Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

198 Burung Tanpa Dokumen Disita BKSDA Jambi, Sebagian Besar Jenis Cica Dilindungi

Cinta-news.com 198 burung langka hampir lolos dari Kerinci, Cica Sumatera dan Cica Ijo jadi sasaran utama penyelundupan malam itu! Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi berhasil membongkar aksi nekat yang nyaris luput dari pantauan. Sebanyak 198 ekor burung liar nyaris dikirim tanpa dokumen sah dari Kabupaten Kerinci menuju Muaro Jambi menggunakan mobil travel biasa, seolah tak ada yang mencurigakan. Berkat kerja sama solid antara BKSDA dan organisasi perlindungan burung bernama Flight, upaya ilegal ini gagal total dan menjadi peringatan keras bagi para pelaku perdagangan satwa liar di Sumatra.

Informasi penting mengenai pengiriman satwa ini langsung diterima petugas segera setelah burung-burung itu diberangkatkan dari Kerinci pada Senin malam, 31 Agustus 2026. Tanpa membuang waktu, tim gabungan dari BKSDA dan Flight segera bergerak cepat menyusun strategi penyekatan di titik rawan. Dini hari berikutnya, tepatnya Selasa, 1 September 2026, sekitar pukul 04.00 WIB, petugas sudah siaga di kawasan Ness, Kecamatan Jambi Luar Kota, Kabupaten Muaro Jambi. Suasana masih gelap, tapi kewaspadaan tidak pernah surut dan semua berjalan intens demi menggagalkan aksi yang merusak kelestarian alam ini.

Penggerebekan di Tengah Malam

Begitu mobil travel yang dicurigai melintas, petugas langsung menghentikan kendaraan tersebut dan memeriksa setiap sudutnya dengan seksama. Alangkah terkejutnya, di dalam kendaraan itu berjejer puluhan kotak yang penuh dengan kicauan burung. Petugas menemukan berbagai jenis burung, baik yang dilindungi maupun tidak, dengan total sungguh mencengangkan mencapai 198 ekor yang berhasil diamankan dari operasi penyelundupan ini. Jika dibiarkan, burung-burung tersebut pasti sudah berpindah tangan ke pasar gelap dan jauh dari habitat aslinya.

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah keberadaan burung-burung yang masuk kategori dilindungi undang-undang. Dari hasil pendataan, petugas mencatat enam ekor Cica Ijo Kepala Kuning, 24 ekor Cica Sumatera, empat ekor Cica Daun Sayap Biru, dan dua ekor Cica Daun Mini. Keempat jenis ini merupakan satwa yang dilindungi karena populasinya semakin terancam di alam. Jefrianto, selaku Dansat Polisi Kehutanan BKSDA Jambi, menegaskan bahwa kepemilikan dan pengangkutan burung-burung ini tanpa dokumen resmi adalah pelanggaran berat terhadap undang-undang konservasi. “Jenis burung tersebut kategori dilindungi,” jelasnya tegas.

Selain satwa dilindungi, petugas juga menemukan puluhan burung lain yang memang tidak dikategorikan sebagai satwa dilindungi, tapi tetap saja melanggar aturan karena tanpa dokumen angkut. Jenis-jenis itu antara lain enam ekor Empuloh Janggut, tiga ekor Murai Air, tiga ekor Srigunting Hitam, enam ekor Siri-Siri Kecil, empat ekor Rambatan Doraemon, dua ekor Sikatan Rimba Dada Coklat, dua ekor Cica Kerinci, 35 ekor Jalak Kerbau, seratus ekor Pleci, dan seekor Kepodang. Semuanya digelandang tanpa surat-surat yang sah dan jumlahnya yang fantastis menunjukkan bahwa praktik ini sudah terorganisir, berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem.

Diselamatkan dan Dirawat Intensif

Setelah berhasil diamankan, belasan kotak berisi burung itu segera dibawa ke Tempat Penyelamatan Satwa (TPS) untuk menjalani perawatan intensif. Di sana, para petugas memeriksa kondisi fisik burung-burung tersebut dan memastikan tidak ada yang terluka parah atau stres berlebihan. Tindakan cepat ini sangat penting agar satwa-satwa itu bisa segera pulih sebelum akhirnya dilepaskan ke alam bebas. BKSDA juga tidak tinggal diam, mereka mengeluarkan surat teguran tertulis kepada pemilik kendaraan yang digunakan sebagai alat angkut ilegal. Surat tersebut bermeterai dan memuat pernyataan tegas agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya, sementara langkah hukum lebih lanjut masih terus dikaji setelah semua pemeriksaan rampung.

Puncak dari seluruh operasi ini adalah momen yang sangat dinantikan: pelepasan 198 ekor burung ke habitat alaminya! Proses pelepasan ini dilakukan pada Kamis, 3 September 2026, di dua lokasi konservasi berbeda, yaitu Suaka Margasatwa Sungai Bengkal dan Cagar Alam Gua Ulu Tiangko di Kabupaten Merangin. Kedua kawasan ini dipilih karena dinilai paling sesuai dan aman bagi kelangsungan hidup burung-burung tersebut. Petugas dengan hati-hati melepaskan mereka satu per satu dan saat pintu kandang terbuka, burung-burung itu terbang bebas menyambut alam, seolah mengucapkan syukur karena selamat dari jerat perdagangan gelap.

Pengawasan Terus Ditingkatkan

Jefrianto menegaskan bahwa pelepasan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari komitmen serius BKSDA dalam melestarikan satwa liar. “Kami pastikan satwa dapat dikembalikan ke habitat yang sesuai dan aman,” ujarnya. Proses ini pun melibatkan tim ahli yang memantau langsung kondisi burung sebelum dan sesudah dilepas, semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan sesuai prosedur konservasi yang berlaku.

Kasus besar ini mengirimkan pesan tegas kepada para pelaku perdagangan ilegal: praktik penyelundupan burung tidak akan pernah dibiarkan! BKSDA Jambi bersama Flight terus memperkuat pengawasan di jalur darat yang kerap dijadikan celah kejahatan, baik jalan utama maupun alternatif yang kini semakin sering dipantau. Bahkan, operasi serupa sudah mulai dilakukan secara rutin di berbagai titik strategis dan tim BKSDA menegaskan tidak akan berhenti, pengawasan terus ditingkatkan terutama di jalur darat yang kerap dijadikan jalur penyelundupan burung.

Kisah 198 burung dari Kerinci ini menjadi cermin betapa masifnya perdagangan satwa ilegal di Indonesia. Namun di sisi lain, keberhasilan penggagalan ini menunjukkan bahwa sinergi antar lembaga dan masyarakat sangat efektif untuk melindungi keanekaragaman hayati. BKSDA berharap masyarakat luas ikut aktif melaporkan setiap aktivitas mencurigakan terkait pengangkutan satwa liar, karena dengan langkah kolektif, Indonesia bisa mempertahankan kekayaan alamnya untuk generasi mendatang. Burung-burung itu kini kembali ke rumahnya dan harapan baru pun terbang bersama mereka di langit Sumatra.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version