Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Sudah Lunas Rp85 Juta, WO Marwah Tak Penuhi Kewajiban, Pengantin Pilih Tempuh Jalur Hukum

JAKARTA, Cinta-news.com – Mimpi indah pernikahan Aldi (32) dan Feny (32) justru berubah menjadi mimpi buruk yang menyakitkan. Pasangan asal Bekasi, Jawa Barat, ini akhirnya nekat melaporkan wedding organizer (WO) Marwah yang beroperasi di Cakung, Jakarta Timur, ke Polres Metro Jakarta Timur pada Minggu (24/5/2026) malam. Mereka menuding WO tersebut melakukan penipuan setelah resepsi pernikahan mereka hancur berkeping meski sudah membayar lunas puluhan juta rupiah.

Laporan polisi itu dilayangkan tidak lama setelah pesta pernikahan Aldi dan Feny yang digelar di Islamic Centre Bekasi, Kecamatan Bekasi Selatan, pada Sabtu (23/5/2026) berjalan sangat kacau. Semua persiapan yang sudah matang seketika buyar karena WO yang mereka percaya tidak bertanggung jawab.

Dengan nada kecewa, Aldi menjelaskan bahwa WO Marwah sama sekali tidak menjalankan kewajibannya untuk menyediakan paket resepsi pernikahan sesuai perjanjian. Padahal, Aldi dan Feny sudah melunasi pembayaran sebesar Rp85 juta tanpa sisa. “Semua barang bukti kini masih tersimpan rapi dalam bentuk digital. Mulai dari chat WhatsApp, seluruh transaksi pembayaran, surat pernyataan yang sudah ditandatangani, hingga foto-foto komunikasi dengan owner-nya, semua kami kumpulkan,” ungkap Aldi dengan tegas di Mapolres Metro Jakarta Timur, Minggu malam.

Begini Kronologi Mencekannya

Feny pun mulai membuka suara dan menceritakan awal mula petaka ini. Awalnya, ia menemukan akun Instagram WO Marwah secara tidak sengaja. Setelah tertarik, Feny langsung meminta daftar harga paket pernikahan yang mereka tawarkan. “Saya kemudian melakukan pembayaran DP terlebih dahulu. Sesudah itu, saya minta untuk melakukan tes makanan. Saya pun datang langsung ke acara yang digelar oleh Marwah,” kenang Feny.

Saat melakukan tes makanan, Feny mengaku tidak merasa curiga sedikit pun. Pasalnya, ia melihat banyak staf WO Marwah yang sibuk bekerja di lokasi acara. Ia juga berkesempatan melihat langsung berbagai fasilitas seperti gubukan dekorasi, penata rias (MUA), pembawa acara (MC), dekorasi pernikahan, hingga model pelaminan yang mewah. “Setelah pulang dari sana, admin Marwah langsung menghubungi saya untuk menanyakan informasi lain. Lalu, kami melakukan fitting gaun sebanyak dua kali di kantor mereka yang berada di JGC. Setelah fitting selesai, kami lanjut melakukan pembayaran bertahap hingga akhirnya lunas,” tambah Feny.

Feny akhirnya melunasi seluruh pembayaran paket pernikahan pada awal April 2026. Tak berhenti di situ, ia kembali melakukan pembayaran tambahan karena jumlah tamu (pax) bertambah pada 11 Mei 2026. Total keseluruhan pembayaran yang sudah mereka setorkan kepada WO Marwah pun mencapai angka Rp85 juta.

Sebelum acara, Feny sempat mengikuti technical meeting secara daring bersama tim WO. Namun, menurut pengakuannya, pertemuan itu berlangsung sangat singkat dan tidak memberikan jawaban memuaskan atas berbagai pertanyaan teknis terkait acara. “Menurut saya, technical meeting-nya masih sangat tidak jelas karena tidak detail. Yang saya dapatkan cuma informasi seputar catering berapa pax, gubukan berapa pax per item, dan pax-nya di sesi ke berapa. Sungguh tidak detail,” keluh Feny.

Ia pun selalu berusaha bertanya tentang pengarahan acara, termasuk dari arah mana ia harus masuk ke pelaminan. Namun, setiap kali ia bertanya, jawaban yang ia terima selalu sama, “‘Nanti ya dihubungi setelah H-1’.” Padahal, secara normal, technical meeting itu seharusnya langsung mendatangi venue, melihat langsung lokasi, lalu diarahkan dengan jelas. “Dari situlah saya mulai curiga,” tegas Feny.

Kecurigaan Feny semakin menjadi-jadi setelah ia mendengar pengalaman pahit dari korban lain yang sebelumnya pernah memakai jasa WO tersebut. “Di awal tahun, saya pernah mendengar kasus serupa dari Kak Diana, korban sebelumnya. Saat itu saya berpikir, ‘acara mungkin masih tetap berjalan, tapi memang banyak kekurangan’, seperti gubukan yang kurang, pesan empat unit tapi yang datang hanya tiga. Catering juga telat, harusnya jam 11.00 sudah ditata, ini baru disajikan jam setengah 12,” cerita Feny.

H-1 Semakin Mencekam

Pada 13 Mei 2026, situasi semakin memanas. Pihak Islamic Centre menghubungi Feny untuk meminta pelunasan pembayaran gedung yang ternyata belum dibayarkan oleh pihak WO Marwah. Jumlahnya sangat besar, yakni Rp17,5 juta. Sementara itu, DP yang sudah dibayarkan oleh pihak Marwah baru sebesar Rp6 juta. “Setelah mendapat info dari Islamic Centre, saya langsung menginfokan ke Marwah di grup. Saya tanyakan, ‘Kak, ini kenapa belum ada pembayaran?’. Mereka menjawab, ‘Iya, nanti akan saya bayarkan, tunggu saja ya, Kak’,” jelas Feny menirukan jawaban WO.

Namun, hari berganti hari, pihak Islamic Centre terus menagih pelunasan pembayaran tanpa henti. Feny pun berusaha mati-matian menghubungi pihak WO Marwah, tetapi tidak mendapat respons sama sekali. Sementara itu, Aldi menambahkan bahwa sehari sebelum acara pernikahan, pembayaran gedung ternyata masih menggantung. Merasa tidak tenang, ia bersama Feny kemudian mendatangi langsung kantor WO Marwah yang berada di kawasan Cakung.

“Akhirnya kami mendatangi gudang mereka di Rorotan. Kami sampai di sana jam setengah 12 siang, hari Jumat. Saat itu, ada istrinya yang bernama Eka. Kami sampai di sana dan meminta penjelasan dengan tegas. Namun, alasan yang dia berikan sangat berbelit-belit. Intinya dia hanya bilang ‘nanti dibayar, nanti dibayar’ berulang kali. Padahal saat itu sudah H-1 dan belum ada pembayaran sama sekali,” ungkap Aldi dengan nada kesal.

Kemudian, pada pukul 13.00 WIB setelah shalat Jumat, suami Eka akhirnya datang. Aldi langsung menanyakan kapan pelunasan akan dilakukan. Namun, pihak WO Marwah mengaku belum bisa melunasi karena deposito mereka belum cair. “Kami minta ketegasan jam berapa mereka bisa bayar, karena sudah H-1. Suami Eka bilang jam 4 baru deposito itu cair. ‘Oh ya sudah, saya tunggu’, jawab saya,” cerita Aldi.

Malam Hari Tanpa Kepastian

Aldi mengaku bahwa dirinya dan sang istri terus menunggu kejelasan hingga larut malam menjelang hari pernikahan pada Jumat (22/5/2026). Sambil menunggu dengan cemas, Aldi dan Feny kemudian menghubungi sejumlah vendor seperti MUA dan MC. Mereka dengan jujur menjelaskan skenario terburuk bahwa kemungkinan besar tidak akan ada acara resepsi, dan yang berjalan hanya ijab kabul.

Dengan lega, mereka mendapat kabar baik. “MUA bersedia hadir, MC juga bersedia hadir, hairdo bersedia, attire juga karena sudah lunas. Hanya empat vendor itu yang bisa hadir,” jelas Aldi. Pihak keluarga Aldi dan Feny pun akhirnya bergerak cepat. Mereka berupaya mencari makanan secara mendadak untuk para tamu yang sudah datang. “Kemarin itu baru DP gedung dari pihak Marwah. Namun, Alhamdulillah, pihak Islamic Centre karena tahu kami adalah korban, mereka bersedia menyediakan fasilitas untuk akad selama satu sampai dua jam. Alhamdulillah, acara tetap kami jalankan,” pungkas Aldi dengan napas lega di tengah kekecewaan yang masih menyisakan luka.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *