Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Debit Menurun, Kali Bekasi Kini Dipenuhi Sampah dan Bau Limbah Menyengat

BEKASI, Cinta-news.com – Baru-baru ini, kondisi Kali Bekasi di Jalan Mayor Madmuin Hasibuan, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, benar-benar menyita perhatian! Pasalnya, debit air sungai tersebut menyusut secara signifikan selama musim kemarau melanda wilayah ini. Akibatnya, sebagian dasar sungai yang biasanya tertutup air kini terlihat jelas, sekaligus memunculkan tumpukan sampah yang selama ini terendam dan tersembunyi di bawah aliran air.

Berdasarkan pantauan langsung pada Rabu (22/7/2026), pemandangan di sepanjang bantaran sungai sungguh memprihatinkan. Di sana, kita bisa melihat beragam jenis sampah seperti plastik, kayu, limbah rumah tangga, batu-batu sungai, hingga endapan lumpur tebal yang mengendap di berbagai titik. Bahkan, kondisi ini membuat sejumlah warga nekat berjalan hingga ke tengah sungai, karena kedalaman air di beberapa lokasi hanya mencapai lutut orang dewasa. Wah, benar-benar pemandangan yang jarang terjadi!

Akan tetapi, situasi berbeda justru terlihat di bagian hilir sungai. Di bawah Bendung Bekasi, aliran air masih tampak normal dan mengalir dengan cukup deras. Hal ini terjadi karena cadangan air memang sengaja ditahan di bendung untuk memenuhi kebutuhan irigasi pertanian dan menjamin pasokan air baku bagi masyarakat. Jadi, meskipun debit air menyusut di beberapa titik, kebutuhan pokok tetap terjamin.

Keluhan Warga: Bukan Cuma Surut, Bau Limbah dan Kematian Ikan Jadi Masalah Utama!

Bagi warga sekitar, fenomena air surut ini bukanlah hal baru dan sudah sering terjadi. Eman (50), salah seorang warga Kota Bekasi, mengungkapkan bahwa debit Kali Bekasi mulai menyusut sekitar dua pekan terakhir ini. Namun, yang paling mengganggu dan menjadi keluhan utama bukanlah surutnya air, melainkan bau limbah menyengat yang tiba-tiba muncul seiring menurunnya debit sungai. “Ini mengering karena memang lagi kemarau. Tahun kemarin juga begini. Kalau kering, biasanya muncul bau limbah. Udah tiga harian ini baunya,” ujar Eman dengan nada kesal saat ditemui pada Rabu (22/7/2026).

Lebih lanjut, Eman menduga kuat bahwa bau menyengat tersebut berasal dari limbah yang sengaja dibuang ke sungai ketika debit air sedang rendah. Menurutnya, jika tidak ada limbah yang masuk ke sungai, penyusutan debit air seharusnya tidak menimbulkan bau yang begitu mengganggu. Meskipun demikian, Eman mengakui bahwa kebutuhan air warga sejauh ini belum terganggu secara signifikan. Hanya saja, saat musim kemarau tiba, aliran air menjadi lebih lambat, sehingga warga membutuhkan waktu lebih lama untuk mengisi penampungan air di rumah. “Airnya jadi susah ngambilnya. Soalnya kan kering. Jadi kami harus nampung lebih dulu. Dan ini makan waktu lama dibanding saat kondisi normal,” keluhnya.

Bahkan, Eman juga mengungkapkan kejadian memprihatinkan yang terjadi beberapa hari lalu. Saat itu, sempat terjadi dugaan pencemaran yang menyebabkan air sungai berubah menjadi hitam pekat dan sejumlah ikan mati mendadak. “Kemarin ikan-ikannya pada mabok karena kena air limbah. Tapi pagi ini udah mendingan. Enggak terlalu hitam airnya,” jelasnya. Kejadian ini tentu semakin menambah kekhawatiran warga akan kualitas air Kali Bekasi.

Momen Surut Dimanfaatkan Warga untuk Mencari Ikan, tapi Was-was dengan Pencemaran!

Di sisi lain, penyusutan debit air justru menjadi berkah tersendiri bagi sebagian warga yang memanfaatkannya untuk mencari ikan. Sejumlah pemancing setia memenuhi tepian sungai, sementara warga lainnya sibuk menjala ikan di bagian sungai yang dangkal. Salah satunya adalah Dani (35), seorang pemancing asal Kemayoran, Jakarta Pusat. Dengan antusias, ia mengaku datang ke Kali Bekasi setelah mendapat informasi dari komunitas pemancing bahwa air sungai sedang surut dan ikan lebih mudah ditemukan. “Ya kalau pas kering gini ikannya jadi lebih kelihatan. Lebih mudah ditangkap karena airnya surut, jadi bisa dapat banyak,” kata Dani bersemangat.

Menurut Dani, hasil tangkapan pada musim kemarau seperti ini bisa mencapai dua hingga tiga kilogram per hari. Namun, di balik kegembiraan itu, ia tetap mengaku khawatir dengan pencemaran limbah yang kerap terjadi. “Kalau ada limbah, ikannya jadi pada mabok. Banyak yang mati juga. Dan kalau udah tercemar, enggak bisa dikonsumsi ikannya,” ujarnya dengan nada cemas. Selain limbah, Dani juga menyoroti banyaknya sampah yang mengendap ketika debit air menyusut. Ia berharap pemerintah bisa lebih serius membersihkan Kali Bekasi. “Harapan saya, Kali Bekasi bisa lebih dibersihkan agar sampah tidak terus menumpuk. Jadinya kan sungai lebih bersih, enggak bau, dan lingkungan di sekitar sungai menjadi lebih nyaman,” harapnya.

Langkah Cepat DLH dan KP2C: Investigasi dan Uji Laboratorium untuk Mengungkap Sumber Pencemar!

Merespons keluhan warga yang semakin meresahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi bersama Komunitas Peduli Sungai Cileungsi dan Cikeas (KP2C) langsung bergerak cepat. Mereka melakukan investigasi lapangan secara intensif terkait dugaan pencemaran di aliran Kali Bekasi. Tim gabungan ini melakukan penelusuran dari hulu Sungai Cileungsi hingga memasuki wilayah Kabupaten Bogor. Langkah ini diambil setelah ditemukan perubahan warna air menjadi hitam di kawasan pertemuan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas, yang merupakan hulu Kali Bekasi. Tim kemudian menyusuri sejumlah titik di sepanjang aliran sungai dan memeriksa beberapa saluran pembuangan yang diduga menjadi jalur masuk limbah ke badan sungai.

Selain itu, UPTD Laboratorium DLH Kota Bekasi segera mengambil sampel air Sungai Cileungsi untuk dianalisis secara mendalam. Tujuannya adalah untuk mengetahui kualitas air sekaligus mengidentifikasi karakteristik pencemar yang masuk. “Berdasarkan hasil penelusuran lapangan, indikasi awal menunjukkan bahwa sumber pencemaran berasal dari wilayah hulu,” ujar Kepala DLH Kota Bekasi, Kiswatiningsih, dengan tegas.

Namun, ia menegaskan bahwa temuan tersebut masih harus diverifikasi melalui uji laboratorium agar sumber pencemaran dapat dipastikan secara ilmiah. “Investigasi akan terus dilanjutkan hingga sumber pencemaran dapat dipastikan,” tambahnya. Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi dasar penentuan langkah lanjutan, termasuk koordinasi dengan pemerintah daerah atau instansi terkait apabila sumber pencemaran berada di luar wilayah administrasi Kota Bekasi. Dengan begitu, diharapkan pelaku pencemaran bisa segera diidentifikasi dan ditindak.

BPBD Bekasi Beri Jaminan: Pasokan Air Baku Aman, Tak Ada Laporan Kekeringan!

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kota Bekasi, Wiratma, segera memberikan klarifikasi kepada masyarakat. Ia memastikan bahwa penyusutan debit Kali Bekasi tidak berdampak pada pasokan air baku masyarakat. Menurutnya, fenomena ini hampir selalu terjadi setiap musim kemarau, terutama ketika hujan tidak turun selama beberapa pekan. Karena itu, masyarakat diminta tidak perlu khawatir berlebihan. “Sampai saat ini BPBD Kota Bekasi belum menerima laporan dari masyarakat terkait kekeringan yang menyebabkan sumber air tanah mengering atau sumur tidak lagi mengeluarkan air,” ujarnya dengan meyakinkan.

Wiratma menjelaskan bahwa kondisi sungai yang tampak menyusut hanya terjadi di bagian hilir atau sebelah utara Bendung Bekasi. Sedangkan cadangan air di bendung masih tersedia melimpah untuk kebutuhan irigasi dan penyediaan air baku. “Di Bendung Bekasi masih terdapat cadangan air karena memang air ditahan untuk kebutuhan irigasi, suplai air baku PDAM, dan kebutuhan lainnya. Jadi sangat wajar kalau terlihat kering setelah bendung,” jelas Wiratma.

Ia menambahkan, pasokan air baku PDAM masih aman karena berasal dari Bendung Bekasi yang memiliki cadangan air dan mendapat tambahan suplai dari Kalimalang. Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga September atau Oktober, BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak. “Mobil tangki kami sudah siap melakukan dropping air bersih kapan pun dibutuhkan,” tegas Wiratma, mengajak warga untuk segera menghubungi layanan darurat 112 apabila mengalami kekurangan air bersih.Dengan begitu, masyarakat tetap tenang dan tidak perlu panik menghadapi musim kemarau tahun ini.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *