PONTIANAK, Cinta-news.com – Fenomena kemunculan gumpalan cacing merah secara mendadak dalam jumlah amat fantastis di sepanjang aliran Sungai Kapuas, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, rupanya nggak cuma sukses bikin warga setempat ketakutan setengah mati.
Namun, di balik kehebohan masal yang sempat bikin merinding warga ini, makhluk kecil yang sebetulnya masuk dalam kelompok cacing laut jenis Polychaeta tersebut justru menyimpan potensi bisnis luar biasa yang amat menggiurkan buat kemajuan sektor budidaya perikanan.
Selanjutnya, seorang pakar terkemuka di bidang Ekologi Perairan dan Sistematika Hewan yang juga aktif mengabdi sebagai dosen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Tanjungpura (Untan), Dr. Junardi, S.Si., M.Si., membocorkan bahwa para petambak sebetulnya bisa mengolah cacing Polychaeta ini menjadi pakan alami super bernutrisi tinggi untuk memicu pertumbuhan cepat udang vaname serta berbagai jenis ikan laut.
Bahkan, Dr. Junardi menegaskan bahwa para pemilik tambak udang komersial berani merogoh kocek cukup dalam demi mendapatkan pasokan pakan alami berkualitas ini, di mana harga jualnya di tingkat pasar tambak sanggup menembus angka fantastis hingga sekitar Rp100.000 per kilogramnya.
“Saran aku warga jangan keburu panik berlebihan dulu sih, soalnya cacing ini sebetulnya nggak berbahaya sama sekali buat manusia. Malahan, para pembudidaya bisa langsung memanfaatkannya sebagai pakan alami unggulan buat pakan ternak, khususnya pakan udang vaname maupun pakan ikan laut. Itu kalau dibawa ke kawasan tambak-tambak besar pasti langsung laku keras, per kilonya aja bisa tembus Rp100.000-an,” ujar Dr. Junardi saat membeberkan analisis ilmiahnya pada Rabu (21/10/2026).
Bikin Syok! Hewan Yang Dikira Hama Ini Ternyata Harta Karun Berharga Buat Tambak!
Selanjutnya, Dr. Junardi kembali memaparkan secara rinci bahwa para pembudidaya perikanan modern memang sangat mengandalkan keberadaan cacing laut dari kelompok Polychaeta ini sebagai menu pakan alami paling ideal, terutama untuk mempercepat fase pembesaran udang vaname (Litopenaeus vannamei) serta berbagai varietas ikan laut bernilai ekonomi tinggi.
Mengingat komoditas udang vaname kini menjadi primadona ekspor utama yang menyumbang keuntungan sangat berlimpah dalam bisnis budidaya perikanan, alhasil keberadaan cacing laut berprotein tinggi ini langsung menjadi incaran manis para pengusaha tambak di berbagai penjuru daerah.
Kendati demikian, kita semua harus tetap jeli memilah informasi ini, sebab taksiran harga mahal yang diungkapkan Dr. Junardi tersebut secara spesifik hanya mengacu pada kebutuhan kriteria tambak tertentu, sehingga pengujian lanjutan masih perlu berjalan biar memastikan apakah seluruh cacing merah di Sungai Kapuas ini bisa langsung laku dijual dengan patokan harga seratus ribu rupiah tersebut.
Invasi Cacing Laut Misterius Bikin Warga Takut Mandi!
Awal mula kegemparan besar ini meletus ketika warga yang bermukim di sekitaran Gang Harapan, Jalan Tanjung Harapan, Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, mendadak geger dan amat resah akibat fenomena munculnya jutaan cacing merah di perairan muara.
Sebab, masyarakat sekitar menyaksikan langsung pemandangan mengerikan berupa gumpalan koloni cacing merah yang saling menggeliat tebal mengapung di permukaan air sungai tempat warga biasa beraktivitas sehari-hari.
Akibatnya, sejumlah warga yang nekat beraktivitas di sungai langsung mengeluhkan rasa gatal-gatal hebat dan perih pada kulit usai terkena kontak fisik secara tak sengaja dengan organisme tersebut, hingga akhirnya membuat warga merasa trauma berat dan takut untuk sekadar mandi di aliran Sungai Kapuas.
