Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Satpam SPPG Ciputat Ditangkap, Diduga Pimpin Pencurian 1.700 Ompreng Hasilnya untuk Sabu

TANGERANG SELATAN, Cinta-news.com – Seorang satpam yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga aset Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ciputat 07, justru berubah menjadi dalang di balik pencurian ribuan ompreng berbahan stainless steel dan berbagai peralatan dapur lainnya. Ironisnya, polisi mengungkap bahwa hasil penjualan barang curian itu diduga mengalir untuk membeli narkotika jenis sabu.

Kasus mengejutkan ini akhirnya terungkap setelah tim penyidik dari Polsek Ciputat Timur melakukan penyelidikan intensif sejak laporan resmi diterima pada 8 Juli 2026. Proses penyelidikan yang cukup panjang itu membuahkan hasil dengan penangkapan tiga tersangka yang masing-masing berinisial TRS, DC, dan GZ. Sementara itu, seorang pelaku lain yang diketahui berinisial HK masih buron dan telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Satpam Dalang Pencurian

Satpam

Kapolsek Ciputat Timur, Kompol Bambang Askar Sodiq, mengungkapkan bahwa TRS yang bekerja sebagai satpam di dapur SPPG ternyata menjadi sosok otak di balik aksi pencurian tersebut. Bukan sekadar ikut-ikutan, TRS justru merancang seluruh skenario kejahatan dengan sangat terencana.

“Security ini punya peran yang sangat dominan dalam kasus ini, dia berperan sebagai kreator yang menyusun skenario bagaimana pencurian pemberatan ini berlangsung, bahkan dia pula yang memerintahkan orang-orang untuk melakukan aksi tersebut. Peran dua tersangka lainnya ada yang berfungsi sebagai penerima hasil curian dan ada pula yang langsung terjun melakukan aksi,” ujar Bambang saat dihubungi melalui WhatsApp pada Rabu (29/7/2026).

Menurut hasil penyidikan, aksi pencurian ini tidak dilakukan sekaligus, melainkan secara bertahap sejak 16 Juni hingga 7 Juli 2026. Kondisi bangunan yang relatif sepi karena dapur SPPG belum beroperasi untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat itu, dimanfaatkan oleh para pelaku untuk mengangkut barang sedikit demi sedikit tanpa menimbulkan kecurigaan.

Total kerugian yang ditimbulkan dari aksi pencurian ini terbilang sangat besar. Selain 1.700 ompreng berbahan stainless steel, para pelaku juga membawa kabur dua kompor gas merek Rinnai, satu blender, satu printer, satu genset, satu set power box berikut perekam CCTV, hingga satu bundel kunci gerbang dan ruangan dapur.

Uang Hasil Curian Dibakar untuk Sabu

Dalam proses pemeriksaan yang berlangsung intensif, polisi berhasil mengungkap fakta mencengangkan bahwa barang-barang hasil curian ternyata tidak disimpan oleh para pelaku. Ompreng-ompreng yang dicuri dengan susah payah itu justru segera dijual kembali, bahkan sebagian dijual melalui platform daring.

“Omprengnya itu kan dijual. Akhirnya mereka mengaku bahwa ompreng itu dijual. Ada yang dijual secara online dan ada juga yang dijual langsung. Yang lebih memprihatinkan, hasil penjualannya mereka gunakan untuk membeli narkoba, khususnya sabu,” jelas Bambang.

Pengakuan ini menjadi temuan penting dalam penyidikan karena berhasil mengungkap motif sebenarnya di balik aksi pencurian tersebut. Para pelaku ternyata tidak menyimpan barang curian untuk digunakan sendiri, melainkan segera menguangkannya untuk memenuhi kebutuhan adiktif mereka terhadap narkotika.

Satpam Mencurigakan Menggagalkan Penyelidikan

Proses pengungkapan kasus ini ternyata tidak berjalan mulus. Penyelidikan sempat mengalami kendala berat lantaran tidak adanya rekaman CCTV maupun saksi mata yang mengetahui aksi pencurian tersebut. Kondisi ini membuat penyidik hampir kehilangan jejak.

Namun, saat mendatangi tempat kejadian perkara, penyidik mulai menaruh perhatian pada sikap TRS yang dinilai sangat tidak biasa. Ketika polisi melakukan olah tempat kejadian perkara, TRS terlihat tidak menunjukkan rasa hormat yang semestinya terhadap aparat kepolisian.

“Awalnya kan enggak ada petunjuk sama sekali, CCTV enggak ada, saksi juga enggak ada. Hanya pada saat ke sana ke TKP, saya melihat satpam ini kok enggak respect sama polisi yang datang. Itu yang membuat saya curiga,” kata Bambang menjelaskan.

Kecurigaan itulah yang kemudian mendorong penyidik untuk memanggil TRS dan memintai keterangan. Polisi kemudian meminta yang bersangkutan menjalani tes urine yang ternyata membuahkan hasil mengejutkan.

“Di situlah saya coba panggil security-nya. Akhirnya saya suruh periksa, kok menyon-menyon mulutnya. Kemudian saya suruh cek urine. Hasilnya ternyata positif,” ungkap Bambang.

Pengakuan Setelah Empat Hari Interogasi

Hasil tes urine yang positif itu menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk mendalami lebih jauh keterlibatan TRS dalam kasus pencurian ini. Setelah menjalani pemeriksaan selama beberapa hari, akhirnya ia mengakui seluruh perbuatannya dan mengungkap keterlibatan pelaku-pelaku lain.

“Dia ngaku semua setelah beberapa hari itu, setelah hampir empat harian, dia akhirnya mau ngaku dan menjelaskan secara rinci,” jelas Bambang.

Pengakuan tersebut kemudian menjadi kunci bagi polisi untuk menangkap dua tersangka lainnya, yakni DC dan GZ. Sementara itu, polisi masih terus memburu HK yang diduga kuat ikut terlibat dalam aksi pencurian tersebut dan kini telah masuk dalam daftar pencarian orang.

Ancaman Hukuman Paling Lama Sembilan Tahun

Polisi kini telah menetapkan TRS, DC, dan GZ sebagai tersangka dalam kasus pencurian dengan pemberatan ini. Ketiganya dijerat dengan Pasal 477 ayat (1) huruf e dan g Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Ancaman hukumannya pun terbilang berat, yakni pidana penjara paling lama sembilan tahun. Proses hukum terhadap para tersangka akan terus berlanjut seiring dengan upaya polisi untuk menangkap satu tersangka lainnya yang masih buron.

Kasus ini menjadi pelajaran berharga bahwa tidak semua penjaga keamanan dapat dipercaya sepenuhnya, dan bahwa motif ekonomi seringkali mendorong seseorang untuk melakukan tindakan kriminal yang merugikan banyak pihak. Lebih ironis lagi, hasil kejahatan justru digunakan untuk membeli narkotika yang semakin merusak diri para pelaku.

Dapur SPPG yang seharusnya menjadi tempat pengolahan makanan bergizi untuk masyarakat, kini menjadi saksi bisu atas aksi kriminal yang melibatkan orang yang justru ditugaskan untuk menjaganya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *