Cinta-news.com – Terminal Manggarai di Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan. Dulu tempat ini bergema dengan suara klakson dan teriakan kenek bus, kini hanya sunyi yang menyapa.
Apa yang sebenarnya terjadi pada terminal strategis ini? Mengapa tempat yang dulu menjadi denyut nadi transportasi publik kini bagai “kuburan bis” di tengah hiruk-pikuk ibu kota?
Para pengamat transportasi menyebut fenomena ini sebagai “mati suri” — terminal yang masih berdiri megah namun kehilangan esensi kehidupannya. Tidak ada lagi aktivitas bus mengangkut penumpang. Tidak ada lagi antrian panjang warga yang hendak berpergian. Yang tersisa hanyalah bangunan terminal yang sepi dan memilukan.
Akar Masalah yang Membungkam Terminal
Terminal ini sebenarnya memiliki nasib tragis yang sudah tertulis sejak awal. Terminal ini didesain sebagai terminal tipe B yang khusus melayani angkutan antarkota dalam provinsi seperti Koperasi Angkutan Jakarta dan Metromini. Pemerintah sempat melakukan revitalisasi besar-besaran pada 2013 dan meresmikannya kembali pada 2014 dengan harapan terminal ini menjadi lebih layak dan nyaman.
Sayangnya, harapan itu sirna seketika! Empat tahun setelah revitalisasi, tepatnya pada 2018, pemerintah mencabut izin operasional Metromini dan Kopaja. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi keberlangsungan Terminal Manggarai.
“Sejak 2018, izin mereka dihentikan dan terminal ini hanya berfungsi sebagai halte Transjakarta,” jelas Kepala Satuan Pelayanan Terminal Bus Manggarai, Sertinsi, saat ditemui di lokasi.
Bahkan fungsi sebagai halte Transjakarta pun tidak bertahan lama! PT Transjakarta yang tidak lagi berada di bawah Dinas Perhubungan DKI Jakarta memilih membangun halte sendiri tepat di samping terminal. Keputusan ini semakin menegaskan bahwa Terminal Manggarai kehilangan seluruh fungsinya.
Titik Terang di Ujung Terowongan
Setelah bertahun-tahun terpuruk dalam kesunyian, akhirnya muncul secercah harapan! Terminal akan bertransformasi total menjadi kawasan Transit Oriented Development atau yang lebih dikenal dengan TOD.
“Wacana ke arah sana memang sudah ada, meskipun kami belum tahu secara detail rangkaian proyeknya,” ungkap Sertinsi.
Kepala Unit Pengelola Terminal Angkutan Jalan Dishub DKI Jakarta, Zulkifli, mengonfirmasi rencana ambisius ini. Terminal ini akan menjadi simpul integrasi antarmoda yang menghubungkan berbagai jenis transportasi publik di ibu kota.
“Ke depannya, sejalan dengan penetapan Stasiun Manggarai sebagai stasiun sentral yang melayani KRL, KA Bandara, dan KA Jarak Jauh, serta rencana pembangunan infrastruktur Stasiun LRT Manggarai yang berdekatan, Terminal Manggarai akan diintegrasikan secara terpadu,” tegas Zulkifli.
Bayangkan kemudahan yang akan dirasakan warga Jakarta! Dari satu titik, masyarakat bisa berpindah dari Transjakarta ke KRL, lalu ke LRT, bahkan ke KA Bandara tanpa kesulitan berarti. Terminal Manggarai akan menjadi jantung transportasi terpadu yang menghubungkan first mile dan last mile perjalanan warga ibu kota.
Langkah Awal Menuju Transformasi
Sambil menunggu realisasi proyek TOD yang megah, Dinas Perhubungan DKI Jakarta bergerak cepat! Saat ini telah masuk dalam Rencana Kebutuhan Pemeliharaan dan Optimalisasi Tahun 2026.
Program ini mencakup penyesuaian geometrik terminal dan rekayasa sirkulasi kendaraan. Tujuannya jelas: agar bus Transjakarta bisa masuk dan bermanuver dengan aman di dalam area terminal.
Mengapa ini penting? Karena saat revitalisasi 2013 lalu, terminal ini dirancang untuk bus berukuran sedang seperti Kopaja dan Metromini. Sementara bus Transjakarta memiliki dimensi lebih besar dengan radius putar yang berbeda!
“Transjakarta memiliki tipe High-Deck maupun Low-Deck dengan spesifikasi dimensi dan radius putar yang berbeda dengan bus sedang pendahulunya,” jelas Zulkifli.
Dengan penyesuaian ini, fungsi Terminal Manggarai sebagai tempat naik dan turun penumpang Transjakarta akan kembali optimal. Tidak ada lagi alasan bagi Transjakarta untuk membangun halte terpisah!
Potensi Dahsyat Kawasan TOD Manggarai
Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai wilayah memiliki potensi luar biasa untuk menjadi pusat TOD. Bahkan, konsep ini sebenarnya sudah digagas sejak zaman Presiden Soeharto, namun terus tertunda.
“Dalam skala yang lebih besar, kawasan ini berpotensi untuk pengembangan TOD. Rencana pengembangan TOD di kawasan Manggarai sebenarnya sudah ada sejak zaman Presiden Soeharto, namun terus tertunda,” ungkap Djoko.
Namun, mewujudkan TOD bukan pekerjaan mudah! Dibutuhkan lahan luas sekitar 25 hektare milik PT KAI yang bisa dimanfaatkan untuk hunian vertikal. Penataan pemukiman warga yang padat juga menjadi tantangan besar yang harus diselesaikan bersama.
Djoko menekankan pentingnya integrasi pembayaran antarmoda. Meski LRT, MRT, dan Transjakarta sudah mulai terintegrasi, KRL juga harus masuk dalam sistem pembayaran terpadu!
“Integrasi antara APBN melalui LRT Jabodebek dengan APBD inilah yang nantinya akan menghidupkan kembali terminal-terminal, termasuk Terminal Manggarai, agar menjadi lebih ramai,” paparnya.
Dengan sistem pembayaran terpadu, penumpang akan lebih mudah berpindah moda tanpa harus melakukan pembayaran berulang. Selain praktis, biaya perjalanan pun berpotensi lebih murah!
Mengapa Terminal Manggarai Tak Cocok untuk Bus Antar Kota?
Djoko dengan tegas menyatakan bahwa Terminal Manggarai tidak cocok dijadikan terminal bus antarkota. Akses jalan menuju terminal relatif sempit dan sudah padat dengan lalu lintas lokal. Kapasitas lahan parkir bus juga sangat terbatas!
Berbeda dengan Terminal Ragunan yang memiliki akses memadai untuk melayani bus antarkota antarprovinsi, Terminal Manggarai sejak awal didesain sebagai terminal tipe B atau terminal kecil. Sama halnya dengan Terminal Kampung Melayu, kapasitasnya terbatas untuk bus-bus besar.
Solusi paling efektif memang mengembangkan Terminal Manggarai menjadi TOD. Stasiun Manggarai yang diproyeksikan menjadi stasiun sentral terbesar di Jakarta menjadi nilai tambah yang sangat signifikan.
Kerja Sama Kunci Sukses TOD Manggarai
Untuk mewujudkan TOD Manggarai, diperlukan kolaborasi erat antara berbagai pihak! PT KAI sebagai pemilik lahan harus bersinergi dengan Pemerintah Daerah dalam penataan permukiman warga. Direktorat Jenderal Perkeretaapian juga harus dilibatkan dalam perencanaan infrastruktur.
Djoko optimis TOD Manggarai bisa menjadi salah satu kawasan TOD terbesar di Jakarta. Dengan pengelolaan yang baik dan dukungan pembangunan hunian vertikal, kawasan ini akan menjelma menjadi pusat aktivitas perkotaan yang modern dan terintegrasi.
Bayangkan, dari terminal yang mati suri, Manggarai akan bangkit menjadi ikon transportasi masa depan! Tempat di mana masyarakat bisa tinggal, bekerja, dan bepergian dengan mudah tanpa harus bergantung pada kendaraan pribadi.
Inilah momentum kebangkitan Terminal Manggarai. Setelah bertahun-tahun terpuruk, akhirnya masa depan cerah terbentang di depan mata. Perubahan besar sedang menanti, dan kita semua akan menyaksikan transformasi epik ini!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