Lantas, demi menjawab rasa penasaran publik sekaligus mengatasi keresahan warga, tim akademisi segera mengambil beberapa sampel air sungai beserta spesimen cacing misterius tersebut untuk menjalani proses identifikasi ilmiah secara ketat di Laboratorium Program Studi Biologi FMIPA Untan Pontianak.
Kemudian, Kepala Jurusan Biologi FMIPA Untan, Dr. Dwi Gusmalawati, S.Si., M.Si., mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil identifikasi mikroskopis teruji, sampel makhluk yang bikin geger itu dipastikan valid masuk dalam kelompok Polychaeta, yakni famili cacing yang habitat alaminya berada di ekosistem perairan laut.
“Hasil pemeriksaan mikroskop kami membuktikan kalau spesimen cacing itu memang termasuk Polychaeta yang merupakan cacing laut. Kemunculannya di sungai terjadi karena adanya fenomena dorongan air laut yang masuk ke alur sungai sehingga kondisi air berubah menjadi asin, dan otomatis cacing-cacing tersebut ikut berkumpul di situ,” terang Dr. Dwi saat menjelaskan kronologi fenomena unik tersebut.
Di samping itu, Dr. Junardi ikut memperjelas bahwa pergerakan cacing laut hingga sanggup menembus alur perairan tawar ini sangat erat hubungannya dengan peristiwa pasang air laut yang cukup kuat, yang lantas melonjakkan kadar garam atau salinitas air di wilayah muara hingga aliran Sungai Kapuas.
Selain itu, Dr. Junardi juga langsung menenangkan kekhawatiran masyarakat luas dengan menegaskan bahwa ledakan populasi cacing laut dalam jumlah banyak ini sama sekali tidak menandakan adanya indikasi pencemaran limbah organik berbahaya pada ekosistem perairan sungai tempat warga tinggal.
Bahaya Tersembunyi! Jangan Coba-Coba Sentuh Cacing Ini Sembarangan!
Walaupun hasil pengujian sampel cacing Polychaeta di laboratorium terbukti tidak berbahaya buat keselamatan manusia, para ahli biologi tetap mengimbau masyarakat luas untuk selalu ekstra waspada saat menjumpai koloni organisme asing yang belum teridentifikasi pasti di sungai.
Pasalnya, Dr. Junardi membeberkan fakta krusial bahwa gumpalan cacing yang muncul dalam jumlah jutaan tersebut tidak selalu murni terdiri dari satu jenis spesies saja, melainkan berpotensi terselip jenis cacing berbahaya lain seperti cacing api atau fireworm yang mempunyai bulu-bulu halus beracun yang bisa memicu sensasi gatal terbakar atau tersengat saat tersentuh tangan.
Oleh sebab itu, pakar ekologi perairan ini menduga kuat bahwa efek gatal-gatal panas yang dialami oleh sebagian warga Banjar Serasan sebenarnya muncul akibat ketidaksengajaan bersentuhan dengan cacing api misterius tersebut, bukannya dipicu oleh jenis cacing Polychaeta yang mendominasi isi sampel pemeriksaan laboratorium.
Akibat adanya potensi bahaya dari sengatan bulu cacing api tersebut, para peneliti menyarankan masyarakat untuk sementara waktu menghindari kontak fisik secara langsung dengan gumpalan organisme yang belum teridentifikasi jelas.
Akhirnya, kabar mengenai potensi pemanfaatan cacing Polychaeta sebagai pakan alami super bergizi bagi industri budidaya udang dan ikan ini berhasil memberikan sudut pandang baru yang amat menguntungkan bagi masyarakat sekitar Sungai Kapuas.
Meskipun begitu, para peneliti Untan tetap menggarisbawahi pentingnya langkah identifikasi spesies secara teliti sebelum warga terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa seluruh cacing merah yang mendadak muncul di lokasi sungai tersebut memiliki nilai jual ekonomis yang sama tingginya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
