Cinta-news.com – Pada tanggal 27 September 2025, suasana duka menyelimuti keluarga Muhammad Athaya Helmi Nasution. Alih-alih masih bertugas sebagai Liaison Officer (LO) untuk mendampingi pejabat Indonesia dalam kunjungan kerja tertutup di Wina, Austria, pemuda berusia 18 tahun itu justru meregang nyawa di negeri orang. Kisahnya yang bermula dengan semangat membantu, akhirnya berujung pada tragedi yang menyayat hati.
Kronologi Meninggalnya Athaya
Selanjutnya, mari kita bahas secara detail kronologi kejadiannya. Seorang perwakilan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda, yang memilih untuk tidak menyebutkan identitasnya, membongkar keseluruhan peristiwa pada Selasa, 9 September 2025. Rombongan pejabat yang terdiri dari perwakilan DPR, OJK, dan Bank Indonesia tersebut melaksanakan kunjungan kerja tertutup mereka sejak tanggal 25 hingga 27 Agustus 2025.
Kemudian, pada tanggal terakhir kunjungan, tepatnya sekitar pukul 05.30 pagi, seorang teman menemukan Athaya dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Athaya mengalami kram kaki disertai dengan kesulitan napas yang parah. Dua jam berselang, yaitu pukul 07.30, teman tersebut kembali memeriksa keadaan Athaya setelah mematikan alarm yang seharusnya membangunkannya. Melihat kondisinya yang semakin memburuk dan bahkan sempat kejang, sang teman segera menghubungi tim paramedis.
Selanjutnya, pihak medis yang menerima panggilan darurat memberikan instruksi untuk melakukan tindakan CPR (Resusitasi Jantung Paru) terlebih dahulu. Sayangnya, enam menit setelah bantuan paramedis, polisi, dan tim darurat lainnya tiba di lokasi, mereka memastikan hal yang pahit: Athaya telah meninggal dunia.
Penyebab Kematian: Kelelahan dan Kelalaian?
Selain itu, hasil otopsi mengungkapkan penyebab mendasar di balik tragedi ini. Penyelidik menduga kuat Athaya mengalami heatstroke, di mana suhu tubuhnya meningkat secara drastis hingga menyentuh 40 derajat Celsius atau bahkan lebih. Lebih lanjut, PPI Belanda dalam siaran pers Instagramnya menjelaskan bahwa kondisi ini sangat berkaitan dengan kurangnya cairan dan asupan nutrisi, ditambah dengan kelelahan ekstrem.
Akibatnya, tubuh Athaya mengalami ketidakseimbangan elektrolit (electrolyte imbalances) dan penurunan kadar gula darah secara drastis (hypoglycemia). Kombinasi mematikan inilah yang akhirnya berujung pada stroke dan merenggut nyawanya. Padahal, mahasiswa tahun kedua jurusan Electrical Engineering di Hanze University of Applied Sciences Groningen ini telah beraktivitas tanpa henti dari pagi hingga malam sebagai pendamping pejabat.
Fenomena Kerja Sampingan yang Rentan
Di sisi lain, seorang informan dari PPI Belanda menyoroti sebuah fenomena yang sering terjadi di kalangan pelajar Indonesia. Ternyata, cukup banyak mahasiswa yang kerap mengambil peran sebagai LO untuk kegiatan-kegiatan pejabat Indonesia yang datang ke Eropa. Bahkan, tak sedikit dari mereka menggantungkan pendapatan sampingannya dari pekerjaan ini, mengingat intensitas kunjungan pejabat publik yang terbilang tinggi.
Akan tetapi, sistem rekrutmen dan pengawasannya seringkali sangat tidak jelas. Setiap kegiatan biasanya menunjuk Event Organizer (EO) yang berbeda-beda. Dalam kasus Athaya, EO yang bertanggung jawab berasal dari Indonesia. “Menurut informasi yang kami terima, EO berasal dari Indonesia. Kemudian EO menunjuk LO yang merupakan pelajar di Eropa. Terkait dengan penunjukkan EO, ada hubungannya dengan pejakat publik yang hadir atau bagaimana, itu yang masih kami cari tahu lebih lanjut,” jelas perwakilan PPI Belanda.
Yang paling menyedihkan, ketika Athaya mengalami kondisi darurat, baik pihak EO maupun koordinator LO sama sekali tidak berada di tempat. EO hanya memberikan perintah melalui telepon untuk memanggil ambulans. Bahkan, setelah kejadian, tidak satu pun dari mereka mendampingi Athaya di rumah sakit.
Selain itu, kegiatan para pejabat pada hari itu justru berlanjut seperti biasa. Pihak EO malah sibuk mengurusi acara makan-makan para pejabat dan belum memberikan penjelasan apa pun mengenai pertanggungjawaban mereka atas insiden ini. Begitu pula dengan para pejabat yang didampingi Athaya; tidak ada satu pun yang berinisiatif menghubungi PPI Belanda atau keluarga untuk menyampaikan belasungkawa, bahkan setelah berita ini tersebar luas.
Akhirnya, keluarga Athaya harus terbang langsung ke Wina untuk mengurus segala keperluan pemulangan jenazah. KBRI setempat akhirnya memulangkan jenazah Athaya ke Indonesia dengan selamat.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com











