KUPANG, Cinta-news.com – Ditpolairud Polda NTT bersama berbagai instansi terkait hingga saat ini masih sibuk menangani insiden tumpahan minyak yang mencemari perairan Pulau Semau, Kabupaten Kupang, NTT. Peristiwa yang diduga kuat bermula dari proses pengangkatan bangkai kapal KM Kuala Emas ini sontak menjadi perhatian serius karena dampaknya yang langsung terasa bagi lingkungan dan warga pesisir.
Hingga kini, tim gabungan sudah berhasil menyita sekitar lima hingga enam ton tumpahan minyak dari sejumlah lokasi yang terdampak. Bukan hanya berhenti di situ, aparat pun terus melakukan penyisiran baik melalui jalur laut maupun darat untuk memastikan apakah minyak masih merembes ke wilayah pesisir lainnya. Semua dilakukan demi mencegah bencana ekologis yang lebih parah.
Direktur Polairud Polda NTT, Kombes Irwan Deffi Nasution, menjelaskan bahwa pihak kepolisian bergerak cepat setelah laporan dugaan pencemaran laut masuk. “Begitu informasi itu kami terima, personel Ditpolairud langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan,” ujar Irwan dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/8/2026). Koordinasi pun segera dibangun dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan sumber kejadian, mengukur dampak, dan menentukan langkah penanganan yang paling tepat dan cepat.
Hasil penyelidikan awal atau pulbaket mengungkap bahwa tumpahan minyak ini tidak main-main dampaknya. Sebanyak sembilan desa di Kecamatan Semau harus merasakan pahitnya pencemaran, yakni Desa Hansisi, Uiasa, Huilelot, Onansila, Uitiuh Ana, Akle, Naikean, Letbaun, dan Batuinan. Wilayah pesisir yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga kini terancam oleh ceceran minyak hitam yang membandel.
Lantas, bagaimana kronologi kejadiannya? Menurut Irwan, peristiwa memilukan ini terjadi saat konsorsium pelaksana pekerjaan bawah air tengah mengerjakan proses pengangkatan bangkai KM Kuala Emas menggunakan Crane Barge Hong Bang 6. Sebelum kecelakaan terjadi, tim sudah memotong beberapa bagian kapal dengan hati-hati dan tidak menemukan tanda-tanda kebocoran sedikit pun. Semua tampak aman dan terkendali.
Namun, nahas! Pada 29 Juli 2026 sekitar pukul 12.05 Wita, ketika tim melakukan pemotongan pada lambung kiri kapal di antara Palka 2 dan Palka 3, tiba-tiba terjadi kebocoran yang tidak terduga. Minyak hitam pekat langsung muncrat keluar dan diduga kuat merupakan marine fuel oil (MFO), bahan bakar berat yang sangat berbahaya bagi ekosistem laut.
Pihak kontraktor sempat dibuat terkejut dengan kejadian ini. Mereka menjelaskan bahwa titik kebocoran berada di luar perkiraan teknis mereka. Pasalnya, bagian kapal yang dipotong sebelumnya diperkirakan merupakan tangki balas kapal yang seharusnya tidak terhubung dengan jalur bahan bakar sama sekali. Saat ini, tim kontraktor masih melakukan investigasi teknis secara mendalam untuk memastikan dari mana persisnya sumber kebocoran MFO tersebut.
Empat Perahu Dikerahkan, Proses Pembersihan Terus Digencarkan
Setelah kebocoran terjadi, pelaksana proyek bersama instansi terkait langsung bergerak cepat melakukan mitigasi. Mereka tidak mau mengambil risiko pencemaran yang lebih meluas. “Prioritas kami sekarang adalah mengendalikan dan membersihkan tumpahan minyak. Kami tidak ingin dampaknya semakin merusak lingkungan laut, aktivitas warga pesisir, dan ekosistem di Semau,” tegas Irwan dengan nada serius.
Untuk mempercepat proses pembersihan, PT Nusantara Salvage Indonesia langsung menambah armada pembersihan dari dua menjadi empat unit perahu. Langkah cepat ini diharapkan mampu menjangkau lebih banyak area terdampak. Selain mengerahkan armada, petugas juga memasang oil boom atau pelampung pembatas untuk menahan penyebaran minyak. Mereka pun tak segan menggunakan oil absorbent pads untuk menyerap minyak, menyemprotkan oil dispersant agar minyak terurai, serta menyedot minyak yang terperangkap di sekitar lokasi kejadian.
Semangat gotong royong juga terlihat jelas dalam operasi pembersihan ini. Masyarakat setempat bahu-membahu bersama petugas membersihkan minyak yang terdampar di berbagai titik, mulai dari kawasan Hansisi, Pelabuhan Ferry Semau, Pelabuhan Rakyat Semau, Hansisi Oesemuk, Lalendo, hingga Pulau Kambing. Kolaborasi yang apik ini diharapkan bisa mempercepat pemulihan kondisi perairan.
Ditpolairud Polda NTT pun tidak tinggal diam. Mereka terus berkoordinasi intens dengan Pemerintah Kecamatan Semau, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta seluruh instansi terkait lainnya. Semua pihak bahu-membahu mengawal proses pembersihan agar berjalan efektif dan efisien.
“Kami bersama instansi terkait akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan di lapangan,” tambah Irwan. Penyisiran lanjutan pun akan terus dilakukan pada titik-titik pesisir yang berpotensi terdampak. Tujuannya jelas, memastikan bahwa proses pembersihan benar-benar tuntas dan tidak ada sisa minyak yang mengancam.
Tak lupa, Irwan mengimbau masyarakat pesisir agar tetap tenang namun waspada. “Jika menemukan sisa tumpahan minyak di pantai atau perairan sekitar, segera laporkan kepada petugas,” pesannya. Polda NTT berkomitmen penuh untuk terus mengawal penanganan ini hingga kondisi perairan Pulau Semau kembali normal dan aman, baik bagi masyarakat maupun biota laut.
Petani Rumput Laut Mulai Gelisah, Was-was Gagal Panen!
Sementara proses pembersihan masih berlangsung, kabar memprihatinkan datang dari para petani rumput laut di Pulau Semau. Pencemaran minyak hitam ini ternyata sudah mulai berdampak langsung pada hasil laut mereka. Lapisan minyak yang mengapung di permukaan laut dengan mudah menempel pada tanaman rumput laut, sehingga kualitasnya terancam turun drastis.
Salah seorang petani rumput laut asal Desa Huilelot, Erens Tihu, mengungkapkan kekhawatirannya. “Kami para petani sangat khawatir karena sebagian tanaman sudah masuk masa panen, tapi sebagian lainnya baru saja selesai kami tanami bibit,” ujarnya dengan nada cemas saat ditemui, Sabtu (1/8/2026). Situasi ini benar-benar dilematis bagi mereka.
“Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, kami bisa kehilangan seluruh hasil panen. Rumput laut jadi kotor, kualitasnya menurun drastis, bahkan sulit untuk dijual karena sudah tercemar oli,” keluh Erens. Ketergantungan mereka pada hasil laut membuat situasi ini semakin mencekam. Mereka berharap proses mitigasi segera membuahkan hasil agar tanaman mereka tidak musnah.
Dengan proses mitigasi yang masih berjalan dan pemantauan yang terus dilakukan oleh pemerintah serta pihak terkait, seluruh elemen berharap kondisi perairan segera pulih. Nasib petani rumput laut dan ekosistem Pulau Semau kini menggantung, menunggu upaya nyata untuk membersihkan sisa-sisa bencana hitam yang mengancam.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
