Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Tagihan Macet, Para Pemasok IKN Blokade Bendungan Sepaku Semoi

BALIKPAPAN, Cinta-news.com – Para vendor sampai nekat memblokade pintu masuk Bendungan Sepaku Semoi gara-gara tagihan macet miliaran rupiah. Aksi panas ini berlangsung sejak Sabtu (9/5/2026) di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Para Pemasok IKN Blokade Bendungan Sepaku Semoi

Pokok masalahnya ternyata PT Brantas Abipraya Divisi 2 Operasi diduga kuat menunggak pembayaran tagihan hingga tembus miliaran rupiah. Wajar dong kalau para vendor langsung gercep menggelar aksi protes!

Kekecewaan para vendor meledak karena janji pelunasan dari perusahaan BUMN konstruksi itu sampai sekarang cuma angin lalu. Sejak awal 2026 mereka sudah diiming-imingi dibayar, tapi nyatanya? Nol besar!

Memasuki gelombang aksi yang kedua kalinya ini, massa dengan santuy tapi tegas menutup akses masuk bendungan. Caranya? Mereka parkir satu unit dump truck roda 10 persis di tengah jalan! Nggak ketinggalan, mereka pun membentangkan spanduk besar berisi protes pedas terhadap manajemen perusahaan.

Owner PT Borneo Rent Nusantara Buka Suara: “Utang Saya Rp 1,4 Miliar!”

Rinif Ade Saputra, Owner PT Borneo Rent Nusantara, dengan nada kesal mengaku perusahaannya mengalami penunggakan pembayaran sewa kendaraan sebesar Rp 1,4 miliar. Parahnya lagi, tunggakan ini sudah berlangsung sejak periode 2024-2025!

“Awalnya sih lancar jaya sejak saya kerja sama tahun 2022,” tutur Ade dengan wajah kecewa saat ditemui, Minggu (10/5/2026). “Tapi belakangan, puncaknya sama sekali tidak dibayar. Kami sudah aksi Januari lalu, lalu dijanjikan lunas dua bulan kemudian. Namun sampai Mei ini? Nol realisasi, Pak!”

Tak puas dengan janji palsu, Ade pun nekat mendatangi kantor pusat PT Brantas Abipraya yang berada di Jakarta. Sayangnya, perjuangannya sia-sia karena dia hanya bertemu staf biasa tanpa ada kepastian dari jajaran manajemen. Miris banget, kan?

Waduh! Klaim Tunggakan Tembus Rp 8 Miliar, Direktur PT Lio Realindo Perkasa Ikut Angkat Bicara

Sonny Wahyudianto, Direktur PT Lio Realindo Perkasa, turut melontarkan keluhan yang lebih mencengangkan. Perusahaannya ternyata juga mengalami tunggakan pembayaran lebih dari Rp 8 miliar! Nominal yang bikin geleng-geleng kepala.

Sonny menjelaskan bahwa sebagian besar tunggakan ini terjadi pada proyek Sungai Sepaku yang digarap oleh KSO Abipraya. Nilainya sekitar Rp 6 miliar mengendap di sana.

“Kami sudah dua kali melakukan pemortalan bersama kawan-kawan vendor,” ungkap Sonny dengan nada frustrasi. “Bahkan Agustus tahun lalu, kami sempat mencor jalan di pintu masuk sebagai bentuk protes. Akibat tunggakan ini, operasional kami kacau balau, terutama untuk membayar gaji karyawan dan cicilan alat berat!”

Lebih menyakitkan lagi, menurut Sonny, pihak Abipraya sempat memberikan pernyataan kesanggupan mencicil utang tersebut. Tapi apa daya? Komunikasi kemudian terputus begitu saja tanpa kabar. Bikin panas dingin, deh!

Sonny pun mengaku sudah berusaha meminta mediasi kepada Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Namun hasilnya masih nihil sampai sekarang.

“Kami sebenarnya tidak mau membuat kegaduhan karena ini proyek nasional IKN,” imbuh Sonny dengan tegas. “Tapi kami butuh kejelasan, dong! Kami ingin masalah ini selesai baik-baik. Namun mereka justru menutup komunikasi. Mau bagaimana lagi?”

Vendor Lokal Sepaku Ikut Bersuara: “Tagihan Kami Juga Belum Dibayar!”

Para vendor lokal yang menyediakan material alam dan bahan bangunan di wilayah Sepaku pun tak mau ketinggalan menyampaikan keluhan serupa. Ternyata penderitaan mereka sama-sama memprihatinkan!

Jufriansyah, salah satu vendor lokal, dengan nada getir mengaku tagihan sebesar Rp 168 juta untuk pengadaan pasir di proyek bendungan belum juga dibayarkan. Padahal pasir sudah mereka kirimkan dan gunakan untuk pembangunan!

“Tagihan yang belum dibayar itu untuk material alam, khususnya pasir, di proyek bendungan ini,” ujar Jufriansyah sambil menghela napas panjang.

Sementara itu, Rollibis Tobir, vendor lainnya, menyebut dirinya masih memiliki piutang yang cukup menggunung. Rinciannya? Rp 144 juta macet di proyek Bendungan Sepaku Semoi dan Rp 219 juta mengendap di proyek Intake Sepaku. Totalnya mencapai angka yang bikin sakit hati!

“Di Bendungan Sepaku Semoi ini masih ada tagihan Rp 144 juta,” jelas Rollibis dengan perasaan campur aduk. “Sementara di proyek Intake Sepaku mencapai Rp 219 juta. Totalnya masih cukup besar dan memberatkan kami.”

Menurut penuturan Rollibis, tunggakan ini sebenarnya sudah terjadi sejak pengerjaan tahap kedua proyek berjalan. Meskipun sempat ada pembayaran Rp 100 juta tahun lalu sebagai angin segar, sisa tagihan yang belum diselesaikan hingga kini masih membebani mereka. Janji demi janji pun tak kunjung terealisasi.

Hingga Berita Ini Diturunkan, Pihak Abipraya Belum Memberikan Tanggapan

Media sudah berupaya mati-matian menghubungi SVP Divisi Operasi 2 PT Brantas Abipraya, yaitu Ince Suil Febryan Maulana, melalui pesan WhatsApp. Namun sampai berita ini ditulis ulang dan diedarkan, belum ada satu pun tanggapan yang masuk dari pihak yang bersangkutan.

Para vendor pun kini hanya bisa pasrah sambil terus berjaga di lokasi blockade. Apakah Abipraya akan segera melunasi utang miliaran rupiah ini? Ataukah aksi blokade akan terus berlanjut hingga ada kejelasan? Kita pantau bersama

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *