Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Harga Kedelai Melonjak Jadi Rp11.500, Perajin Tahu Parepare Mengurangi Jam Produksi

PAREPARE, Cinta-news.com – Bayangkan, dalam semalam, biaya produksi melonjak drastis! Inilah yang kini menghantui para perajin tahu dan tempe di Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Kenaikan harga kedelai impor yang tidak terkendali benar-benar memukul usaha mereka hingga babak belur.

Akibatnya, sejumlah pelaku usaha terpaksa mengambil langkah dramatis. Mereka mulai mengurangi aktivitas produksi secara signifikan. Bahkan, tak sedikit yang merumahkan pekerja mereka sendiri. Semua ini dilakukan semata-mata untuk menekan kerugian yang terus membengkak setiap harinya.

Lantas, apa pemicu utama kekacauan ini? Lonjakan biaya bahan baku terjadi seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah secara tajam. Kondisi ini secara langsung membuat harga kedelai impor, yang merupakan komponen utama pembuatan tahu dan tempe, mengalami kenaikan yang sangat signifikan.

Stop Produksi! Pengusaha Lebih Pilih Istirahatkan Usaha

Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak paling keras adalah Yayat. Beliau adalah pemilik usaha tahu-tempe yang berlokasi strategis di Jalan Petta Unga, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang. Setelah berpikir keras, Yayat memilih mengambil keputusan yang berat: menghentikan sementara seluruh kegiatan produksinya.

Mengapa ia berani mengambil langkah sebesar itu? Jawabannya sederhana. Yayat melihat kondisi pasar yang sedang sangat lesu. Di saat yang bersamaan, biaya operasional yang terus meningkat seperti monster yang siap melahap keuntungannya kapan saja.

“Oh, tidak ditutup secara permanen kok. Usahanya Cuma sementara diistirahatkan dulu,” ujar Yayat dengan nada pasrah saat ditemui Jumat (12/6/2026). Ia menegaskan bahwa ini bukan kebangkrutan, melainkan strategi bertahan hidup.

Bukan Cuma Kedelai! Permintaan Konsumen Juga Ambruk

Menurut penuturan Yayat, masalahnya tidak berhenti pada mahalnya kedelai. Penurunan permintaan dari konsumen menjadi faktor utama lainnya yang memperparah keadaan. Akibatnya, roda produksinya tidak lagi bisa berjalan secara optimal.

“Memang pasarannya sedang agak menurun drastis. Apalagi, harga kedelai sebagai bahan baku utama naiknya keterlaluan sekali,” keluh Yayat sambil menggeleng. Ia memberikan rincian mengejutkan: “Dari Rp 10.500 per kilo, sekarang melonjak jadi Rp 11.500 per kilo!”

Situasi pelik ini jelas memaksanya untuk memutar otak mempertimbangkan berbagai pilihan. Di satu sisi, kenaikan biaya produksi terus menekan keuntungan hingga titik paling rendah. Namun di sisi lain, jika ia nekat menaikkan harga jual, ia sangat khawatir pembeli malah akan semakin berkurang.

“Sekarang ini kan saya mau menaikkan harga jual, tapi masih saya pikir-pikir dulu. Antara dinaikkan atau dikurangi isinya ini saja,” jelasnya dengan nada bingung. Ketakutannya sangat beralasan. “Karena kalau dinaikkan, biasa konsumen kurang suka. Saya takutnya nanti malah enggak laku,” imbuhnya.

Untuk sementara waktu, Yayat memilih mengambil jalur aman. Ia memutuskan menghentikan produksi selama beberapa hari ke depan. Ia akan menggunakan waktu ini untuk melihat perkembangan harga dan kondisi pasar terlebih dahulu. Selain itu, ia juga berupaya mencari alternatif solusi agar usahanya tetap bisa berjalan tanpa membebani pelanggan setianya.

“Paling berhenti dua hari saja ini. Sambil nunggu kondisi membaik, lihat-lihat dulu situasinya,” ujarnya penuh harap.

PHK Massal! Biaya Produksi yang Meningkat Memakan Korban

Kesulitan serupa juga dialami oleh Nandang Permadi. Beliau adalah pemilik usaha tahu-tempe lain yang berada di Jalan Sumur Jodoh, Kelurahan Watang Soreang, Kecamatan Soreang, Parepare. Baginya, mimpi buruk ini sudah menjadi kenyataan pahit.

Membengkaknya biaya produksi secara liar memaksanya mengambil langkah penghematan paling ekstrem. Ia tidak punya pilihan selain mengurangi jumlah tenaga kerjanya secara besar-besaran. Akibatnya, sejumlah pekerja terpaksa dirumahkan tanpa kompensasi yang memadai semata-mata agar usaha miliknya tetap bisa bertahan hidup.

“Dulu kan karyawan saya ada delapan orang. Sekarang, kondisi memaksa saya hanya memakai tiga orang saja. Begitulah kerasnya kondisi sekarang ini,” ucap Nandang dengan nada lesu.

Karena jumlah pekerja yang menipis, Nandang kini harus turun gunung. Ia terpaksa ikut menangani langsung sebagian proses produksi yang sebelumnya dikerjakan oleh karyawannya. Tidak ada lagi yang namanya enak-enakan duduk di kursi sambil memantau.

Selain mengurangi tenaga kerja secara drastis, ia juga menerapkan kebijakan pembatasan produksi setiap hari secara ketat. Kebijakan pahit ini dilakukannya untuk menyesuaikan jumlah barang yang diproduksi dengan kondisi permintaan pasar yang sedang terpuruk.

“Iya, produksinya saya selang-seling sekarang. Kadang saya bikin dalam jumlah banyak hari ini, besoknya langsung saya kurangi lagi. Pokoknya dibatasi sekarang,” jelasnya panjang lebar. Ia berharap langkah menahan produksi ini bisa menyelamatkan usahanya dari kebangkrutan total hingga harga kedelai kembali normal.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *