BRASILIA, Cinta-news.com – Negeri Samba benar-benar naik pitam! Pemerintah Brasil dengan tegas mencoret izin masuk bagi dua petinggi Amerika Serikat. Langkah berani ini dipicu kekhawatiran Presiden Luiz Inacio Lula da Silva yang mencium bau busuk intervensi asing di tengah panasnya suhu politik menjelang Pemilu Presiden Brasil yang bakal bergulir pada Oktober mendatang.
Kecurigaan Brasil bukan isapan jempol belaka. Mereka menilai kedatangan kedua pejabat Negeri Paman Sam itu bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan bagian dari skenario jitu untuk menggerogoti kepercayaan publik terhadap sistem pemungutan suara elektronik yang selama ini menjadi tulang punggung demokrasi mereka. Namun, Washington dengan sigap membantah habis-habisan tuduhan tersebut. Mereka ngotot bahwa kunjungan itu murni agenda rutin tanpa maksud tersembunyi.
Brasil Menolak Visa Dua Pejabat AS
Merujuk laporan The Wall Street Journal pada Senin (27/7/2026), Kementerian Luar Negeri Brasil secara mengejutkan menolak visa bagi Riley M Barnes yang menjabat sebagai asisten menteri luar negeri AS dari Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Perburuhan, serta Samuel Samson selaku deputi asisten menteri luar negeri AS.
Pemerintah berdalih bahwa kedua pejabat itu sedianya bakal bertandang untuk membahas isu integritas pemilu, kebebasan beragama, serta kebebasan berekspresi. Akan tetapi, otoritas di Brasilia justru ketar-ketir bahwa kunjungan itu bisa menjadi bumerang yang merusak kepercayaan masyarakat terhadap mesin pemungutan suara elektronik menjelang hari pencoblosan.
Sumber terdekat dengan Presiden Lula membocorkan bahwa pemerintah yakin keras rencana kunjungan ini merupakan bagian dari operasi terkoordinasi antara keluarga Bolsonaro—terutama Eduardo Bolsonaro yang kini bercokol di AS—bersama rezim Trump. Tujuannya gamblang: mendiskreditkan hasil pemilu jika kandidat sayap kanan Flavio Bolsonaro harus menelan kekalahan di Oktober nanti.
Tak mau kalah, Departemen Luar Negeri AS langsung melepaskan tembakan balasan. Dalam pernyataan resminya, Washington menegaskan bahwa tuduhan delegasi mereka bertujuan merusak proses demokrasi Brasil adalah kebohongan besar yang tak berdasar. Mereka bersikukuh bahwa kunjungan tersebut semata-mata untuk memperkuat kerjasama bilateral, bukan mencampuri urusan dalam negeri.
Lula Makin Syak Wasangka Ada Upaya Intervensi Asing
Kekhawatiran pemerintah Brasil kian menjadi-jadi setelah Presiden Lula mencium adanya gerakan terselubung dari pemerintahan Trump yang berkolaborasi dengan jaringan pemimpin sayap kanan Amerika Latin. Mereka diduga tengah memainkan kartu untuk mempengaruhi arah demokrasi di negara terbesar Amerika Selatan tersebut.
Dengan lantang, Lula menyatakan bahwa masa depan harus sepenuhnya ditentukan oleh rakyat Brasil, tanpa ada campur tangan asing yang tak diundang. Dalam opini tajamnya yang dimuat The Washington Post, ia bahkan menuding AS memberikan tekanan ideologis yang meracuni hubungan bilateral kedua negara.
Fakta lain yang tak kalah pahit, Lula menyoroti bahwa ekspor Brasil ke AS anjlok ke titik terendah dalam hampir tiga dekade terakhir. Ironisnya, di saat yang bersamaan, perdagangan dengan China justru melesat dan kini menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai mitra dagang utama Brasil.
Tak hanya itu, pemerintah Lula juga menuding putra-putra mantan Presiden Jair Bolsonaro—Flavio, Eduardo, dan Carlos Bolsonaro—telah berkoordinasi dengan rezim Trump untuk mendongkrak agenda politik keluarga mereka. Caranya? Dengan terus-menerus menyerang kredibilitas sistem pemilu elektronik yang selama ini diakui keamanannya.
Ketegangan Diplomatik Melebar ke Argentina
Sengketa diplomatik ini ternyata tak berhenti di bibir pantai Atlantik. Ketegangan politik merembet hingga ke hubungan Brasil dengan Argentina yang tetangga. Pemerintah Brasil bahkan menarik pulang duta besarnya dari Buenos Aires sebagai bentuk protes keras setelah Presiden Javier Milei nekat menghadiri peluncuran kampanye Flavio Bolsonaro di Sao Paulo.
Dalam pidatonya yang kontroversial, Milei dengan kasar menyebut Lula sebagai pencuri korup. Ia juga mengajak seluruh kelompok konservatif Amerika Latin untuk bersatu padu melawan sosialisme. Tak cukup di situ, ia pun melontarkan kritik pedas kepada Hakim Mahkamah Agung Alexandre de Moraes yang memimpin penyelidikan terhadap Jair Bolsonaro.
Menteri Keuangan Brasil Dario Durigan sontak merespons dengan kecaman keras. Menurutnya, tindakan Milei sungguh tak terpuji. Seorang kepala negara yang datang tanpa pemberitahuan resmi, lalu menghina otoritas Brasil, mengkritik kebijakan ekonomi negara, dan terang-terangan berkampanye untuk kandidat tertentu jelas melanggar etika diplomatik.
Bumerang Politik? Analis Justru Nilai Untung bagi Lula
Di tengah panasnya perseteruan ini, sejumlah analis politik menilai bahwa memanasnya perselisihan dengan AS dan Argentina justru bisa menjadi berkah terselubung bagi Lula. Mereka berargumentasi bahwa kekhawatiran publik atas dugaan campur tangan asing dapat membangkitkan sentimen nasionalisme yang selama ini terpendam.
Jika skenario ini berjalan mulus, gelombang dukungan kepada petahana bisa melonjak signifikan menjelang pemilu yang diprediksi bakal berlangsung sengit dan ketat. Dengan kata lain, setiap serangan asing justru bisa menjadi panggung emas bagi Lula untuk memantapkan posisinya di mata rakyat.
Klaim Miring Soal Sistem Pemilu
Di sisi lain, Flavio Bolsonaro telah resmi ditetapkan sebagai calon presiden dari kubu sayap kanan. Hal ini terjadi setelah ayahnya, Jair Bolsonaro, divonis 27 tahun penjara karena terbukti bersekongkol merencanakan kuderah pasca-pemilu sebelumnya.
Menjelang penolakan visa pejabat AS, pemerintah Brasil mengaku menerima laporan mengejutkan bahwa Flavio sempat mengatakan kepada para diplomat asing bahwa mesin pemungutan suara elektronik Brasil diproduksi oleh perusahaan Venezuela, Smartmatic. Ia mengklaim hal itu membuat sistem rentan terhadap kecurangan.
Namun, pengadilan pemilu Brasil dengan tegas membantah klaim miring tersebut. Otoritas pemilu menegaskan bahwa Smartmatic tidak pernah memasok mesin pemungutan suara untuk pemilu Brasil. Berbagai pengamat internasional pun secara konsisten menyatakan bahwa sistem pemungutan suara elektronik Brasil terbukti aman dan terpercaya.
Dalam konvensi pencalonannya, Flavio berjanji bakal melanjutkan perjuangan politik ayahnya. Ia menuduh Mahkamah Agung Brasil bekerja sama dengan pemerintahan Lula untuk membungkam kebebasan berpendapat. Ia pun menyerukan agar negaranya segera dibebaskan dari belenggu kondisi tersebut.
Sementara itu, Presiden Argentina Javier Milei yang hadir dalam acara tersebut terus menggema seruan agar kelompok konservatif di kawasan bersatu padu mengalahkan sosialisme. Pernyataan ini makin memanaskan situasi dan mempertegas garis pertempuran politik yang kian membelah Amerika Latin.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











