Bandung, Cinta-news.com – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru alias SPMB Sekolah Maung di Bandung, Jawa Barat, mendadak panas bak neraka. Para orangtua siswa kompak angkat suara setelah mereka mendeteksi adanya dugaan kecurangan berupa perubahan poin seenak jidat dalam sistem seleksi.
Pekik kaget itu pertama kali meledak setelah seorang ibu bernama Shopie Meilani meluapkan uneg-unegnya lewat video viral. Dalam rekaman itu, ia dengan suara bergetar mengungkap proses SPMB 2026 yang dinilai penuh keanehan dan kejanggalan. Akibatnya, video tersebut langsung meroket di media sosial dan sukses mengundang perhatian publik yang haus akan transparansi sistem penerimaan sekolah.
Kepada awak media, Shopie mengaku tak menyangka bahwa keluh pribadinya bakal menyulut gelombang besar simpati masyarakat. Sejujurnya, ia hanya menginginkan kejelasan sebab poin sang anak tiba-tiba tergerus ketika posisinya dalam daftar seleksi sebelumnya malah aman di dalam kuota.
Poin SPMB Sekolah Maung berubah seperti sulap, orangtua sampai terlonjak kaget
Dengan nada geram bercampur sedih, Shopie menjelaskan bahwa perubahan nilai tersebut benar-benar menguras emosinya sebagai seorang ibu. Menurut pengakuannya, sang anak sempat bersarang manis di posisi terakhir kuota persis ketika masa verifikasi rampung.
“Pastilah saya emosional sebagai seorang ibu, masa poin anak saya berkurang tiba-tiba? Pada tanggal 2 Juni pukul 00.00 WIB, itu kan momen terakhir verifikasi, dan posisi anak saya memang mantap di urutan 64,” ujar Shopie dengan nada heran, Jumat (5/6/2026).
Ia melanjutkan ceritanya, “Sampai tanggal 3 Juni 2026, posisinya masih aman di dalam kuota. Namun, coba bayangkan, pada pagi hari tanggal 4 Juni 2026, ketika saya mengecek ulang, poin anak saya justru berkurang drastis hampir 51 poin! Tentu ini menjadi tanda tanya besar bagi saya. Awalnya saya kira cuma anak saya yang bernasib sial, makanya saya pun segera melesat ke sekolah yang bersangkutan. Di sana, untungnya kami diterima dengan baik, pengaduan kami didengar, dan mereka meminta kami mengisi formulir pengaduan yang kemudian akan diteruskan ke pihak dinas,” tambahnya sambil menghela napas.
Perubahan drastis tersebut akhirnya memaksa Shopie mendatangi sekolah untuk menuntut penjelasan secara langsung. Meski mengaku pihak sekolah menerima pengaduan dengan baik, hingga kini mereka belum bisa memberikan klarifikasi rinci mengenai biang kerok penurunan poin anaknya.
Orangtua serbu Disdik Jabar, laporkan keanehan SPMB Maung 2026
Tak puas hanya di tingkat sekolah, Shopie mengungkapkan bahwa pihak sekolah kemudian mengarahkannya untuk melayangkan pengaduan ke Dinas Pendidikan Jawa Barat. Di sinilah kejutan muncul: ternyata banyak orangtua murid lain yang mengalami nasib serupa.
“Kami pun berduyun-duyun ke sana (Disdik Jabar), dan ternyata orangtua yang kasusnya sama itu banyak. Bahkan banyak ketua OSIS, khususnya dari SMA Maung ini yang gugur, terutama posisi 50 ke bawah itu rawan banget. Akhirnya, kami melapor bersama-sama ke helpdesk Disdik dan bertemu langsung dengan Pak Dudung,” cerita Shopie dengan nada lega bercampur penasaran.
Ia melanjutkan, “Di sana, pertanyaan saya mulai terjawab. Mereka menjelaskan bahwa menurut juklak juknis terbaru, Ketua OSIS itu dihitung setara juara 1 provinsi dengan bobot 220. Tapi, pertanyaan baru langsung meluncur dari mulut saya: kalau memang 220, lantas kenapa di awal bisa tampak 305? Angka 305 itu kan setara juara 1 nasional, tapi tiba-tiba anjlok menjadi juara 1 provinsi. Nah, ini yang kembali menjadi tanda tanya besar bagi kami.”
