Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Diduga Dipicu Sengketa Tanah Lama, Bentrokan Antarkelompok di Bulang Batam Berujung Maut

Cinta-news.com – Suasana tenang warga di kawasan Setokok, Kecamatan Bulang, Kota Batam, Kepulauan Riau, mendadak berubah menjadi kegentingan yang sangat mencekam saat bentrokan antarkelompok massa meletus pada Senin (14/9/2026) sore. Bahkan, pertikaian berdarah yang pecah sekitar pukul 16.30 WIB tersebut langsung menelan korban jiwa secara mengenaskan, di mana dua orang tewas seketika dan tujuh warga lainnya menderita luka-luka parah. Selain itu, peristiwa menegangkan ini langsung menyedot perhatian publik karena lokasi pertumpahan darah tersebut ternyata terletak tidak jauh dari Mako Marinir di kawasan Jembatan 3 Barelang.

Oleh karena itu, menanggapi peristiwa membara yang menghebohkan publik ini, Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono mengonfirmasi bahwa akar permasalahan utama dari tragedi bentrokan antarkelompok tersebut sebenarnya bermula dari sengketa penguasaan tanah. Oleh sebab itu, perselisihan perebutan lahan sengit ini rupanya sudah mengakar dingin dan terpendam cukup lama di tengah kedua kubu masyarakat yang bertikai.

Selanjutnya, sosok pimpinan kepolisian yang memimpin penanganan kasus tersebut menegaskan duduk perkara sebenarnya saat memberikan keterangan pers resmi di Markas Polresta Barelang pada Senin malam. “Adanya kejadian menyangkut masalah yang mengakibatkan orang meninggal dunia. Ini diawali adanya konflik masalah lahan,” papar Anggoro saat membeberkan temuan awal jajaran kepolisian di lapangan.

Aksi Penyerangan Mencekam! Dua Kelompok Massa Nekat Terlibat Pertumpahan Darah

Kemudian, Anggoro membeberkan kronologi awal kemunculan petaka tersebut saat rombongan massa dari salah satu kelompok mendatangi area lahan secara tiba-tiba demi mematok serta menguasai wilayah tersebut.

Bahkan saat melihat kedatangan rombongan asing tersebut, kelompok rival yang memegang kuasa resmi untuk mengelola kawasan itu langsung tersulut emosinya seketika. Akibatnya, suasana semakin emosional ketika kubu pengelola melihat adanya indikasi tindakan perusakan fisik atas aset tanah yang sedang mereka tempati dan jaga.

Seketika itu pula, pertikaian fisik yang meluap tidak terhindarkan meledak menjadi perkelahian massal antarkelompok secara terbuka. Lagipula, aksi penyerangan awal yang agresif tersebut dengan cepat memancing gelombang serangan balasan yang tidak kalah brutal dari kubu lawan di tempat kejadian.

Di samping itu, Anggoro menegaskan bahwa perselisihan fisik di lapangan murni meledak sebagai aksi spontanitas yang tidak terencana sebelumnya oleh kedua belah pihak. Lantas, “Kejadiannya adalah aksi spontan. Ada satu kelompok datang, dan kelompok yang dikuasakan mengelola lahan tersebut merasa terprovokasi dan melakukan serangan balasan,” terangnya secara gamblang kepada awak media.

Akibatnya, dampak dari bentrokan berdarah tersebut sangat mengerikan karena dua nyawa melayang akibat luka tembak yang bersarang di tubuh mereka. Sementara itu, tujuh orang korban lainnya harus menahan sakit luar biasa lantaran menderita luka-luka serius di sekujur tubuh akibat hantaman benda berbahaya. Namun demikian, penyidik kepolisian masih terus mendalami penyebab pasti kematian kedua korban tewas tersebut melalui pemeriksaan medis maraton. Beruntung, dugaan awal dari kepolisian mengindikasikan bahwa para pelaku menggunakan jenis senapan angin, bukan senjata api organik yang mematikan.

Kendati demikian, Anggoro mengingatkan bahwa kesimpulan mengenai jenis senjata tersebut masih bersifat sangkaan sementara di tingkat penyelidikan awal. Sebab, “Itu dugaan awal, untuk proses visum dan otopsi masih berjalan. Nanti akan kami proses sesuai hukum yang berlaku,” jelas Anggoro demi menjamin penegakan hukum secara transparan, adil, dan akuntabel.

Lalu, bergerak cepat usai kejadian berdarah tersebut memuncak, sebanyak tiga tim gabungan dikerahkan oleh polisi demi mengamankan enam orang terduga pelaku di lokasi kejadian.

Meskipun demikian, jajaran reserse kriminal masih terus membedah peran spesifik dari tiap individu yang berhasil diciduk oleh petugas di lapangan. Selain itu, tim pemburu dari kepolisian juga sedang merancang langkah cepat untuk menangkap sosok terduga pelaku utama yang bertanggung jawab penuh atas penembakan fatal ini.

Lebih lanjut, “Beberapa orang telah diamankan dan sudah ada terduga pelaku yang sedang proses diambil keterangan. Ini juga akan dikembangkan keseluruhan,” tegas Anggoro saat meyakinkan publik bahwa pihak kepolisian tidak akan tebang pilih dalam menindak kejahatan tersebut.

Fakta Mengejutkan Terungkap! Polisi Tegaskan Tragedi Ini Bukan Konflik Rempang

Kembali menekankan fakta di lapangan, Anggoro menjelaskan bahwa sengketa tanah yang memicu hujan darah di Setokok ini sebetulnya menyimpan akar konflik yang sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa penyelesaian tuntas dari kedua belah pihak.

Secara yuridis, izin dokumen Penetapan Lokasi (PL) resmi sebenarnya telah diterbitkan oleh pihak BP Batam kepada salah satu kelompok. Namun sebaliknya, kelompok masyarakat lain tetap nekat mengklaim kepemilikan atas tanah tersebut hingga menciptakan gesekan horizontal yang tiada henti di kawasan Setokok.

Lalu, “Ada salah satu pihak yang sudah dapat PL dari BP Batam. Namun ada pihak lain yang mengklaim memiliki lahan tersebut. Masalah ini berjalan sudah cukup lama,” beber Anggoro saat menggambarkan betapa rumitnya tumpang tindih klaim atas lahan strategis tersebut.

Guna meredam spekulasi liar yang berkembang di tengah masyarakat, Anggoro memastikan secara tegas bahwa insiden berdarah di Setokok ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan isu sensitif pembangunan Rempang Eco City.

Bukan hanya itu, pejabat kepolisian berpengalaman ini menjamin penuh bahwa bentrokan maut tersebut murni urusan perebutan lahan bisnis dan tidak melibatkan benturan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sedikit pun.

Batam Mencekam! Aparat Gabungan Bersenjata Lengkap Disiagakan Ketat

Menanggapi ancaman bentrok susulan, pengamanan ketat di lokasi kejadian langsung ditingkatkan oleh aparat gabungan demi menjaga stabilitas keamanan warga masyarakat di sekitar Setokok.

Oleh sebab itu, Kapolresta mengimbau seluruh lapisan masyarakat agar tetap tenang serta menyaring setiap unggahan video provokatif maupun berita yang belum tentu kebenarannya yang beredar deras pascatragedi tersebut.

Akhirnya, “Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terhasut oleh berita-berita yang belum tentu kebenarannya,” pungkas Anggoro menutup pernyataan resminya secara tegas.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version