LABUAN BAJO, Cinta-news.com – Sekali lagi, alam menunjukkan kemarahannya. Kantor Kesyahbandaraan dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo terpaksa memperpanjang penutupan total pelayaran wisata ke Taman Nasional Komodo dan sekitarnya. Penutupan ketat ini mereka berlakukan dari tanggal 2 hingga 4 Februari 2026 tanpa kompromi.
Kepala KSOP setempat, Stephanus Risdiyanto, menjelaskan pihaknya baru saja menerbitkan maklumat pelayaran terbaru. Maklumat ini berisi peringatan serius tentang potensi cuaca ekstrem di perairan Labuan Bajo dan TN Komodo. Pihak KSOP mengeluarkan maklumat resmi setelah menindaklanjuti data akurat dari BMKG Maritim. Data tersebut memuat informasi mengenai kecepatan angin dan tinggi gelombang. Pengamatan langsung dari pos darat serta laporan dari berbagai kapal di lapangan juga memperkuat keputusan ini.
“Oleh karena itu, kami secara resmi menutup sementara pelayanan Surat Persetujuan Berlayar untuk semua kapal wisata,” papar Stephanus melalui keterangan tertulis. Penutupan ini mencakup speedboat dan berlaku dari tanggal 2 hingga 4 Februari 2026. Ia menegaskan bahwa pihaknya hanya akan membuka kembali pelayanan SPB setelah kondisi cuaca membaik. Mereka harus menunggu konfirmasi resmi dari BMKG terlebih dahulu.
Dalam maklumat darurat tersebut, KSOP juga menyampaikan instruksi khusus kepada seluruh nakhoda. Para nakhoda harus memastikan kelaiklautan kapal mereka dalam kondisi prima. Mereka juga wajib mencari tempat berlindung jika cuaca memburuk. Selain itu, mereka harus segera memberi tahu kapal lain jika melihat adanya bahaya cuaca. KSOP meminta kapal-kapal yang sedang beroperasi di perairan untuk menyesuaikan rute pelayaran. Para nakhoda harus memerintahkan kapalnya berlabuh di area yang terlindung dari gelombang tinggi dan arus kuat. Mereka juga harus menjaga mesin kapal dalam kondisi standby.
KSOP mendorong para nahkoda untuk aktif berkoordinasi dengan Syahbandar dan Basarnas. Koordinasi ini penting jika mereka melihat kondisi cuaca semakin memburuk di tengah pelayaran.
Kepala KSOP, Stephanus Risdiyanto, mengaku prihatin atas penutupan berulang ini. Meski begitu, pihaknya memiliki alasan kuat yang tidak bisa mereka abaikan. Mereka harus mematuhi prakiraan cuaca dari BMKG sebagai otoritas resmi. Mereka juga wajib mempertimbangkan aspek kelaiklautan kapal sebelum menerbitkan SPB. Sebagai contoh, hujan angin sangat kencang telah menerjang kawasan tersebut pada hari-hari sebelumnya. Kondisi ini membawa risiko tinggi jika pelayaran dipaksakan. “Pada intinya, alam tidak bisa kita lawan, tapi harus kita sikapi dengan bijak,” tegas Stephanus.
Di sisi lain, KSOP sendiri juga merasakan dampak ekonomi dari keputusan ini. Serangkaian penutupan menyebabkan target penerimaan PNBP pada Januari 2026 kemarin tidak tercapai. Dengan kata lain, fenomena cuaca ekstrem ini merugikan KSOP dan pelaku usaha pariwisata secara bersama-sama. Stephanus menyampaikan permohonan khusus kepada para pelaku wisata. Ia meminta mereka untuk maklum dan selalu mengutamakan keselamatan dalam menjalankan usaha. “Ingatlah, keselamatan adalah tanggung jawab bersama yang tidak bisa kita tawar,” imbuhnya.
Perlu kita ketahui, ini bukanlah penutupan pertama kalinya. Gelombang penutupan pelayaran ke TN Komodo sudah terjadi 9 kali. Rangkaian penutupan ini berawal setelah insiden tragis KM Putri Sakinah tenggelam pada 26 Desember 2025. Catatan sejarah menunjukkan KSOP Labuan Bajo pertama kali mengeluarkan penutupan pada 29 Desember 2025. Kemudian, penutupan kedua berlaku pada 2-6 Januari 2026. Pihak ketiga memberlakukan penutupan ketiga pada 5-8 Januari 2026. Selanjutnya, penutupan keempat terjadi pada 12-15 Januari 2026.
Berikutnya, penutupan kelima mereka berlakukan pada tanggal 14-20 Januari 2026. Penutupan keenam berlaku pada 20-27 Januari 2026. Tak berhenti di situ, penutupan ketujuh terjadi pada 27-29 Januari 2026. Pihak kedelapan memberlakukan penutupan dari tanggal 29 Januari hingga 1 Februari 2026. Kini, sebagai penutupan kesembilan, KSOP kembali menerbitkan maklumat darurat untuk periode 2 hingga 4 Februari 2026. Kita harus menjadikan kewaspadaan dan prioritas keselamatan sebagai pedoman utama. Hanya dengan itu, kita bisa kembali menikmati keindahan Komodo dengan aman dan nyaman.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com











