Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

B50 Akan Berlaku Juli, Dosen UMY Soroti Potensi Penurunan Performa pada Mesin Diesel Tua

YOGYAKARTA, Cinta-news.com – Hitung mundur menuju era energi baru di Indonesia kian terasa. Pemerintah dengan tegas mengumumkan bahwa mulai 1 Juli 2026, seluruh kendaraan diesel di tanah air wajib mengonsumsi bahan bakar biodiesel dengan campuran 50 persen dari minyak nabati, atau yang lebih dikenal dengan nama B50. Kebijakan ambisius ini tentu saja membawa angin segar bagi pengembangan energi terbarukan, namun di sisi lain, para pemilik kendaraan roda empat berbahan bakar solar, khususnya yang sudah berusia di atas 10 tahun, mulai gelisah. Seorang pakar dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pun angkat bicara memberikan peringatan keras.

Wahyudi, dosen Program Studi Teknik Mesin UMY yang kesehariannya bergelut dengan dunia otomotif dan energi, menilai bahwa langkah pemerintah ini pada dasarnya adalah sebuah terobosan positif. Menurutnya, kebijakan B50 secara jelas menunjukkan komitmen besar negeri ini dalam memperluas pemanfaatan sumber daya alam terbarukan untuk menggantikan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang semakin menipis. Namun, ia tidak bisa menutup mata bahwa ada satu aspek krusial yang kerap terabaikan dalam euforia energi hijau ini, yaitu kesiapan teknis dari kendaraan itu sendiri.

Ia menjelaskan bahwa agar implementasi B50 ini benar-benar berjalan mulus di lapangan, pemerintah dan pengguna kendaraan harus bersinergi. “Peningkatan porsi biodiesel ini adalah kabar baik karena menunjukkan bahwa kita semakin serius memanfaatkan energi terbarukan di sektor transportasi,” ujar Wahyudi ketika dikutip dari laman resmi UMY pada Sabtu (20/6/2026). Namun demikian, ia menekankan bahwa tanpa adanya perhatian khusus pada aspek teknis di tingkat pengguna, bukan tidak mungkin kebijakan ini malah akan menimbulkan masalah baru yang lebih rumit.

Kendaraan Berusia Tua Dianggap Paling Rentan dan Butuh Perawatan Ekstra!

Ketika kita berbicara tentang mesin diesel, Wahyudi menyoroti perbedaan fundamental antara mobil-mobil anyar yang keluar dari pabrik dan mobil-mobil lawas yang masih setia menemani aktivitas sehari-hari. Dia menjelaskan bahwa pabrikan otomotif saat ini sudah mulai mendesain kendaraan mereka dengan mempertimbangkan penggunaan bahan bakar nabati dalam kadar tinggi. Komponen mesin modern umumnya lebih adaptif terhadap perubahan karakteristik bahan bakar.

Lantas, bagaimana dengan kendaraan yang usianya sudah lebih dari satu dekade? Di sinilah letak kekhawatiran utama. Wahyudi menegaskan bahwa meskipun secara teknis kendaraan tua ini masih dapat “menelan” B50, mereka jelas tidak dirancang untuk itu. Kelompok kendaraan inilah yang paling berpotensi mengalami berbagai kendala teknis karena mereka terbiasa dengan “makanan” berupa solar murni (B0) atau campuran kadar rendah. Jika dipaksa untuk mengonsumsi B50, mesin akan memerlukan perawatan ekstra dan perhatian khusus dari pemiliknya.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Perbedaannya terletak pada karakteristik fisik dan kimia antara biodiesel dan solar murni. Biodiesel yang dihasilkan dari minyak sawit atau nabati lainnya memiliki tingkat kekentalan (viskositas) dan kepadatan (densitas) yang lebih tinggi dibandingkan dengan solar pada umumnya. Selain itu, nilai kalor atau energi yang dihasilkan per volume dari B50 juga sedikit lebih rendah. Perbedaan mendasar inilah yang akan dirasakan langsung oleh pengendara, terutama mereka yang mengandalkan mobil-mobil jadul kesayangan.

“Karakteristik biodiesel yang cenderung lebih kental dapat mengganggu proses atomisasi atau pengabutan bahan bakar di ruang bakar,” jelas Wahyudi dengan nada ilmiah. “Akibatnya, pada kendaraan yang lebih lama yang sistem injeksinya mungkin tidak sepresisi kendaraan baru, kondisi ini sangat berpotensi menyebabkan penurunan performa. Anda akan merasakan tenaga mesin yang lebih ‘loyo’ atau tarikan yang berkurang drastis dibandingkan saat mobil itu masih menghirup solar murni,” tambahnya.

Waspada! Endapan Menyumbat dan Komponen Karet Cepat Rusak

Bukan hanya masalah tenaga yang menurun, pengguna B50 pada kendaraan tua juga harus mulai waspada terhadap ancaman lain yang mengintai dari dalam tangki bahan bakar. Wahyudi mengingatkan bahwa peningkatan kadar biodiesel bisa memicu terbentuknya endapan atau kerak pada sistem bahan bakar. Efek ini akan terasa lebih parah jika kualitas biodiesel yang beredar di pasaran tidak terjaga dengan baik atau tercampur dengan kontaminan. Endapan ini akan mengganggu aliran bahan bakar ke mesin dan bisa berakibat fatal pada kinerja injektor.

Untuk mengantisipasi hal ini, Wahyudi memberikan saran pragmatis bagi para pemilik kendaraan diesel, terutama yang sudah berumur. Ia menyarankan agar mereka lebih sering atau lebih rutin memeriksa dan membersihkan filter bahan bakar. Jangan biarkan filter tersumbat karena hal itu hanya akan membuat pompa dan komponen lainnya bekerja lebih keras.

Selain masalah endapan, ada satu lagi komponen yang perlu dijadikan perhatian serius, yaitu komponen berbahan karet yang terdapat di sepanjang jalur sistem bahan bakar. Menurut Wahyudi, dampak penggunaan B50 terhadap ketahanan mesin secara umum memang tidak terlalu besar jika dilihat secara instan. Namun, dalam jangka panjang, kandungan biodiesel yang bersifat lebih pelarut dibanding solar murni bisa menyebabkan komponen karet seperti seal, gasket, dan selang bahan bakar mengembang atau mengalami keausan lebih cepat. Hal ini terutama terjadi pada kendaraan tua yang komponen karetnya mungkin sudah mulai rapuh termakan usia.

Siap-siap Dompet Lebih Tipis? Konsumsi BBM Diprediksi Bertambah!

Nah, ini dia kabar yang paling tidak mengenakkan bagi para pengendara. Wahyudi tidak memungkiri bahwa ada kemungkinan konsumsi bahan bakar kendaraan akan mengalami peningkatan ketika menggunakan B50. Mengingat nilai kalor B50 yang lebih rendah dari solar murni, mesin secara otomatis membutuhkan volume bahan bakar yang lebih banyak untuk menghasilkan tenaga yang sama persis. Singkatnya, untuk menempuh jarak yang sama, tangki B50 mungkin akan lebih cepat kosong dibandingkan jika anda mengisi dengan solar biasa.

Namun, di tengah berbagai risiko yang membayangi kendaraan tua, Wahyudi justru mengalihkan perhatiannya pada sebuah tantangan yang jauh lebih besar. Ia berpendapat bahwa sebenarnya “pekerjaan rumah” terbesar pemerintah dalam implementasi B50 ini tidak hanya terletak pada kesiapan pengguna kendaraan di jalan raya. Justru, akar permasalahan utama terletak pada hulu, yaitu proses produksi dan rantai distribusi biodiesel itu sendiri.

Menurutnya, menjaga konsistensi kualitas adalah segalanya. Jika kualitas biodiesel di setiap pompa bensin tidak seragam, maka dampak negatif pada kendaraan akan semakin sulit dikendalikan. Salah satu faktor risiko yang paling perlu diantisipasi adalah proses oksidasi. Biodiesel cenderung mudah teroksidasi jika terkena udara atau cahaya dalam waktu lama, yang dapat menurunkan mutunya selama masa penyimpanan maupun saat penyaluran ke konsumen.

“Sebenarnya, pengguna kendaraan di tingkat bawah tidak perlu melakukan modifikasi besar-besaran atau penyesuaian khusus untuk menyambut B50,” tutup Wahyudi menenangkan. “Yang jauh lebih krusial dan menjadi kunci utama adalah bagaimana kita bisa memastikan bahwa kualitas biodiesel yang beredar di seluruh Indonesia selalu dalam kondisi baik dan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Jika mutunya terjaga, maka potensi dampak negatif terhadap kendaraan, baik tua maupun baru, dapat kita minimalisir secara signifikan,” pungkasnya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *