Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

HNSI Pangandaran Minta Kompensasi dan Mangrove Imbas Tumpahan Batu Bara

PANGANDARAN, Cinta-news.com Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pangandaran melontarkan tuntutan keras kepada pihak terkait! Mereka mendesak adanya ganti rugi yang layak bagi para nelayan dan kelompok konservasi yang kini merasakan getah pahit dari tumpahan batu bara milik Tongkang Nautica 22 di perairan Pantai Sukaresik, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Suara lantang ini menggema bak gelombang pasang yang tak terbendung!

Ketua HNSI Pangandaran, Jeje Wiriadinata, dengan tegas menyampaikan desakan tersebut dalam rapat tindak lanjut penanggulangan bencana tumpahan batu bara. Pertemuan penting ini digelar bersama pemerintah daerah dan sejumlah instansi terkait di Gedung DPRD Kabupaten Pangandaran pada Senin (22/6/2026). Suasana rapat terasa panas dan penuh tekanan dari para nelayan yang merasa terancam mata pencahariannya.

Menurut pengakuan Jeje, insiden memalukan ini bukanlah perkara sepele yang bisa dianggap angin lalu. Pasalnya, tumpahan batu bara tersebut berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang yang mengerikan terhadap ekosistem pesisir. Padahal, kawasan ini selama ini menjadi sumber kehidupan utama bagi ratusan nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil laut.

“Saya yakin pemulihan lingkungannya bakal memakan waktu yang sangat lama. Kebayang nggak, kalau kami punya kawasan konservasi di situ, masa iya dibiarkan begitu saja? Mohon ada gantinya! Bapak-bapak harus segera membuat kompensasi untuk kami. Menanam mangrove di sekitar lokasi itu wajib hukumnya. Berikan kompensasi kepada mereka yang setiap hari beraktivitas langsung di sana!” ujar Jeje dengan nada tinggi penuh kekecewaan.

KHAWATIRNYA NELAYAN AKAN RACUN MEMATIKAN!

Jeje dengan lugas menegaskan bahwa tumpahan batu bara ini sama sekali tidak bisa disamakan dengan kecelakaan biasa. Bukan seperti truk yang tumpah di jalan raya, apalagi sekadar minyak goreng yang tumpah di dapur! Ada kekhawatiran mendalam terkait potensi pencemaran lingkungan yang jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkan.

“Ini bukan truk tumpah di jalan, bukan minyak tumpah di jalan. Lalu kenapa semua pihak sampai turun tangan? Karena ada kekhawatiran serius tentang pencemaran B3, arsenik, merkuri, nah itu yang bikin nyali kami ciut!” katanya dengan mimik muka yang serius.

Sebagai langkah antisipasi yang bijak, ia meminta pemerintah untuk tidak tinggal diam. Pemerintah diminta segera mengeluarkan imbauan resmi kepada seluruh nelayan agar untuk sementara waktu menghentikan aktivitas penangkapan ikan di sekitar lokasi kejadian. Keputusan ini harus diambil sebelum hasil pemeriksaan lingkungan selesai dilakukan secara menyeluruh dan tuntas.

“Saya mohon, tolong ada imbauan dari pemerintah agar jangan ambil ikan dulu di sebelah sana. Logam berat itu tidak akan pernah terurai, lho! Bisa-bisa ikan-ikan kita terkontaminasi dan membahayakan kesehatan masyarakat yang mengkonsumsinya,” ujarnya dengan nada memohon namun tegas.

Menurut penjelasan Jeje, mayoritas nelayan Pangandaran tergolong sebagai nelayan one day fishing atau nelayan harian. Mereka hanya melaut sejauh sekitar dua hingga tiga mil dari garis pantai. Kondisi geografis ini membuat mereka menjadi kelompok yang paling rentan dan pertama kali terkena imbas apabila terjadi pencemaran di wilayah pesisir.

“One day fishing, nelayan kita cuma melaut dua sampai tiga mil saja. Kalau ada masalah di perairan dekat pantai, ya pasti mereka yang terdampak duluan! Nasib mereka benar-benar di ujung tanduk,” katanya sambil menggelengkan kepala.

TUNTUTAN PEMBERSIHAN EKSTRA CEPAT!

Tidak hanya menuntut kompensasi, HNSI juga menggebrak dengan mendesak percepatan pembersihan material batu bara secara maksimal. Tujuannya jelas, agar limbah hitam ini tidak semakin menyebar luas ke kawasan perairan lain yang masih perawan. Jika dibiarkan, dampaknya bisa berlipat ganda dan merusak ekosistem laut dalam skala yang lebih masif!

Jeje mengaku sangat kecewa karena penanganan awal yang dilakukan dinilai belum menunjukkan langkah cepat dan terukur. Padahal, waktu terus berjalan sementara batu bara semakin menyebar ke mana-mana. Tidak ada tindakan sigap yang mampu mencegah dampak yang lebih luas dan menghancurkan.

“Saya sudah menunggu tujuh hari lamanya, tapi pemerintah daerah dan pihak terkait belum juga menunjukkan langkah-langkah nyata. Saya kecewa berat! Tidak ada langkah cepat dan tepat dalam rangka mengendalikan kondisi yang sudah darurat ini,” ujarnya dengan nada kesal yang sulit disembunyikan.

Ia meminta agar proses penyedotan dan pengangkatan tumpukan batu bara dilakukan sesegera mungkin, tanpa menunda-nunda lagi. Mengingat wilayah terdampak merupakan kawasan vital bagi pertumbuhan biota laut, setiap detik yang terbuang hanya akan memperparah kerusakan lingkungan yang sudah terjadi.

“Kalau bisa segera disedot, segera mungkin lakukan! Jangan sampai bencana ini menyebar ke mana-mana dan merusak habitat ikan-ikan kita. Bayangkan kalau karang dan terumbu karang ikut mati, habis sudah penghidupan kami,” kata Jeje dengan mata berkaca-kaca.

Lebih lanjut, ia meminta pengawasan ekstra ketat terhadap kapal-kapal pengangkut batu bara yang melintas di perairan selatan Jawa. Jangan sampai kejadian serupa terulang kembali dan menambah panjang daftar bencana lingkungan di perairan Pangandaran yang selama ini menjadi kebanggaan warga setempat.

“Ke depan, kapal-kapal mau lewat tolong diperiksa dengan teliti! Jangan cuma melihat kertasnya saja, tapi lihat juga kondisi fisiknya ketika ingin melewati Selat Pangandaran. Kalau tidak, ini bakal sangat berbahaya bagi kami semua!” tegasnya mengakhiri pernyataan dengan nada penuh peringatan.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *