Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Warga Merauke Antusias Minta Tambahan Lahan, Program Cetak Sawah Beri Dampak Nyata

MERAUKE, Cinta-news.com – Di tengah hamparan sawah yang baru membentang hijau di Desa Waninggap Kai, seorang petani bernama Yohanis Yandi dengan lantang menyuarakan permintaannya kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Ia menginginkan tambahan lahan cetak sawah seluas 2.000 hektare di wilayahnya. Permintaan ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan petani setempat, sekaligus menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat Papua Selatan terhadap program pertanian yang tengah digalakkan pemerintah.

“Saya Masih Mau Tambah 2.000 Hektare Lagi, Pak!”

Ketika Amran datang mengecek langsung lahan cetak sawah sekaligus menghadiri seremoni Tanam Padi Bersama, Yohanis tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Di hadapan menteri dan puluhan petani lainnya, ia mengaku sebagai pimpinan di Kampung Urumb yang sudah membuktikan sendiri keberhasilan program cetak sawah. “Saya juga sudah menjalankannya. Bahkan, saya masih ingin menambah lahan lagi 2.000 hektare, Pak!” serunya dengan penuh semangat pada Sabtu (4/7/2026).

Permintaan mendadak ini membuat Amran tersenyum lebar. Namun, ia tak langsung mengangguk bulat-bulat. Ada satu syarat menarik yang dilontarkan menteri dengan nada bercanda namun serius. Amran meminta Yohanis dan para petani lainnya bersedia menjadi duta publik untuk menjelaskan bahwa program ini berjalan tanpa paksaan. Pasalnya, di jagat media sosial, khususnya TikTok, isu tentang pemaksaan program cetak sawah kerap mencuat dan menuai kritik pedas.

“Kalau Ada yang Marah di Medsos, Bapak Langsung Bicara!”

“Aku tambahkan, tapi dengan catatan! Kalau ada yang marah-marah di medsos, Bapak-bapak langsung yang bicara,” ujar Amran dengan logat khasnya. Mendengar syarat ini, Yohanis tak perlu waktu lama untuk menjawab. Dengan percaya diri, ia menyatakan kesiapannya menghadapi siapa pun yang mempertanyakan program tersebut. “Kalau ada yang mau bicara, silakan datang ke rumah saya. Saya 24 jam di rumah,” tegasnya, menunjukkan keseriusannya membela program yang telah mengubah hidup para petani Merauke.

Di balik candaan dan syarat ringan itu, Amran kemudian menjelaskan dengan tegas bahwa permintaan tambahan lahan ini justru datang dari masyarakat. Ia membantah keras anggapan bahwa program cetak sawah merupakan kebijakan yang dipaksakan negara. “Saudara kita di Papua Selatan inilah yang meminta bantuan cetak sawah. Bukan program yang dipaksakan. Kenapa? Karena kita memberdayakan. Semua lahan yang dicetak ini milik rakyat, milik Bapak-bapak semua!” tegas Amran di hadapan puluhan petani yang tampak antusias.

Rp 32,5 Juta per Hektare, Bayangkan Hasilnya!

Satu poin penting yang ditekankan Amran adalah status kepemilikan lahan. Sawah yang dicetak pemerintah itu sepenuhnya menjadi hak milik masyarakat Merauke, bukan aset negara. Pemerintah hanya berperan membantu mencetak lahan dan kemudian menyerap hasil panen melalui Perum Bulog dengan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram gabah kering panen (GKP). Sistem ini jelas menguntungkan petani, karena mereka tak perlu pusing memikirkan pemasaran hasil panen.

Lantas, seberapa besar keuntungan yang bisa diraup petani Merauke? Dengan produktivitas mencapai 5 ton per hektare dan harga GKP Rp 6.500 per kilogram, setiap petani bisa mengantongi sekitar Rp 32.500.000 per hektare dalam satu kali panen. Bayangkan jika seorang petani memiliki lahan puluhan atau bahkan ratusan hektare, pendapatan yang diperoleh tentu sangat menggiurkan. Inilah yang membuat Yohanis dan petani lainnya begitu bersemangat meminta tambahan lahan.

Produktivitas Melonjak 300%, Merauke Siap Jadi Lumbung Padi Timur!

Data dari pemerintah daerah setempat dan Kementerian Pertanian menunjukkan peningkatan produktivitas yang signifikan di Merauke. Pada 2023, luas lahan sawah tercatat 44.808 hektare yang mampu menghasilkan 222.579 ton GKP atau setara 104.668 ton beras dengan nilai mencapai Rp 523.339.800. Angka ini kemudian melonjak drastis setelah program optimalisasi lahan dan cetak sawah digenjot. Pada 2025, luas lahan panen bertambah menjadi 79.428 hektare, menghasilkan 439.412 ton GKP atau 206.991 ton beras senilai Rp 1,345 triliun.

Tak berhenti di situ, hingga Mei 2026, dari luas panen 40.197 hektare saja sudah tercatat produksi 217.498 ton GKP atau 102.456 ton beras senilai Rp 665.962.050. Dengan tren positif ini, Amran memproyeksikan produktivitas pertanian di Merauke pada 2026 akan melonjak hingga 300 persen dibandingkan tahun 2023. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bagaimana program cetak sawah mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan di Bumi Cenderawasih.

Keberhasilan ini tak lepas dari peran aktif petani lokal yang terus mendorong perluasan lahan pertanian. Mereka tak lagi sekadar petani subsisten, tetapi telah menjadi penggerak utama ketahanan pangan nasional. Yohanis dan rekan-rekannya di Kampung Urumb adalah contoh konkret bagaimana program pemberdayaan, bukan pemaksaan, mampu menghasilkan dampak luar biasa bagi kesejahteraan masyarakat.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Isu negatif di media sosial terus mengintai dan bisa menjadi bumerang bagi keberlanjutan program. Namun, dengan komitmen para petani seperti Yohanis yang siap menjadi juru bicara di tingkat akar rumput, pemerintah optimis program cetak sawah akan terus berjalan mulus. “Kalau ada yang protes di TikTok, suruh mereka datang ke sawah saya. Lihat sendiri hasilnya!” ujar Yohanis setengah menantang.

Amran pun mengapresiasi sikap para petani Merauke. Menurutnya, program cetak sawah adalah bukti nyata kehadiran negara di tengah masyarakat. “Kita tidak pernah memaksa. Merekalah yang meminta karena mereka merasakan sendiri manfaatnya. Sawah ini milik mereka, hasilnya untuk mereka, dan kita hanya membantu memfasilitasi,” tambah Amran penuh keyakinan.

Ke depannya, tambahan 2.000 hektare sawah yang diminta Yohanis diproyeksikan akan semakin mendongkrak produksi padi di Merauke. Jika permintaan ini terealisasi pada 2027, bukan tidak mungkin Papua Selatan akan menjadi lumbung padi baru di kawasan timur Indonesia. Semua pihak optimistis, asalkan kolaborasi antara pemerintah dan petani terus berjalan harmonis seperti saat ini.

Dengan segala capaian dan prospek cerah ini, tak heran jika para petani Merauke berani menyuarakan aspirasinya langsung di hadapan menteri. Mereka tak lagi sekadar penerima program, tetapi telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan. Kisah Yohanis dan rekan-rekannya adalah bukti bahwa ketika pemerintah dan rakyat bergandengan tangan, hasilnya selalu luar biasa.

Bagaimana akhir dari cerita ini? Akankah permintaan 2.000 hektare sawah baru segera dipenuhi Amran? Semua mata kini tertuju pada keputusan pemerintah dan kesiapan para petani Merauke untuk terus melangkah maju. Satu hal yang pasti, semangat membangun dari bumi Papua ini layak mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari seluruh elemen bangsa.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version