Jakarta, Cinta-news.com – Isu perobohan Hotel Sultan pasca eksekusi pengosongan sontak memicu gelombang protes keras dari para pekerja. Mereka menolak mentah-mentah rencana yang dianggap akan mengubur harapan dan mata pencaharian mereka!
Wacana kontroversial ini pertama kali dilontarkan oleh CEO Danantara, Rosan Roeslani, di Istana Negara pada Senin (22/6/2026). Namun, pernyataan tersebut bagaikan petir di siang bolong bagi ratusan karyawan yang masih bergulat dengan ketidakpastian nasib.
“Sayang Banget Masih Bisa Buat Kerja!” – Jeritan Hati Pekerja Hotel Sultan
Windy (27), salah satu pekerja Hotel Sultan yang kini sibuk mendata diri di Posko Alih Kelola Blok 15 GBK, meluapkan kekecewaannya secara blak-blakan. Wanita muda itu sama sekali tidak setuju dengan wacana perobohan, dan ia menganggap langkah tersebut sangat disayangkan karena bangunan megah itu masih bisa menjadi tempat mereka menggantungkan hidup.
“Enggak setuju sih, soalnya sayang banget kan seharusnya itu masih bisa kita pakai untuk kerja lagi,” ujar Windy dengan nada kesal saat ditemui di lokasi, Selasa (23/6/2026).
Menurut pandangan Windy, jika Hotel Sultan pada akhirnya benar-benar diratakan dengan tanah, maka seluruh proses pendataan karyawan yang saat ini berlangsung akan terasa percuma dan sia-sia belaka. Apalagi, ia sempat mendengar kabar menggembirakan bahwa negara melalui PPK GBK berencana menyerap kembali tenaga kerja Hotel Sultan untuk beroperasi di hotel tersebut pasca pengambilalihan.
“Kemarin dari atasan bilangnya masih ada rencana mau dikontrak lagi sama GBK, kan katanya hotelnya tetap ada, cuma manajemennya yang berganti,” jelas Windy dengan harapan yang mulai pudar.
“Kalau ternyata ujung-ujungnya kami enggak bisa kerja lagi, sungguh disayangkan, apalagi proses administrasinya saja sudah sangat ribet,” sambungnya sambil menghela napas panjang.
Windy pun dengan tegas meminta pemerintah untuk mengkaji ulang kebijakan kontroversial tersebut. Menurutnya, pemerintah wajib lebih memperhatikan nasib ratusan pekerja yang sepenuhnya menggantungkan kehidupan pada Hotel Sultan.
“Harapan saya sih dipikir-pikir lagi dengan matang, mungkin karena baru selesai dieksekusi jadi keputusan itu keluar sekarang. Semoga ada kebijakan bijak agar hotel tetap diselamatkan dan tidak perlu dirobohkan,” pintanya dengan nada memohon.
“Boros Anggaran!” – Pekerja Siap Buka Dagangan Sambil Menanti Kepastian Nasib
Senada dengan Windy, Wahyu (bukan nama sebenarnya), karyawan lainnya, menilai langkah pemerintah sangat tidak bijaksana apabila harus merobohkan bangunan ikonik tersebut. Pria yang bekerja di bagian dapur ini menegaskan bahwa di tengah kondisi ekonomi yang masih carut-marut, membangun ulang hotel dari nol justru akan menjadi pemborosan anggaran negara yang tidak perlu.
“Menurut saya malah boros banget, kalau dirobohin lalu dibangun hotel baru lagi, kan butuh dana besar lagi untuk pembangunan, dan pastinya memakan waktu lama,” ujarnya dengan logika yang sulit dibantah.
Wahyu juga mengungkapkan kekhawatiran mendalam bahwa dirinya bakal kehilangan pekerjaan secara permanen jika hotel benar-benar rata dengan tanah. Padahal, sebelumnya beredar kabar gembira bahwa karyawan Hotel Sultan akan bisa kembali bekerja pada akhir tahun atau awal tahun depan.
“Tadinya saya dengar kabar, akhir tahun atau paling telat Januari sudah efektif buka lagi, kan enam bulan, soalnya ini mau dikosongin dulu,” kenang Wahyu dengan nada kecewa.
Menghadapi situasi pelik ini, Wahyu sudah mulai memutar otak mencari langkah alternatif. Ia berencana membuka usaha kecil-kecilan sambil menunggu kepastian nasib pekerjaannya di hotel oleh Pusat Pengelolaan Kompleks GBK.
“Paling kepikiran mau dagang, pengennya jualan makanan dulu, masak sendiri sama istri pakai modal kecil. Sebisanya, jajanan sederhana gitu,” ungkapnya dengan semangat berjuang yang tak padam.
“Mending Dikontrak GBK, Lebih Terjamin!” – Harapan Pekerja di Tengah Ancaman PHK Massal
Sementara itu, Imam (30), karyawan lainnya, mengutarakan harapan besar agar Hotel Sultan tidak perlu dirobohkan dan bisa segera mempekerjakan kembali para karyawan yang kini terancam menganggur. Menurut analisisnya, nasib para pekerja sebenarnya akan lebih terjamin apabila mereka dikontrak langsung oleh PPK GBK.
“Ya penginnya dikontrak lagi, jangan dirobohkan! Mending dioperasikan lagi, kami kerja lagi. Apalagi kalau dengan GBK, kan hitungannya kerja sama negara, jadi lebih terjamin,” ujar Imam dengan keyakinan yang menguat.
Imam mengaku sudah menyerahkan seluruh data yang dibutuhkan kepada PPK GBK di posko alih kelola. Namun, jika dalam satu bulan ke depan belum ada kejelasan, ia terpaksa akan mencari pekerjaan lain.
“Kalau emang belum jelas, ya saya lamar ke tempat lain, hotel juga karena pengalaman di sini, atau ritel yang bidang pelayanan. Soalnya berat banget kalau tanpa gaji,” tuturnya dengan nada realistis.
PPK GBK Masih Fokus Pendataan, Nasib Hotel Sultan Masih Misteri
Di sisi lain, Kepala Divisi Humas dan Hukum PPK GBK, Asep Triyadi, menyatakan bahwa pihaknya belum sampai pada tahap pembahasan mengenai wacana perobohan Hotel Sultan.
“Kalau perobohan Hotel Sultan, kami belum sampai ke sana,” kata Asep melalui pesan singkat dengan nada hati-hati.
Asep menjelaskan bahwa saat ini PPK GBK masih fokus pada proses alih kelola, termasuk pengosongan dan pendataan para karyawan hotel serta tenant yang terdampak eksekusi. Pihaknya pun masih menunggu arahan lebih lanjut mengenai nasib kelanjutan Hotel Sultan.
“Untuk sekarang kami fokus di hal-hal lain dulu, termasuk pengosongan dan pendataan karyawan eks Hotel Sultan di posko, sambil menunggu arahan pimpinan,” ucapnya diplomatis.
Visi Mega Proyek: Hotel Sultan Jadi Ikon Baru Indonesia!
Sebelumnya, CEO Danantara Rosan Roeslani telah menyampaikan bahwa Hotel Sultan akan dirobohkan, meskipun dirinya belum bisa memberikan rincian lebih lanjut saat ini.
“Ya pada saat ini saya mungkin belum bisa mengatakan, tapi rencana akan dijadikan kawasan baru. Eventually iya,” ujar Rosan di Istana pada Senin (22/6/2026).
“Eventually dirobohkan, iya,” tegasnya dengan nada meyakinkan.
Rosan menjelaskan bahwa kawasan Hotel Sultan akan tetap memiliki hotel, namun berdasarkan perintah Presiden Prabowo Subianto, lokasi tersebut akan disulap menjadi ikon baru Indonesia. Apalagi, karena Hotel Sultan masuk dalam kawasan GBK, maka akan ada pengembangan sport tourism di sana.
“Nanti di antaranya pastinya ada hotel juga, dan mungkin lebih dari satu. Tapi pesan Bapak Presiden, ini dijadikan ikon baru untuk Indonesia. Perencanaannya harus dilakukan secara komprehensif dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian dan yang terpenting bagi rakyat Indonesia,” pungkas Rosan dengan visi besar yang kontroversial.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