Shopie pun mendesak keras, “Kami juga mempertanyakan, kenapa ada perubahan juklak juknis di injury time alias menit-menit akhir pada tanggal 4 Juni 2026, padahal berdasarkan timeline SPMB Maung, tanggal segitu sudah masuk rapat dewan guru dan kepala sekolah? Ini sangat janggal.”
Menurut penilaian Shopie, penjelasan teknis mengenai bobot poin Ketua OSIS justru hanya memunculkan rentetan pertanyaan baru yang tak kalah pelik. Ia dengan lantang mempertanyakan alasan di balik perubahan poin yang semula disebut setara prestasi tingkat nasional kemudian berubah drastis menjadi setara juara 1 tingkat provinsi.
Juklak juknis SPMB Maung dipertanyakan, orangtua merasa dipermainkan?
Sorotan paling tajam yang dilontarkan Shopie adalah dugaan kuat adanya perubahan juklak juknis pada babak akhir proses SPMB Maung. Menurut perspektifnya, modifikasi aturan ini menjadi sangat fatal karena terjadi setelah masa verifikasi resmi berakhir.
Dengan suara lantang, Shopie kembali mempertanyakan mengapa perubahan mencolok itu muncul di saat tahapan seleksi seharusnya sudah memasuki rapat dewan guru dan kepala sekolah. Ironisnya, ia mengaku pertanyaan krusial ini belum mendapatkan jawaban memuaskan dari pihak dinas.
“Kami kembali menggugat pertanyaan ini. Kenapa mereka tak memberi penjelasan yang gamblang? Kami pun mau tak mau terpaksa memiliki asumsi liar. Kami para orangtua kumpul berenam dan akhirnya sepakat untuk melapor ke Gedung Pakuan,” tutur Shopie dengan nada penuh tekad.
Ia melanjutkan, “Namun, nasib belum berpihak, kami belum sempat bertemu dengan Pak Dedi. Karena itu, kami mengambil inisiatif untuk pergi ke Lembur Pakuan di Subang. Di sana, kata orang, ada pos pengaduan. Kami pun nekat meluncur ke sana, dan alhamdulillah, ada tim Bapak KDM yang bersedia menerima kami dan meminta kami menceritakan seluruh kronologis kejadian. Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan bisa segera sampai ke meja pimpinan,” harapnya penuh optimisme.
Shopie mengungkapkan bahwa dirinya bersama rombongan orangtua siswa akhirnya nekat menyampaikan persoalan pelik ini ke Gedung Pakuan. Mereka pun rela meluangkan waktu mendatangi Lembur Pakuan di Subang setelah mendapat informasi penting tentang keberadaan pos pengaduan di sana.
Poin ketua OSIS dalam SPMB Sekolah Maung jadi sorotan, orangtua berang!
Dengan penekanan yang kuat, Shopie menegaskan bahwa akar keresahan para orangtua terutama berkutat pada poin Ketua OSIS yang katanya setara juara 1 provinsi dengan nilai 220. Menurut kalkulasinya, nilai tersebut sangat menentukan dan berpengaruh besar terhadap peluang seorang siswa dalam proses seleksi yang superketat.
Ia juga menilai, meskipun anaknya memiliki nilai rata-rata rapor yang sempurna, tetap akan sulit bersaing jika perubahan bobot poin yang merugikan ini diterapkan begitu saja. Shopie mengaku sudah membuat simulasi mandiri untuk melihat secara gamblang pengaruh bobot poin tersebut terhadap posisi siswa dalam seleksi. Hasilnya? Mengejutkan sekaligus mengecewakan.
Kasus panas ini membuat para orangtua berharap agar pemerintah daerah dan dinas terkait segera membuka suara dan memberikan penjelasan terbuka mengenai mekanisme penilaian SPMB Maung 2026. Transparansi dinilai bukan sekadar penting, melainkan sebuah harga mati agar para peserta dan orangtua memahami dasar perubahan poin, terutama jika perubahan itu berdampak langsung pada kelulusan atau kegagalan siswa dalam sistem penerimaan murid baru. Publik pun kini menunggu dengan napas tertahan. Akankah ada keadilan?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











