Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Protes Biaya Hidup Pekan Ketiga di Prancis Ricuh, Lebih dari 500 Pengunjuk Rasa Ditangkap

PARIS, Cinta-news.com — Suasana mencekam mendadak menyelimuti kawasan jantung kota Paris beserta bermacam kota besar di Prancis pada Sabtu (31/10/2026). Hal ini terjadi lantaran gelombang bentrokan hebat meletus usai ratusan ribu massa aksi membanjiri jalanan pada unjuk rasa akhir pekan ketiga demi menyuarakan kemarahan mereka atas lonjakan biaya hidup yang kian mencekik leher warga.

Alhasil, dampak dari kerusuhan dahsyat ini membuat pihak kepolisian terpaksa mengangkut lebih dari 500 perusuh langsung ke markas kepolisian. Selain itu, petugas keamanan secara agresif mengerahkan meriam air bertekanan tinggi hingga melepaskan tembakan gas air mata yang membumbung tinggi untuk membubarkan gumpalan massa, mengingat mayoritas demonstran justru tampil unik dengan mengenakan kostum Halloween sambil beberapa di antaranya nekat melemparkan bom molotov berbahaya.

Lebih lanjut, Kementerian Dalam Negeri Prancis pada Sabtu malam mengumumkan fakta mengejutkan bahwa jajaran aparat telah berhasil menangkap sebanyak 565 orang perusuh di seluruh pelosok negeri.

Sementara itu di wilayah Paris sendiri, serangkaian serangan brutal dari para perusuh telah mengakibatkan empat personel polisi dan satu anggota gendarmerie (polisi militer) menderita cedera serius. Bahkan, tiga personel di antaranya terpaksa dilarikan ke rumah sakit oleh petugas medis lantaran menderita luka bakar parah sesudah terkena lemparan bom molotov yang membakar tubuh mereka secara mendadak.

Awalnya Protes Biaya Hidup, Tuntutan Massa Malah Kian Memanas

Protes Biaya Hidup Pekan Ketiga di Prancis Ricuh

Padahal, aksi unjuk rasa masif yang meletus tepat enam bulan menjelang kontestasi pemilihan presiden 2027 ini pada awalnya cuma berfokus menyuarakan isu pelik mengenai kenaikan biaya hidup, jurang ketimpangan sosial yang makin lebar, serta kondisi fasilitas sarana pendidikan publik yang kian memprihatinkan.

Tak hanya itu, gelombang protes besar-besaran ini pun berhasil menyatukan berbagai elemen masyarakat, mulai dari aktivis militan Yellow Vest (Rompi Kuning), gabungan serikat pekerja, hingga para pelajar sekolah menengah serta mahasiswa yang bergerak memadati jalanan utama.

Namun, lantaran tindakan tegas aparat keamanan memicu cedera fatal bagi sejumlah pengunjuk rasa, maka gerakan ini langsung memperluas daftar tuntutan mereka, termasuk mendesak pemerintah agar memberikan perlindungan yang jauh lebih kuat terhadap kebebasan sipil dan hak berunjuk rasa bagi seluruh warga negara.

Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez, meskipun sempat melontarkan pengakuan bahwa gelombang demonstrasi sejatinya berjalan lumayan tertib pada sebagian besar titik, tetap melancarkan kecaman amat keras terhadap tingkat kekerasan yang ia sebut luar biasa ekstrem dari kelompok perusuh tertentu.

Oleh sebab itu, Nunez secara terang-terangan menuding kelompok ekstremis sayap kiri sebagai dalang utama di balik aksi serangan brutal terhadap petugas pengaman, termasuk insiden pelemparan bom molotov ke arah barisan polisi antihuru-hara di Paris yang ia juluki sebagai sebuah aksi “percobaan pembunuhan,” kendati para petugas yang diserang tersebut syukurnya cuma mengalami luka ringan.

“Oleh karena itu, kami menyiagakan kekuatan penuh untuk menindak tegas siapa pun yang mencoba berkonfrontasi malam ini,” tegas Nunez dengan raut wajah penuh keseriusan.

Pawai Kostum Halloween Nyentrik di Tengah Gejolak Kemarahan

Sebelum bentrokan dahsyat meletus pada Sabtu sore tersebut, ribuan pengunjuk rasa—yang mana beberapa orang di antaranya berpenampilan super nyentrik mengenakan kostum Spider-Man hingga monster Frankenstein—telah lebih dulu berkumpul memadati area timur Paris.

Selanjutnya, pancaran sinar matahari nan cerah mengiringi langkah hangat para demonstran, sementara suara deru helikopter kepolisian melayang-layang mengawasi pergerakan lautan manusia di bawahnya.

Di samping itu, para demonstran secara kompak membentangkan berbagai poster provokatif yang membakar semangat, seperti bertuliskan “Tidak perlu gas air mata untuk membuat masa depan kita tampak suram”, serta spanduk kocak bertuliskan “Berkostum Halloween sebagai warga yang marah.”

Mengenai jumlah peserta, pihak berwenang resmi mencatat setidaknya terdapat sekitar 320.000 orang yang turun ke jalan di seluruh wilayah Prancis, termasuk sekitar 70.000 orang yang memadati kawasan ibu kota Paris.

Kendati demikian, organisasi kepemudaan justru menyajikan hitungan yang jauh lebih fantastis lantaran mereka mengklaim total peserta demo telah menembus hampir setengah juta orang, di mana sebanyak 200.000 demonstran berjejal memenuhi pusat ibu kota.

Sementara itu, tokoh politik Jean-Luc Melenchon yang memimpin partai sayap kiri jauh France Unbowed, tampak ikut berbaur dalam barisan aksi damai di Paris sekaligus menyampaikan apresiasi mendalam atas antusiasme massa yang begitu melimpah.

Lalu, seorang pengembang gim video bernama Alice Hien yang turut turun ke jalan menyuarakan aspirasinya, melayangkan kritik amat tajam terhadap jajaran pengambil kebijakan di pemerintahan.

“Oleh sebab itu, fakta bahwa pemerintah sengaja mengusir aksi unjuk rasa keluar dari pusat kota dan memblokir begitu banyak izin demonstrasi, sungguh menjadi bentuk serangan nyata terhadap kebebasan demokrasi kita,” cetusnya penuh rasa kecewa.

Batu Trotoar Melayang hingga Jam Malam Ketat Diberlakukan

Alhasil, kekacauan yang mengerikan mulai pecah tidak terhindarkan tatkala rombongan besar massa perusuh mulai tiba di titik akhir rute demonstrasi yang terletak di pinggiran kota Paris.

Berdasarkan pengamatan langsung dari jurnalis AFP di lapangan, puluhan individu bertopeng yang mengenakan pakaian serba hitam mendadak mengayunkan palu untuk mencungkil batu trotoar, lalu melempar bongkahan batu tersebut secara bertubi-tubi ke arah barisan polisi.

Maka dari itu, Kepolisian Paris mengonfirmasi bahwa ratusan perusuh mendadak menyerang aparat keamanan memakai beragam benda berbahaya, hingga akhirnya petugas merespons serangan tersebut melalui tembakan gas air mata serta beberapa kali pukulan tongkat secara terukur.

Selain di ibu kota, aksi kekerasan serupa rupanya turut menjalar ke kota-kota lain. Contohnya di Lyon, kota terbesar ketiga di Prancis, massa nekat melemparkan berbagai material berbahaya ke arah petugas, sebelum akhirnya dibalas oleh tembakan gas air mata yang membumbung tinggi dari barisan kepolisian.

Sementara itu di Kota Toulouse, pihak kepolisian harus mengerahkan meriam air demi membubarkan kerumunan ribuan orang yang nekat menggelar aksi unjuk rasa tanpa mengantongi izin resmi dari otoritas setempat.

Lebih jauh lagi, Kementerian Dalam Negeri menegaskan bahwa kelompok-kelompok radikal di sejumlah wilayah, seperti Bordeaux, Toulouse, dan Marseille, secara sengaja berupaya menerobos kawasan pusat kota agar bisa melakukan aksi vandalisme serta penjarahan liar.

Oleh karena situasi keamanan yang kian mengkhawatirkan tersebut, maka kebijakan jam malam resmi diberlakukan oleh otoritas setempat di kawasan pusat kota Paris, khususnya wilayah Republique dan Chatelet-Les Halles, mulai pukul 23.00 hingga 06.00 WIB pada hari Sabtu dan Minggu (1/11/2026).

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *