Cinta-news.com – Heboh kabar pemindahan kantor pusat Badan Gizi Nasional (BGN) ke Gedung Graha Merah Putih akhirnya bikin Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) Dony Oskaria angkat bicara. Nah, siapa sangka, di balik keputusan yang sempat bikin warganet bertanya-tanya ini, ternyata ada alasan bisnis yang cukup masuk akal, lho!
Menurut Dony, pemindahan kantor BGN ke Gedung Graha Merah Putih ini sebenarnya merupakan bagian dari optimalisasi aset PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Jadi, bukan sekadar pindah kantor biasa, ya! Ia pun menegaskan bahwa aksi korporasi tersebut telah melalui sejumlah pertimbangan dan kajian internal Telkom. Wah, serius banget, kan?
“Itu kan aksi korporasi. Yang pertama adalah bahwa tentu sudah ada pertimbangan,” kata Dony saat ditemui di Jakarta, Jumat (11/9/2026). Pernyataan ini langsung menepis berbagai spekulasi yang beredar di tengah masyarakat.
Tak hanya itu, Dony juga mengingatkan agar publik tidak langsung menilai negatif setiap langkah bisnis yang dilakukan perusahaan pelat merah. “Jadi harus dilihat, kadang-kadang kita melihatnya ada isu-isu yang negatif. Ini optimalisasi aset, pasti sudah dilakukan, sudah dikaji tentu oleh Telkom untuk melakukan itu,” tambah dia. Hmm, masuk akal juga, ya!
Skema Sewa yang Bikin Tenang
Nah, yang paling bikin lega, Dony memastikan bahwa Gedung Graha Merah Putih Telkom disewakan berdasarkan harga pasar yang berlaku saat ini. Artinya, transaksi itu tidak akan merugikan Telkom sama sekali. Gimana, makin adem kan mendengarnya?
“Tapi yang paling penting bahwa semua transaksi itu tentu harus berdasarkan harga pasar. Karena Telkom itu adalah perusahaan terbuka. Tidak mungkin dilakukan sesuatu yang merugikan Telkom. Itu yang paling penting,” ujarnya dengan tegas. Dalam bahasa santai, intinya Telkom nggak mau rugi, dong!
Dony pun menjelaskan bahwa persewaan aset untuk digunakan sebagai kantor merupakan transaksi bisnis yang normal dilakukan korporasi. Apalagi, Telkom merupakan perusahaan terbuka sehingga setiap keputusan bisnis harus melalui kajian internal dan pertimbangan para pemegang saham. Maka, dalam hal ini minim adanya benturan kepentingan. Jadi, jangan khawatir berlebihan, ya!
“Jadi pasti akan terjadi berdasarkan transaksi bisnis yang normal. Itu yang paling penting ya,” beber Dony. Ia lalu memberi analogi sederhana yang mudah dipahami. “Jadi kalau misalkan saya punya gedung tidak efektif, ya daripada tidak efektif, maintenance-nya, PBB-nya, dan sebagainya tentu akan kita optimalkan. Dan ini tentu sudah melewati kajian oleh Telkom,” jelasnya lagi. Nah, logis banget kan? Daripada gedung nganggur dan tetap kena biaya perawatan, mending disewakan biar produktif!
Gedung Bersejarah Telkom yang Penuh Cerita
Mengutip arsip Direktori Pemerintahan RI 1998, Graha Merah Putih Telkom sebelumnya bernama Gedung Grha Citra Caraka. Jadi, gedung ini bukan sembarang gedung, lho! Ada sejarah panjang yang menyertainya.
Bila diperhatikan dengan seksama, arsitektur Grha Citra Caraka mirip dengan gedung yang lokasinya saling berdekatan yakni Gedung Widya Graha milik LIPI (kini BRIN) yang sama-sama berbentuk elips. Unik, kan? Sementara mengutip situs Setiap Gedung Punya Cerita, lantaran Gedung LIPI lebih dulu dibangun, maka desain Grha Citra Caraka disesuaikan agar tercipta keharmonisan di kawasan Jalan Gatot Subroto. Terlebih saat itu, kawasan tersebut belum banyak berdiri bangunan tinggi. Jadi, bisa dibilang gedung ini adalah salah satu pionir di kawasannya!
Dari data Skycrapercenter, Grha Citra Caraka yang kini berganti nama menjadi Graha Merah Putih Telkom, memiliki ketinggian 74,5 meter atau 244 kaki. Jumlah lantainya mencapai 16 lantai, menjadikannya salah satu gedung tertinggi di kawasan Gatsu Jakarta Selatan di era tahun 1990-an. Keren banget, kan? Bayangkan, di zamannya, gedung ini sudah jadi ikon!
Sebelum digunakan sebagai perkantoran Telkom Group, Grha Citra Caraka adalah kantor Wilayah Telekomunikasi Perumtel (Perusahaan Umum Telekomunikasi), cikal bakal Telkom Indonesia. Jadi, gedung ini benar-benar saksi bisu perjalanan Telkom dari masa ke masa.
Seiring berkembangnya waktu dan perubahan besar-besaran pada struktur perusahaan Telkom Group yang memiliki banyak anak-cucu perusahaan, peruntukan Grha Citra Caraka juga ikut berubah. Karena kebutuhan area perkantoran yang semakin meningkat, Telkom Indonesia kemudian membangun dua gedung pencakar langit di belakang Grha Citra Caraka. Wah, makin megah saja kawasan ini!
Telkom membangun pertama yang kemudian dinamakan Telkomsel Smart Office, setinggi 105 meter dengan 21 lantai, selesai dibangun pada tahun 2015. Sesuai namanya, Telkomsel Smart Office digunakan sebagai kantor pusat anak usahanya, Telkomsel. Lalu gedung terbesar sekaligus tertinggi adalah Telkom Landmark Tower. Ketinggiannya mencapai 220 meter, mulai digunakan pada tahun 2018. Gedung ini dirancang sebagai kantor pusat operasional baru Grup Telkom Indonesia. Bener-bener pusat kekuatan Telkom, nih!
Meski Telkom Landmark Tower sudah beroperasi, Telkom masih mempertahankan kantor pusat resminya di Jalan Japati, Bandung. Jadi, jangan bingung ya, kantor pusat resmi tetap di Bandung!
Ketiga bangunan dalam satu kawasan di Gatot Subroto itu kemudian diberi nama The Telkom Hub. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada tahun 2018. The Telkom Hub diklaim sebagai pusat pertumbuhan budaya inovasi digital untuk manajemen jasa dan infrastruktur pintar, untuk pusat pengembangan enterpreneur digital, untuk menjadi pusat edukasi sosial dan teknologi, untuk menjadi pusat layanan pengguna digital, dan termasuk ada masjid pintar. Lengkap banget, kan?
“Tapi saya harus ingatkan bahwa pekerjaan berat Telkom justru baru dimulai. Jangan sampai heboh di awal lalu senyap ke depannya,” kata Presiden Jokowi saat meresmikan Telkom Hub pada 2 November 2018 dikutip laman Sekretariat Kabinet. Pesan ini pun masih relevan hingga sekarang, mengingat Telkom terus dituntut untuk berinovasi dan mengoptimalkan asetnya.
Jadi, kesimpulannya, pemindahan kantor BGN ke Gedung Graha Merah Putih ini bukanlah hal yang perlu digegerkan. Semua sudah melalui kajian matang, berdasarkan harga pasar, dan bertujuan untuk optimalisasi aset. Yang penting, Telkom sebagai perusahaan terbuka tetap untung, dan gedung bersejarah itu tetap produktif. Setuju, kan?
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











