JAKARTA, Cinta-news.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tengah menggenjot operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk mengisi waduk-waduk di seluruh penjuru tanah air. Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi fenomena El Niño kuat yang diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus–September 2026 mendatang.
Bayangkan, jika langkah antisipasi ini tidak segera dilakukan, maka ketersediaan air untuk sektor pertanian, pembangkit listrik, hingga kebutuhan rumah tangga masyarakat bisa terganggu selama musim kemarau. Oleh karena itu, pemerintah tidak tinggal diam dan langsung tancap gas melakukan berbagai upaya mitigasi.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin koordinasi erat dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kerja sama ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengisian sekitar 240 bendungan di Indonesia sebelum dampak El Niño semakin meluas dan mengancam berbagai sektor kehidupan.
Menurut Faisal, prioritas pengisian waduk difokuskan pada wilayah-wilayah yang diperkirakan bakal mengalami kekeringan paling parah. Dengan demikian, upaya yang dilakukan menjadi lebih terarah dan efektif.
“Tidak semua waduk kami isi, tetapi yang mengalami kekeringan paling besar menjadi prioritas utama. Sektor energi juga ikut terdampak karena berkurangnya ketersediaan air di PLTA sehingga memengaruhi pasokan listrik. Karena itu kami melakukan pengisian waduk secara masif,” ujar Faisal dalam Dialog Nasional “Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Niño Kuat”, Selasa (4/8/2026).
Siaga Darurat Pangan dan Energi
Pemerintah tidak hanya fokus pada pengisian waduk, tetapi juga menyiapkan berbagai langkah pendukung lainnya. Salah satunya adalah menyiapkan varietas tanaman yang tahan kekeringan dan melakukan penyesuaian kalender tanam. Upaya ini dilakukan untuk menekan risiko penurunan produksi pangan yang bisa mengancam ketahanan nasional selama El Niño berlangsung.
Suhu Laut Meningkat Drastis, Ini Tandanya!
BMKG mencatat adanya anomali suhu permukaan laut yang signifikan di Samudra Pasifik wilayah Niño 3.4. Indeksnya telah mencapai angka +1,59 yang menandakan bahwa El Niño 2026 berada pada kategori kuat dan berpotensi berkembang menjadi sangat kuat dalam beberapa bulan ke depan.
Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2025, Indonesia mengalami fenomena La Niña yang justru menyebabkan kemarau basah. Kini, roda berputar dan kita harus bersiap menghadapi musim kemarau yang lebih kering dari biasanya.
Perlu diketahui, dampak El Niño tidak akan terasa merata di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah selatan garis khatulistiwa, seperti Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Bali, Pulau Jawa, dan Sumatera bagian selatan diprediksi akan mengalami penurunan curah hujan paling signifikan. Kategori curah hujan di daerah-daerah tersebut diprediksi rendah hingga sangat rendah pada puncak musim kemarau nanti.
Cegah Karhutla Sejak Dini, Bukan Setelah Terbakar!
Selain menjaga cadangan air, operasi modifikasi cuaca juga diarahkan untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut yang sangat rentan terbakar saat kemarau panjang.
Yang menarik, pemerintah kini menerapkan pendekatan pencegahan yang lebih cerdas. Mereka membasahi lahan gambut sebelum terbakar, sebuah strategi yang sangat berbeda dengan penanganan pada El Niño 2015 yang lebih banyak dilakukan setelah kebakaran terjadi. Sungguh sebuah pembelajaran berharga dari pengalaman pahit di masa lalu!
Faisal menjelaskan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) secara berkala memantau tinggi muka air gambut. Apabila muka air turun hingga di bawah satu meter, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan segera melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan kelembapan lahan.
“Apabila api tidak bisa dipadamkan karena awan juga tidak dapat disemai, maka BNPB akan mengoordinasikan pemadaman melalui water bombing, penyemprotan, pembangunan kanal, serta bekerja sama dengan TNI, Polri, Basarnas, dan pemerintah daerah,” tegas Faisal.
Waduk Jadi Prioritas Utama untuk Air Baku
Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, menjelaskan bahwa berkurangnya curah hujan selama El Niño menyebabkan pasokan air ke waduk ikut menurun drastis. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan mengingat banyak sektor yang bergantung pada ketersediaan air.
Oleh karena itu, BMKG bekerja sama dengan pengelola waduk, Kementerian PU, dan berbagai instansi terkait untuk meningkatkan cadangan air melalui operasi modifikasi cuaca. Ini adalah bentuk kolaborasi lintas sektor yang sangat penting dalam menghadapi bencana kekeringan.
Menurut Seto, operasi modifikasi cuaca telah dilakukan di sejumlah daerah, termasuk Danau Toba yang megah, PLTA Poso di Sulawesi yang vital, serta Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di Jawa Barat yang menjadi tulang punggung perekonomian.
“Hari ini kami sedang melaksanakan operasi di DAS Citarum agar pasokan air untuk energi, pertanian, dan kebutuhan masyarakat tetap terjaga,” ujar Seto dengan penuh semangat.
Sisi Positif El Niño: Peluang Energi Terbarukan
Di sisi lain, BMKG menilai musim kemarau justru berpotensi meningkatkan produksi listrik dari pembangkit energi terbarukan berbasis surya dan angin. Ini adalah kabar baik di tengah ancaman kekeringan!
Menurut Faisal, berkurangnya tutupan awan akan meningkatkan intensitas penyinaran matahari sehingga mendukung kinerja pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) secara optimal. Sinar matahari yang lebih terik justru menjadi berkah bagi pengembangan energi bersih.
Namun, ia mengingatkan bahwa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) justru membutuhkan intervensi melalui pengisian waduk agar pasokan listrik tetap terjaga. Ini menjadi tantangan tersendiri yang harus diantisipasi dengan serius.
“Kalau energi surya dan energi angin mestinya pada musim kemarau kinerjanya lebih baik. Yang perlu intervensi justru energi yang bergantung pada sumber daya air,” ujar Faisal menjelaskan.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi, mengatakan bahwa intensitas sinar matahari yang meningkat selama El Niño menjadi peluang emas untuk mengoptimalkan produksi listrik dari PLTS.
“Dengan tutupan awan yang berkurang, intensitas sinar matahari menjadi lebih tinggi. Ini menjadi peluang untuk mengoptimalkan produksi listrik dari PLTS selama El Niño,” kata Nizhar dengan optimistis.
Siap Hadapi El Niño dengan Strategi Cerdas
Indonesia menghadapi tantangan besar dengan datangnya El Niño kuat pada 2026. Namun, dengan berbagai langkah antisipasi seperti pengisian waduk, modifikasi cuaca, kesiapan pangan, dan optimalisasi energi terbarukan, kita optimis dapat melewati masa sulit ini.
Kerja sama lintas sektor antara BMKG, Kementerian PU, KLH, BNPB, TNI, Polri, dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam menghadapi dampak El Niño. Dengan pendekatan yang lebih preventif dan cerdas, kita tidak hanya bertahan, tetapi juga bisa mengambil peluang dari situasi yang ada.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
