebab kecelakaan kini ditangani oleh Biro Investigasi Kecelakaan Udara (AAIB) Kementerian Pengangkutan Malaysia. Chief Executive Officer Civil Aviation Authority of Malaysia (CAAM), Norazman Mahmud, menyampaikan bahwa tim AAIB dijadwalkan tiba di Miri pada Rabu pukul 14.00 untuk memulai penyelidikan. “Bangkai helikopter di lokasi kecelakaan tidak boleh diubah sesuai instruksi dari AAIB … area tersebut telah dipasangi garis pembatas dan diamankan,” kata Norazman Mahmud seperti dikutip dari New Straits Times.

Norazman menambahkan bahwa operasi pencarian dan evakuasi dilanjutkan pada Rabu. Pihak kepolisian mengelola proses identifikasi dan penyelidikan di Rumah Sakit Miri, termasuk melakukan pencocokan tes DNA korban dengan pihak keluarga. Proses ini tentu membutuhkan ketelitian dan waktu agar identifikasi korban dapat dilakukan secara akurat.

Terkait Dampak Kabut Asap Karhutla

Wilayah Sarawak di Pulau Borneo saat ini tengah terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Kalimantan. Data pemerintah Malaysia pada Rabu menunjukkan banyak area di Sarawak mencatatkan tingkat kualitas udara yang tidak sehat. Pekan lalu, Pemerintah Malaysia sempat mengumumkan status darurat di Distrik Serian, Sarawak, setelah polusi udara melonjak ke tingkat berbahaya, sebelum akhirnya dicabut seiring membaiknya kualitas udara. Jadi, selain harus berjuang melawan medan terpencil, tim SAR juga harus menghadapi tantangan kabut asap yang pekat.

Tragedi ini tentu menjadi pukulan berat bagi dunia penerbangan dan kesehatan Malaysia. Semoga keluarga korban diberikan ketabahan, dan investigasi dapat mengungkap penyebab pasti kecelakaan ini.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version