JAKARTA, Cinta-news.com – Pemandangan tak biasa menyambut pengunjung dan warga sekitar Waduk Pluit, Jakarta Utara. Dalam sekejap, permukaan air yang biasanya tenang berubah warna menjadi hijau pekat. Apa penyebabnya? Hamparan eceng gondok yang meledak secara massal tiba-tiba menutupi hampir seluruh area waduk! Peristiwa ini langsung menyita perhatian publik setelah videonya menjadi viral di berbagai platform media sosial. Tak pelak, fenomena ini pun memicu kekhawatiran serius banyak pihak, terutama terkait kualitas air dan efektivitas pengelolaan lingkungan di ibu kota.
Guncangan pertama datang setelah akun Instagram @ilhamapriyanto mengunggah video kondisi terkini Waduk Pluit pada Selasa (31/3/2026). Dalam rekaman tersebut, mata publik langsung tertuju pada satu pemandangan dominan: sebagian besar permukaan waduk tampak lenyap tertutup oleh karpet eceng gondok yang hijau dan lebat. Serasa ada peristiwa besar di perairan Jakarta!
Menyikapi kondisi darurat ini, sejumlah petugas dari Unit Penanganan Sampah Badan Air (UPS Badan Air) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta langsung bergerak cepat. Mereka terlihat sangat sibuk melakukan pembersihan besar-besaran. Bahkan yang lebih mencengangkan, mereka dengan berani berdiri tepat di atas hamparan eceng gondok yang tebal tersebut, membuktikan betapa padatnya tanaman air ini menutupi permukaan waduk.
DLH Kerahkan Alat Berat, Eceng Gondok Diangkut Massal!
Sayangnya, pesatnya pertumbuhan eceng gondok membuat proses pembersihan tidak bisa dilakukan dengan cara biasa. Oleh karena itu, DLH Jakarta pun mengambil langkah ekstrem dengan mengerahkan sejumlah alat berat, termasuk ekskavator, untuk mengangkat tumpukan tanaman dalam jumlah sangat besar. Mereka tidak main-main!
Selain menggunakan ekskavator, proses pengangkutan juga dibantu oleh alat penyaring sampah canggih. Alat ini bertugas menarik eceng gondok dari tengah waduk menuju ke daratan. Setelah tanaman berhasil diangkat ke tepi, para petugas kemudian memindahkannya menggunakan mesin konveyor ke dalam truk pengangkut. Sistem ini berjalan tanpa henti untuk mempercepat evakuasi tanaman invasif tersebut.
Abu Bakar, Pengawas saringan sampah UPS Badan Air Penjaringan, memberikan keterangan mengejutkan. Menurut pengakuannya, eceng gondok mulai tumbuh secara signifikan sejak Minggu (29/3/2026). Artinya, ledakan ini terjadi hanya dalam hitungan hari!
Karena situasinya genting, proses pengangkutan pun langsung dilakukan secara intensif sejak Selasa (31/3/2026). Setiap hari, petugas rela bekerja dari pagi hingga sore tanpa kenal lelah demi membersihkan waduk dari invasi hijau ini. Mereka benar-benar berjuang melawan waktu.
Abu Bakar lalu membeberkan data yang mencengangkan: “Sampai kemarin kami ngangkut dari pagi sampai sore. Sekitar pukul 17.00 WIB hampir 18.00 WIB kita baru kelar. Kami angkut itu habis 12 mobil kami angkut,” ucapnya dengan nada terengah-engah saat diwawancarai di lokasi, Rabu (1/4/2026).
Lebih lanjut ia merinci, pada Selasa saja volume eceng gondok yang berhasil diangkut mencapai sekitar 108 meter kubik! Angka yang sangat fantastis! Sementara hingga Rabu siang, tambahan eceng gondok yang lagi-lagi berhasil diangkut mencapai sekitar 54 meter kubik. Artinya, total sudah lebih dari 150 meter kubik tanaman hijau ini dievakuasi!
Waspada! Pakar UI Sebut Ini Indikasi Pencemaran Berbahaya
Peringatan keras justru datang dari kalangan akademisi. Mahawan Karuniasa, pakar lingkungan hidup dari Universitas Indonesia (UI), dengan tegas menilai ledakan eceng gondok ini bukan sekadar fenomena biasa. Menurut analisisnya, kondisi tersebut merupakan indikasi jelas adanya pencemaran serius di Waduk Pluit.
Dengan nada ilmiah, Mahawan menjelaskan: “Secara ilmiah, ledakan eceng gondok hampir selalu menjadi alarm eutrofikasi, air terlalu kaya nutrien, terutama nitrogen dan fosfor,” ucapnya saat dihubungi, Kamis (2/4/2026). Pernyataan ini jadi tamparan bagi kita semua!
Mahawan pun memberikan peringatan dini. Ia mengatakan, keberadaan eceng gondok memang tidak selalu berarti kualitas air langsung berada pada kondisi ekstrem secara bersamaan. Namun, secara ekologi hal ini menunjukkan adanya tekanan pencemaran yang serius akibat beban nutrien berlebih di perairan. Jadi jangan anggap remeh!
Lalu dari mana sumber nutrien ini berasal? Mahawan menjelaskan dengan gamblang bahwa sumber utama nutrien di badan air Jakarta umumnya berasal dari limbah domestik. Ya, dari rumah tangga kita sendiri!
Dalam konteks perkotaan seperti Jakarta, pemicu yang sering lebih langsung justru limbah domestik, deterjen, sampah organik, air larian permukiman, dan beban pencemar dari sungai yang masuk ke waduk,” ujar dia menegaskan. Fakta ini sungguh memprihatinkan!
Pembersihan Bukan Solusi Akhir, Ini yang Harus Dilakukan!
Yang lebih mengkhawatirkan, Mahawan dengan tegas menegaskan bahwa penggunaan alat berat untuk mengangkut eceng gondok bukanlah solusi permanen. Jangan sampai kita tertipu!
Menurut penjelasannya, upaya tersebut hanya bertujuan mengembalikan fungsi waduk sebagai pengendali banjir untuk sementara waktu. Jika tidak segera dibersihkan, eceng gondok dapat mengganggu aliran air, menyumbat sistem pompa, serta menurunkan kapasitas tampung waduk. Tapi itu hanya solusi instan!
Peringatan kerasnya: selama kandungan nutrien di air tidak dikendalikan, pertumbuhan eceng gondok akan terus berulang meski telah dibersihkan berkali-kali. Artinya, kita hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya!
Oleh karena itu, pengawasan ketat perlu dilakukan segera. Mahawan pun memberikan resep jitu: pemerintah harus memanfaatkan teknologi modern seperti drone, citra satelit, serta melakukan pengujian kualitas air secara berkala. Langkah-langkah ini krusial untuk mencegah waduk kembali tercemar limbah domestik di masa depan.
Pembersihan yang dilakukan oleh petugas pun telah dijadwalkan secara intensif. Harapannya, setelah membaca fakta-fakta mencengangkan ini, kita semua bisa lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Jangan sampai peristiwa serupa terulang lagi di kemudian hari! Jakarta butuh aksi nyata, bukan sekadar bersih-bersih sesaat!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











