Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Tim Manggala Agni Rengat Waspada Harimau Saat Padamkan Api di Dekat Suaka Margasatwa

PEKANBARU, Cinta-news.com – Sebuah pertaruhan hidup dan mati baru saja dijalani oleh Tim Manggala Agni Daops Sumatera VII Rengat. Mereka bukan hanya berhadapan dengan keganasan api yang membakar hutan dan lahan (Karhutla), tetapi juga harus waspada terhadap tatapan tajam penguasa hutan yang siap menerkam kapan saja. Mereka dikerahkan ke lokasi paling berisiko di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, yang ternyata merupakan area jelajah harimau sumatera.

Tim Manggala Agni Rengat

Bayangkan situasinya: Di satu sisi, kobaran api terus melahap semak belukar dan gambut, menyemburkan asap pekat yang menyengat mata dan mengganggu pernapasan. Di sisi lain, ancaman maut datang dari makhluk buas yang mungkin saja sedang mengintai di balik pepohonan yang tersisa. Inilah tantangan nyata yang dihadapi para petugas di lapangan.

“Situasinya benar-benar bikin merinding,” ujar Muhammad Ilham Sidik, Kepala Manggala Agni Rengat, saat dihubungi melalui sambungan telephon pada Selasa (10/3/2026) malam. Suaranya terdengar lelah, namun tetap tegas. Ia menjelaskan, “Lahan yang terbakar ini bukan sembarang lahan. Area ini merupakan semak belukar yang berbatasan langsung dengan hutan, dan kami mendapat informasi bahwa ini adalah sarang harimau sumatera. Lokasinya dekat dengan Suaka Margasatwa Kerumutan. Artinya, ini adalah wilayah jelajah ‘beliau’, si raja rimba.”

Dengan sigap, tim Manggala Agni memulai operasi pemadaman sejak pagi buta hingga menjelang sore. Namun, ada aturan tak tertulis yang harus mereka patuhi dengan disiplin baja: semua anggota harus sudah meninggalkan lokasi sebelum azan Maghrib berkumandang. Bukan karena mereka malas atau takut panas, melainkan karena naluri bertahan hidup.

Peringatan Warga

Ilham menambahkan, kewaspadaan ekstra ini bukan isapan jempol belaka. Saat mereka asyik memadamkan api, warga lokal yang mengetahui betul karakteristik hutan setempat berdatangan. Mereka memberikan peringatan keras yang membuat bulu kuduk merinding. “Warga mengingatkan kami dengan sangat, jangan sampai terlalu sore masih bertahan di lokasi. Kata mereka, begitu senja tiba, harimau mulai bangun dan aktif berburu. Kami tidak main-main dengan ancaman ini,” jelas Ilham.

Sekitar pukul 16.30 WIB, tepat saat bayang-bayang mulai memanjang, komando pun berbunyi. Ilham menarik seluruh anak buahnya keluar dari area titik api yang mengarah ke dalam hutan. Mereka tidak ingin mengambil risiko. “Jam setengah lima sore, saya putuskan untuk menarik semua anggota keluar. Medannya juga sangat berat, karena api mulai merambat masuk ke kawasan hutan primer. Kami tidak bisa mempertaruhkan nyawa anggota untuk dua bahaya sekaligus,” tegasnya.

Kebakaran hebat ini ternyata telah berlangsung selama dua hari berturut-turut. Di hari kedua ini, tim gabungan yang terdiri dari Manggala Agni Rengat, personel TNI, Polri, masyarakat setempat, serta petugas pemadam dari perusahaan swasta, masih berjibaku menjinakkan api. Sayangnya, kondisi di lapangan masih belum bersahabat. Angin yang bertiup kencang kadang membuat api kembali berkobar di titik-titik yang sebelumnya sudah padam.

Misteri Api dan Luka di Bumi Gambut

Sementara ini, luas lahan gambut yang hangus diperkirakan mencapai 2 hektar. Asap tebal masih mengepul dari dalam tanah, menandakan api masih membara di lapisan gambut yang dalam. Ini membuat proses pemadaman menjadi semakin rumit dan memakan waktu.

Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti kebakaran masih diselimuti teka-teki. Namun, sebuah temuan mengejutkan didapatkan petugas di lapangan. Mereka melihat bekas-bekas lahan yang diduga baru saja dibuka. Apakah ini ulah tangan-tangan jahil yang sengaja membakar lahan untuk membuka area baru? Ataukah karena faktor alam? Penyidik masih terus mendalami asal mula si jago merah ini.

Satu hal yang pasti, keberanian Tim Manggala Agni dan personel gabungan lainnya patut diacungi jempol. Mereka tidak hanya bertarung melawan elemen api dan asap, tetapi juga harus berpikir seribu kali untuk tetap selamat dari incaran predator puncak. Mereka adalah para pahlawan modern yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan keringat, demi menyelamatkan ekosistem dan mencegah bencana asap yang lebih luas, bahkan ketika ancaman maut mengintai di setiap semak belukar. Operasi ini menjadi bukti bahwa menjadi penjaga hutan di Sumatera bukanlah tugas biasa; ia adalah sebuah pengabdian dengan risiko yang tak ternilai.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *