PEKANBARU, Cinta-news.com – Kabar memilukan datang dari Riau! Kebakaran hutan dan lahan yang kembali melanda kini mengancam langsung pemukiman warga di Jalan Perwira, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar. Bukan hanya hutan yang terbakar, tapi nyawa dan kesehatan warga kini ikut terancam oleh kepulan asap pekat yang menyelimuti lingkungan mereka!
Bayangkan, lahan gambut yang terbakar itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari rumah Muliadi (81), seorang petani sepuh yang selama ini menggantungkan hidup dari kebun sayuran di samping dan depan rumahnya. Dari teras rumahnya, Muliadi bisa menyaksikan langsung kobaran api yang berkobar dengan garangnya.
“Kalau pagi hari, asapnya benar-benar pekat dan menyengat! Tapi menjelang siang, memang agak berkurang sedikit,” ujar Muliadi dengan suara serak ketika kami temui di kediamannya, Senin (17/8/2026). Namun demikian, pria lanjut usia ini terpaksa mengurangi segala aktivitas di luar rumah karena ancaman asap yang terus menggulung.
Dampaknya pun langsung terasa! Muliadi kini sering terbangun dengan batuk-batuk kering yang tak kunjung reda. Bahkan, setiap kali hendak melangkah keluar rumah, aroma bakaran gambut yang tajam langsung menusuk hidung dan membuat dadanya sesak. “Sekarang saya harus pakai masker kalau keluar rumah. Bau asapnya begitu menyengat sampai bikin nggak betah,” keluhnya dengan nada prihatin.
Api muncul lagi, asap kembali mengepung!
Yang lebih mengkhawatirkan, Muliadi mengungkapkan bahwa kebakaran yang terjadi di dekat rumahnya sebenarnya sudah padam seminggu yang lalu. Namun, titik api kembali muncul secara misterius sejak tiga hari terakhir dan kini semakin meluas! Asap tebal pun kembali mengepung rumah dan kebun sayurannya.
“Mudah-mudahan kebakaran ini cepat teratasi. Saya sudah nggak tahan terus-terusan menghirup asap,” ucapnya sambil menahan batuk.
Mendengar keluhan warga yang terus berdatangan, tim medis dari Puskesmas Tambang pun langsung bergerak cepat! Mereka turun ke lapangan untuk mengecek kondisi kesehatan warga yang terdampak asap karhutla.
Dokter Puskesmas Tambang, Meri Murniati, menjelaskan bahwa pihaknya segera merespons setiap laporan keluhan warga. “Kami cek kesehatan warga langsung jika ada laporan. Hari ini kami periksa dua orang yang mengeluhkan batuk parah. Kami langsung berikan obat, vitamin, dan masker,” kata Meri saat ditemui di lokasi.
Namun, petugas medis pun menghadapi tantangan besar. Menurut Meri, posko utama karhutla saat ini memang memprioritaskan penanganan para petugas pemadam yang juga mulai jatuh sakit. “Untuk posko, kami mengutamakan petugas pemadam dulu. Untuk warga, kami sifatnya mobile dan mengarahkan ke Pustu (Puskesmas Pembantu) jika ada keluhan,” jelasnya.
Petugas pemadam juga tumbang! Batuk, gatal, hingga hipertensi menyerang!
Bukan hanya warga yang merasakan dampaknya, para pahlawan pemadam kebakaran pun tak luput dari ganasnya asap karhutla! Tim medis juga memeriksa petugas Manggala Agni dan kepolisian yang berjibaku memadamkan api. Rata-rata mereka mengeluhkan batuk yang tak kunjung sembuh, gatal-gatal di kulit, dan bahkan ada yang terserang hipertensi!
“Keluhan para petugas ini murni dampak dari asap kebakaran yang mereka hirup setiap hari,” tambah Meri dengan nada prihatin.
Kondisi di lapangan semakin memprihatinkan! Manggala Agni Daops Sumatera IV/Pekanbaru bersama aparat kepolisian dan TNI masih terus berjuang tanpa kenal lelah memadamkan api yang kini memasuki hari ketiga. Luas lahan gambut yang terbakar mencapai 2 hektar dan kondisinya masih tergolong parah dengan asap tebal yang terus membubung.
Air terbatas, helikopter diterjunkan!
Salah satu kendala terbesar yang dihadapi petugas di lapangan adalah keterbatasan sumber air untuk pemadaman. Akibatnya, api terus merambat ke area yang lebih luas dan sulit dijangkau. Untuk mengatasi hal ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau akhirnya mengerahkan satu unit helikopter untuk melakukan water bombing atau penyiraman dari udara!
“Kami kerahkan helikopter untuk membantu pemadaman dari udara karena akses darat sangat terbatas,” ujar salah satu petugas di lokasi.
Komandan Regu III Manggala Agni Pekanbaru, M Jamil, mengungkapkan bahwa titik kebakaran di Desa Rimbo Panjang ternyata bukan hanya satu, melainkan ada dua lokasi! Satu titik berada di Jalan Perwira dan titik lainnya di Jalan Kamboja yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pemukiman.
“Kami bagi tugas tim pemadam. Ada dari Manggala Agni, polisi, dan TNI yang bekerja sama. Dua titik ini sama-sama dekat dengan pemukiman warga, sehingga kami harus ekstra waspada,” jelas Jamil saat diwawancarai, Senin.
Kondisi masih parah, harapan warga di ujung asap
Hingga berita ini diturunkan, kondisi kebakaran masih tergolong parah dan asap tebal masih terus mengepung wilayah permukiman. Tim gabungan terus berupaya maksimal meski kendala air dan medan gambut yang sulit menjadi tantangan berat.
Harapan warga seperti Muliadi kini tertumpu pada upaya pemadaman dari udara dan darat yang dilakukan petugas. “Semoga segera reda, saya pengin bisa berkebun lagi tanpa pakai masker,” harapnya sembari menatap kepulan asap di kejauhan.
Kisah perjuangan warga Kampar dan petugas pemadam ini menjadi pengingat bahwa bencana karhutla bukan hanya masalah lingkungan, tapi juga kemanusiaan. Saat asap menebal dan nyawa terancam, semua pihak dituntut untuk bergerak cepat dan bersinergi.
Kita doakan semoga api segera padam, asap segera sirna, dan warga bisa bernapas lega kembali.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











