MAGETAN, Cinta-news.com — Malapetaka hebat mendadak menghantam para pahlawan pangan di kawasan Kabupaten Magetan, Jawa Timur, hingga membuat kehidupan para petani di sana terancam gulung tikar akibat serbuan gelombang hama tikus yang sangat ganas merusak hamparan sawah dan ladang mereka.
Bahkan, tanaman padi serta jagung yang mulanya diproyeksikan bakal menghasilkan limpahan ruah rezeki kini hancur berkeping-keping karena digerogoti gerombolan tikus tanpa ampun, sehingga para petani terpaksa memeras keringat jauh lebih keras hanya demi mengumpulkan sisa-sisa hasil bumi yang masih bisa diselamatkan.
Panen Anjlok Parah: Sawah Seperempat Hektar Cuma Menyisakan Seperempat Hasil!
Selanjutnya, penderitaan pahit ini dirasakan langsung oleh Pak Jumiran, seorang petani tangguh asal Desa Sukowinangun, Kecamatan Magetan, Kabupaten Magetan, yang harus menyaksikan petak sawah seluas seperempat hektar milik garapannya luluh lantak digempur pasukan pengerat tersebut dalam waktu amat singkat.
Lantas, Pak Jumiran menceritakan bahwa dalam kondisi iklim dan musim yang normal, petak lahan produktif tersebut biasanya sanggup menyumbangkan hasil panen melimpah hingga menembus angka dua ton gabah segar. Namun sayangnya, gempuran tikus yang brutal kali ini membuyarkan impian tersebut dan menyisakan porsi panen yang diperkirakan hanya tinggal seperempat bagian saja dari potensi aslinya.
“Biasanya kalau kondisi tanah dan cuaca lagi normal, kita bisa dengan mudah mengantongi panen sampai dua ton. Tapi kalau situasinya hancur seperti sekarang, ya paling cuma tersisa seperempatnya saja yang bisa dibawa pulang,” ucap Pak Jumiran dengan nada pasrah saat ditemui langsung di tengah petak sawahnya, Kamis (22/10/2026).
Akibatnya, proses pemetikan hasil pertanian yang biasanya berlangsung penuh suka cita kini berubah menjadi pekerjaan yang amat menyiksa serta menguras tenaga bagi para pekerja lapangan. Pak Jumiran terpaksa harus memilah tangkai demi tangkai secara ekstra teliti demi mengamankan bulir-bulir tua yang selamat, sementara sebagian besar batangnya sudah roboh membusuk akibat digerek hama pengerat tersebut.
“Oleh karena itu, kita terpaksa memanen dengan susah payah dan ekstra hati-hati. Kita mesti telaten memilah mana tanaman yang benar-benar sudah tua, sembari mengamati beberapa batang yang mulai mencoba tumbuh kembali,” ungkap beliau saat menceritakan perjuangan beratnya di sawah.
Terkuak Pemicu Invasi: Pola Tanam Tak Serentak Bikin Modal Sewa Amblas Rp 10 Juta
Lebih lanjut, Pak Jumiran membeberkan fakta bahwa tanda-tanda invasi kawanan tikus tersebut sebenarnya mulai nampak secara agresif tepat pada saat bulir-bulir tanaman mulai bermunculan di tangkai. Bahkan tanpa ragu sedikit pun, gerombolan tikus yang kelaparan itu turut membabat habis tanaman muda yang baru saja tumbuh mekar di area sekitarnya.
Oleh sebab itu, beliau menduga kuat bahwa kebiasaan bercocok tanam para petani yang kurang serentak menjadi pemicu utama mengapa gelombang serangan pengerat tersebut menjadi sangat pekat dan terkonsentrasi penuh pada lahan-lahan tertentu saja.
“Maka dari itu, untuk mengantisipasi keganasan hama tikus ini, pemicu utamanya adalah pola tanam kita yang tidak serentak. Seharusnya kita semua menanam secara bersamaan, supaya persebaran serangan tikus bisa terbagi rata dan tidak menggerogoti satu hamparan sawah saja sampai habis,” tambahnya penuh harapan.
Bahkan, Pak Jumiran menegaskan bahwa teror hama pengerat pada periode kali ini terasa jauh lebih ganas serta merusak ketimbang musibah serupa pada musim-musim tanam sebelumnya. Alhasil, beliau mengalkulasikan angka kerugian finansial yang menimpanya sudah membengkak hingga menyentuh Rp 10 juta, sebuah nilai yang amat mencekik mengingat sawah yang beliau olah merupakan lahan sewaan yang menuntut biaya operasional tinggi.
“Pasti rugi besar, mas. Kalau dijumlahkan secara keseluruhan, modal yang amblas bisa mencapai Rp 10 jutaan, padahal sampai detik ini saya sendiri belum sempat melaporkan kejadian tragis ini ke pihak dinas pertanian setempat,” keluhnya dengan nada getir.
Teror Pasukan Nokturnal Desa Turi: Melahap Bonggol Jagung Saat Harga Sedang Puncak-Puncaknya
Sementara itu, gelombang kepanikan serupa tidak hanya menerpa para petani padi, melainkan juga menyebar cepat dan meresahkan para penggarap ladang jagung di kawasan Desa Turi, Kabupaten Magetan. Perangkat Desa Turi, Suprianto, memaparkan fakta mengejutkan bahwa invasi tikus yang berlangsung tanpa henti selama dua bulan belakangan telah meluluhlantakkan sekitar 40 persen dari total 30 hektar hamparan ladang jagung warga.
Lebih memprihatinkan lagi, beliau menerangkan bahwa kawanan pengerat tersebut melahap bagian paling vital tanaman, mulai dari ujung tongkol yang segar hingga menggerogoti habis bagian bonggol dalam, sehingga ribuan tanaman jagung rusak total dan sama sekali tidak bisa dipanen. Di samping itu, beberapa tanaman yang masih tampak berdiri tegap pun dipastikan bakal mengalami kemerosotan volume produksi yang amat drastis.
Padahal, menurut Pak Suprianto, warga desa sejatinya tidak tinggal diam dan telah mengerahkan berbagai jurus perlawanan secara mandiri, termasuk menyebar racun tikus skala besar di sekitar areal perladangan. Sayangnya, beragam taktik perlawanan individual tersebut dinilai gagal total lantaran tidak dieksekusi secara terorganisir dan kompak oleh seluruh warga.
“Sebab, kawanan hama pengerat itu selalu bersembunyi rapi di dalam celah-celah lubang galengan atau pematang sawah yang tersembunyi. Meskipun para petani sudah rajin menebar racun, langkah itu tetap tidak mempan karena masyarakat bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi,” jelas Pak Suprianto menguraikan kelemahan strategi warga.
Di samping itu, beliau menyoroti pola pergerakan tikus yang cenderung melancarkan agresi secara sembunyi-sembunyi pada saat larut malam, yakni ketika area perladangan telah sepi dari aktivitas manusia. Akibat fenomena nokturnal ini, para petani kesulitan mendeteksi arah serangan awal sekaligus gagal menerapkan tindakan pencegahan dini secara presisi.
Kemudian, Pak Suprianto kembali menekankan bahwa tingkat keparahan bencana hama kali ini merupakan yang paling ekstrem sepanjang sejarah pertanian desa, hingga mengejutkan banyak pihak. Padahal, pada saat bersamaan, harga komoditas jagung di pasaran justru sedang berada pada puncak kejayaannya dengan melambung tinggi menembus angka Rp 7.000 per kilogram.
“Sungguh mengurut dada, bayang-bayang gagal panen total kini berada di depan mata, padahal harga jual jagung di tingkat pengepul sedang sangat memikat hati,” tuturnya dengan penuh kekecewaan.
Oleh karena itu, seluruh komunitas petani sangat mengharapkan uluran tangan serta langkah konkret dari pihak pemerintah daerah untuk segera turun ke lapangan dan memimpin aksi pembasmian hama secara massal dan serentak. Langkah tanggap darurat ini dipandang sebagai harga mati agar kehancuran ekonomi tidak kian meluas, sekaligus melindungi jaminan ketahanan pangan pada musim tanam mendatang.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
