Cinta-news.com – Pemerintah Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, baru saja merilis keputusan yang sangat spektakuler untuk merelokasi sebanyak 170 pedagang emperan yang selama ini memadati kawasan luar Pasar Pagi. Langkah berani ini mengarahkan para pedagang kaki lima tersebut untuk berpindah lapak menuju gedung megah berlantai dua yang berdiri kokoh persis di tengah-tengah pusat keramaian pasar tradisional tersebut. Alhasil, pemandangan trotoar yang tadinya kumuh dan semrawut diprediksi bakal langsung berubah total menjadi jauh lebih modern, rapi, dan tertata dengan sangat prima.
Menariknya, para pelaku usaha mikro ini nantinya bakal menempati kios-kios bersih dan nyaman yang berlokasi tepat di lantai dua gedung pasar tersebut. Namun, kejutan sebenarnya tidak berhenti sampai di situ saja, sebab Pemerintah Kota Pangkalpinang secara mengejutkan membebaskan seluruh biaya sewa kios alias gratis tanpa pungutan sepeser pun selama enam bulan pertama. Langkah manis ini tentu saja langsung disambut hangat oleh para pedagang karena memberikan angin segar serta ruang bernapas bagi keberlanjutan modal usaha mereka di lokasi berdagang yang baru.
Saat memberikan keterangan resminya kepada awak media, Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin Udin, menegaskan bahwa kebijakan relokasi berskala besar ini sejatinya merupakan bagian penting dari agenda tata ruang kota. Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa penataan menyeluruh terhadap kawasan pasar tersebut bertujuan utama untuk mengurai kesan kumuh dan semrawut yang sudah bertahun-tahun melekat pada lokasi itu. Oleh sebab itu, pemindahan pedagang ke dalam gedung menjadi opsi terbaik yang harus segera dieksekusi demi menghadirkan wajah kota yang jauh lebih estetik dan tertata.
Keuntungan Berlipat: Bebas Sewa 6 Bulan dan Pendekatan Humanis Pemkot
“Pemerintah sengaja memberikan dispensasi khusus berupa sewa gratis selama enam bulan penuh agar para pedagang tidak merasa terbebani di masa transisi ini,” ujar Udin saat meninjau langsung lokasi di Pangkalpinang pada Sabtu (7/11/2026). Selain itu, Udin menggarisbawahi bahwa tenggat waktu setengah tahun tersebut dirasa sangat cukup bagi para pedagang untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, mengenali denah kios mereka, sekaligus mengundang kembali para pelanggan setia agar tetap nyaman berbelanja tanpa khawatir kehilangan arah pencarian.
Di samping menetapkan kebijakan sewa gratis yang menggiurkan, Udin mengungkapkan bahwa jajarannya telah melancarkan proses sosialisasi secara intensif sejak jauh-jauh hari kepada seluruh lapisan pedagang. Tak hanya sebatas memberikan dorongan lewat komunikasi verbal, Pemerintah Kota Pangkalpinang juga secara konsisten menggiatkan aksi bersih-bersih lingkungan pasar secara rutin. Langkah krusial ini diambil sebagai fondasi persiapan matang sebelum proses kepindahan massal benar-benar direalisasikan secara menyeluruh di lapangan.
“Kami selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis kepada seluruh pedagang yang selama ini berjualan di area yang tidak semestinya,” tegas Udin kembali dengan penuh rasa empati. Lebih jauh lagi, beliau meluruskan persepsi publik bahwa pemerintah sama sekali tidak berniat mengusir atau mematikan mata pencaharian warga. Sebaliknya, pemkot hanya ingin mengatur tata letak lapak agar para penjual dapat mengais rejeki dengan tenang dan para pembeli pun bisa berbelanja dengan tingkat kenyamanan yang jauh lebih maksimal.
Bye-Bye Kemacetan: Revitalisasi Lingkungan Pasar dan Pengaspalan Jalan
Memang tidak bisa dimungkiri, kondisi sebelum penataan memperlihatkan pemandangan yang cukup memprihatinkan di mana deretan lapak pedagang sembako meluber hingga memadati jalan masuk serta badan jalan utama. Akibat keterbatasan lahan tersebut, kemacetan lalu lintas yang parah tidak pernah terhindarkan setiap harinya. Malahan, tumpukan sampah dari aktivitas berdagang kerap menyumbat saluran air di sekitarnya, sehingga memaksa kantong-kantong parkir kendaraan meluap hingga memakan separuh badan jalan umum.
Padahal, Pasar Pagi memiliki peran vital sebagai urat nadi perekonomian lokal yang selalu dipadati oleh ribuan warga masyarakat Pangkalpinang sejak sehabis subuh hingga menjelang siang hari. Kehadiran pembeli yang terus membludak saban hari menjadikan pasar tradisional ini sebagai pusat aktivitas yang sangat sibuk. Oleh karena itu, kekacauan lalu lintas dan penurunan kualitas kebersihan lingkungan di area tersebut jelas membutuhkan penanganan yang sangat serius serta berkelanjutan dari pihak berwenang.
Berangkat dari permasalahan kompleks tersebut, Udin menjelaskan secara terperinci bahwa proyek penataan ini tidak cuma sekadar memindahkan lokasi fisik berdagang, melainkan juga mencakup revitalisasi lingkungan pasar secara menyeluruh. Salah satu langkah konkret yang sedang dikerjakan oleh pemerintah daerah adalah melakukan pengaspalan ulang pada badan jalan yang rusak di sekitar kawasan pasar. Alhasil, aksesibilitas transportasi bagi para pengguna jalan dipastikan bakal menjadi jauh lebih mulus, aman, dan lancar.
Pada akhirnya, Udin sangat berharap agar seluruh elemen pedagang dapat menyatukan visi dan memberikan dukungan penuh terhadap kebijakan penataan ini demi menciptakan iklim pasar yang tertib, bersih, serta menyenangkan. Lebih lanjut, beliau menerangkan bahwa proses pembagian kios akan dilakukan secara transparan melalui sistem pencabutan undian atau lot per kelompok dagang. Dalam skenario tata ruang baru ini, pedagang yang menjual barang-barang kering akan menempati area lantai atas, sementara pedagang komoditas basah diposisikan di lantai bawah agar kebersihan dan sanitasi tetap terjaga secara optimal.
Strategi Pengelompokan Lapak: Pedagang Diatur Berdasarkan Jenis Komoditas Dagangan
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan dan UMKM Kota Pangkalpinang, Muhammad Yasin, mengonfirmasi bahwa jajarannya telah merampungkan pendataan rinci terhadap seluruh pedagang di pelataran pasar sebagai langkah awal yang krusial. Melalui pendekatan berbasis data, pihak dinas langsung mengelompokkan para pedagang ke dalam klaster khusus sesuai dengan jenis barang dagangan yang mereka jual. Dengan demikian, alokasi tempat untuk kelompok barang basah seperti daging dan ikan tidak akan tercampur aduk dengan kelompok barang kering seperti sembako atau pakaian.
Selain mematangkan pengelompokan jenis dagangan, Yasin menambahkan bahwa pemerintah kota tengah bekerja keras memvalidasi ketersediaan unit los, kios, hingga lapak yang ada di gedung pasar. Langkah antisipatif ini diambil guna menjamin agar tidak ada satu pun pedagang yang terlewatkan atau tidak mendapatkan jatah tempat saat proses pemindahan berlangsung. Maka dari itu, kepastian fasilitas tempat berjualan yang memadai menjadi fokus utama dari tim lapangan saat ini.
“Sebagai fondasi awal, kami telah merampungkan pendataan seluruh pedagang yang selama ini menggelar lapak di area pelataran,” papar Yasin saat membeberkan progres kerja jajarannya. Tak berhenti di situ, Yasin menegaskan bahwa pemetaan klaster tersebut memang dirancang secara teliti agar pembagian area basah dan kering bisa berjalan presisi. Alhasil, efisiensi ruang di dalam gedung baru dapat dimaksimalkan tanpa menimbulkan gesekan antarpedagang.
Berdasarkan hasil verifikasi data sementara di lapangan, tim mencatat ada sekitar 170 pedagang emperan yang sah dan masuk dalam daftar prioritas penataan tersebut. Angka ini menjadi tolok ukur utama bagi pemerintah daerah dalam merancang kapasitas penampungan di dalam gedung. Oleh sebab itu, seluruh skema pemindahan diatur secara cermat agar angka 170 pedagang tersebut terakomodasi secara utuh tanpa ada yang tercecer sedikit pun.
Lebih lanjut, Yasin menyebutkan bahwa Dinas Koperasi, Perdagangan dan UMKM kini terus berkoordinasi secara intensif dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar setempat untuk menguji kelayakan serta kapasitas ruangan yang tersedia. Kedua lembaga ini secara berkala menyisir setiap sudut gedung guna memastikan bahwa setiap lapak memenuhi standar kenyamanan, pencahayaan, serta sirkulasi udara yang baik. Alhasil, calon penghuni gedung baru kelak dapat menjalankan roda usahanya secara berkelanjutan dan produktif.
Demi memenangi tantangan ketersediaan tempat tersebut, pemerintah kota secara kreatif bakal mengoptimalkan pemanfaatan dua lorong utama gedung serta memaksimalkan seluruh area los dan kios yang ada. Langkah strategis ini meyakinkan publik bahwa tata ruang pasar yang baru tidak akan menyisakan sudut mati yang tidak terpakai. Pada akhirnya, kombinasi antara infrastruktur yang tertata ramah, tempat sewa gratis, dan pengaturan tata letak yang profesional dipastikan siap membawa Pasar Pagi Pangkalpinang menuju era baru pasar tradisional yang modern, bersih, dan menyejahterakan seluruh warganya.v
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
