YOGYAKARTA, Cinta-news.com – Geger! Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) kini tengah memburu dua alumni yang diduga nekat memalsukan riset berbasis kecerdasan buatan (AI). Tujuannya apa lagi kalau bukan demi mendapatkan travel grant agar bisa berangkat ke konferensi internasional di Denmark. Wah, katanya sih biaya gratis, tapi nama baik Indonesia yang jadi taruhannya!
Dua nama yang sedang viral di media sosial itu adalah Rifaldy Fajar dan Prihantini. Warganet pun langsung ramai-ramai menyoroti aksi nekat kedua alumni tersebut.
Kampus UNY Akhirnya Angkat Bicara
Setelah kabar ini meledak di mana-mana, pihak kampus pun bergerak cepat. Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Prof. Nur Hidayanto, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menemukan kedua nama tersebut dalam database alumni.
“Kami berhasil mencocokkan nama Rifaldy Fajar dan Prihantini di dalam data kampus,” ujar Prof. Nur Hidayanto dengan nada hati-hati, Selasa (26/05/2026).
Namun, sebelum terburu-buru mengambil kesimpulan, universitas masih belum bisa memastikan apakah kedua nama itu benar-benar mengacu pada orang yang sama dengan yang disebut-sebut di jagat maya. “Kami belum bisa memastikan identitas mereka secara bulat. Soalnya, kami tidak tahu persis apakah namanya itu sama atau tidak,” tambahnya sambil tetap membuka ruang klarifikasi.
UNY Akui Belum Terima Laporan Resmi
Meski namanya sudah terlanjur tercoreng di publik, Prof. Nur Hidayanto menegaskan bahwa hingga saat ini UNY belum menerima laporan resmi sekalipun terkait kasus dugaan pemalsuan riset AI tersebut. Karena itu, kampus memilih untuk melakukan penelusuran internal terlebih dahulu.
“Kami baru saja mengawali penelusuran ini. Kami juga sudah mendiskusikannya dengan tim internal. Nuwun sewu ya (mohon maaf), saya sungguh tidak tahu apakah orang yang sama atau tidak,” ujarnya dengan jujur.
Jika kedua nama yang sedang viral itu ternyata benar-benar alumni UNY, maka mereka tercatat sebagai lulusan tahun 2017 dan 2018. “Kalau memang benar mereka yang ada di database kami, satu lulus tahun 2018 dan satunya lagi 2017. Tapi sekali lagi, kami perlu memastikan lagi, benar niki dudu wonge (ini orangnya atau bukan),” kilahnya sambil tetap mengedepankan proses klarifikasi.
Prihantini Akhirnya Minta Maaf ke UNY
Setelah berusaha menghubungi nomor kontak yang tertera di database, pihak kampus mendapat hasil yang berbeda. Nomor Rifaldy Fajar ternyata belum bisa dihubungi alias mandek. Sementara itu, Prihantini sudah berhasil dikontak.
Nah, yang menarik, ketika pihak kampus memintai penjelasan terkait polemik ini, Prihantini langsung menyampaikan permintaan maaf kepada UNY. Ia mengaku menyesal karena kegaduhan ini ikut menyeret nama almamater tercinta.
Selain minta maaf, Prihantini juga menyebut bahwa telah terjadi miskonsepsi besar yang menyebar begitu cepat di media sosial. Sayangnya, tidak ada pihak yang melakukan konfirmasi langsung kepadanya terlebih dahulu.
“Informasi yang beredar di media sosial itu tidak sepenuhnya benar,” tegas Prof. Nur Hidayanto menirukan keterangan Prihantini. Saat ini, Prihantini dikabarkan tengah menyiapkan klarifikasi resmi dan penjelasan lengkap untuk meluruskan isu yang semakin liar tersebut.
Jika Terbukti, UNY Siap Bawa ke Komite Etik
Pihak UNY pun tidak main-main. Prof. Nur Hidayanto menegaskan, jika nantinya terbukti bahwa dua sosok yang disebut di media sosial itu adalah alumni asli UNY, maka kampus akan langsung menindaklanjuti persoalan ini. Langkah yang akan ditempuh adalah membahasnya di Komite Etik UNY.
“Masalah seperti ini tidak bisa diputuskan oleh satu pihak saja. Pasti harus ada duduk bersama alias musyawarah,” tegasnya pada Selasa (26/5/2026).
Ini Dia Kronologi Lengkap Dugaan Pemalsuan yang Viral!
Nah, sebelum kisah ini menjadi sebesar sekarang, kasus dugaan pemalsuan riset ini sebenarnya sudah lebih dulu ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial. Ceritanya, sekelompok orang Indonesia diduga memalsukan penelitian hanya agar bisa presentasi dalam konferensi internasional bidang pneumonia di Kopenhagen, Denmark, pada tahun 2026.
Bukan rahasia lagi kalau aksi ini sontak membuat publik geram.
Akun Threads @mandharabrasika Memantik API
Pemicu utamanya adalah unggahan dari akun @mandharabrasika di platform Threads pada Senin (25/5/2026). Dengan nada geram, akun tersebut menulis:
“Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia.”
Wah, serem banget kan? Unggahan itu pun langsung memicu gelombang komentar dan kecaman dari warganet. Pemilik akun bahkan membeberkan fakta yang lebih mencengangkan: salah seorang pelaku diduga nekat menggunakan identitas berbeda dengan cara berganti nama saat presentasi berlangsung.
Gila memang! Pelaku juga disebut sampai mengganti jilbab dan nametag ketika tampil di konferensi tersebut. Seolah-olah mereka sedang main sandiwara di depan para ilmuwan dunia.
Riset Hasil Fabrikasi dan Bantuan AI
Tak hanya mengubah identitas, isi riset yang dipresentasikan pun diduga kuat sebagai hasil fabrikasi alias karangan belaka. Penelitian itu dibuat dengan mengandalkan teknologi kecerdasan buatan (AI), mulai dari data, gambar, hingga tulisan yang digunakan.
Lokasi penelitian yang dicantumkan dalam riset itu pun terasa janggal. Pasalnya, lokasinya berada di berbagai wilayah luar negeri yang jauh panggang dari api, seperti Pegunungan Andes di Peru, dataran tinggi Etiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India utara.
“Tapi perisetnya semua orang Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik sama sekali,” sindir akun @mandharabrasika dengan tajam.
Lembaga afiliasi yang tercantum dalam riset tersebut juga diduga fiktif alias tidak pernah ada di dunia nyata.
Termotivasi Jalan-jalan Gratis, Reputasi Indonesia Terancam
Aksi pemalsuan ini diduga kuat dilakukan hanya demi satu tujuan: mendapatkan travel grant agar para pelaku bisa menghadiri konferensi internasional di luar negeri tanpa mengeluarkan biaya pribadi. Ibaratnya, mereka ingin jalan-jalan gratis ke Denmark dengan cara yang curang.
“Dengan cara ini, pelaku mendapatkan travel grant yang memungkinkan mereka keluar negeri secara gratis. Gratis! Karena yang membayar mahal adalah Indonesia, yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia,” tulis akun @mandharabrasika dengan nada kecewa.
Yang lebih memprihatinkan lagi, menurut akun tersebut, para pelaku diduga sudah beberapa kali melakukan aksi serupa dan berhasil lolos mendapatkan travel grant berkali-kali. Jadi, ini bukan pertama kalinya mereka melancarkan aksi nekat tersebut.
Wah, semoga kasus ini segera terungkap dan memberikan efek jera bagi siapa pun yang mencoba memalsukan riset hanya demi kepentingan pribadi. Pantau terus ya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











