Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Petani Kopi Jolotigo Mengeluh: Kemarau dan Minim Air Bikin Panen Merosot

PEKALONGAN, Cinta-news.com Musim kemarau tahun ini benar-benar menjadi momok menakutkan bagi para petani kopi di lereng utara Jawa Tengah. Bayangkan, produksi kopi di Desa Jolotigo, Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan, merosot drastis hingga separuhnya! Kondisi ini tentu saja membuat para petani gelisah dan mengeluhkan nasib buruk yang menimpa kebun-kebun mereka.

Para petani di kawasan yang dikenal dengan cita rasa kopi khasnya ini pun harus gigit jari melihat tanaman kesayangan mereka merana. Bukan tanpa sebab, kekeringan panjang yang melanda saat musim kemarau menjadi biang keladi utama dari bencana pertanian ini. Bahkan, tingkat kerusakan yang ditimbulkan pun terbilang parah, mulai dari daun-daun yang menguning layu hingga pohon-pohon kopi yang mati total. Tentu saja, kondisi memprihatinkan ini secara langsung mengancam mata pencaharian utama warga setempat.

Aris (36), salah satu petani kopi yang sudah berkecimpung di dunia perkopian selama bertahun-tahun, dengan nada getir menceritakan pengalaman pahitnya. Menurut pengakuannya, ketersediaan air menjadi masalah paling krusial yang mereka hadapi setiap kali musim kemarau tiba, dan tahun ini terasa lebih ekstrem dari biasanya.

“Kalau bicara soal kemarau, ya yang paling terasa jelas kekeringan dan kekurangan air. Bisa dilihat sendiri, banyak daun kopi yang menguning dan pohon-pohon yang akhirnya mati,” ujar Aris dengan ekspresi prihatin saat ditemui di kebunnya, Rabu (2/9/2026).

Lebih menyedihkan lagi, bunga-bunga kopi yang sebelumnya sudah berkembang menjadi bakal buah pun banyak yang berguguran sebelum sempat dipanen. Akibatnya, produktivitas kebun kopi di wilayah ini pun anjlok secara signifikan. Aris bahkan mengungkapkan bahwa beberapa petani di kawasan Simbar dan Jolotigo melaporkan penurunan hasil panen yang luar biasa, mencapai angka 50 persen dari produksi normal.

“Contohnya, kalau biasanya bisa dapat satu kuintal, sekarang paling cuma separuhnya. Turunnya sampai segitu, parah,” keluhnya dengan nada kesal.

Derita Ganda: Produksi Merosot, Pemasaran Tersendat

Namun, permasalahan para petani kopi di Pekalongan ternyata tidak berhenti pada produksi yang menurun drastis. Di tengah himpitan kekeringan yang sudah menyulitkan, mereka masih harus bergulat dengan masalah klasik lainnya, yaitu kendala pemasaran yang tak kunjung usai. Aris menjelaskan bahwa hingga saat ini, para petani masih belum memiliki kepastian harga jual karena mereka sepenuhnya bergantung pada para tengkulak yang datang ke desa.

“Masalah harga jual itu kami tidak bisa punya kepastian sendiri. Tidak bisa kami yang menentukan harganya berapa. Kami tetap mengikuti harga yang ditentukan pasar, ya dari tengkulak itu,” ujarnya dengan nada frustrasi.

Saat ini, harga green bean atau biji kopi kering yang diterima petani berada di kisaran Rp 60.000 per kilogram. Menurut Aris, harga tersebut sebenarnya tergolong baik dan cukup menjanjikan. Namun, petani tidak memiliki posisi tawar sedikit pun untuk menentukan harga sendiri karena minimnya akses pasar langsung. Bayangkan, untuk menghasilkan satu kilogram green bean saja, petani harus memproses sekitar 4-5 kilogram buah kopi segar atau ceri. Artinya, kerja keras mereka sangat besar tetapi imbalannya masih belum pasti.

Menyadari kondisi ini, Aris pun berharap agar peningkatan kualitas kopi yang mereka hasilkan dapat menjadi senjata ampuh untuk memperbaiki posisi tawar di mata pembeli. Jika kualitas biji kopi sudah terjamin dan konsisten, menurutnya petani bisa mulai berani menentukan harga sendiri tanpa harus bergantung sepenuhnya pada permainan harga tengkulak.

“Kalau kualitas kopi kita sudah bagus dan terstandar, ya kami juga bisa menentukan harga sendiri. Yang penting kualitasnya bagus, mereka pasti mau membeli,” tegasnya penuh optimisme.

Angin Segar: Pendampingan untuk Petani Kopi Jolotigo

Melihat kompleksnya permasalahan yang dihadapi para petani, sebuah program pendampingan dari organisasi nirlaba pun akhirnya turun tangan. Project Coordinator Zurich Climate Resilience Alliance, Arif Ganda Purnamawa, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini sedang gencar melakukan pendampingan komprehensif kepada petani kopi di Jolotigo. Program ini dirancang khusus untuk memperkuat ketahanan petani terhadap dampak perubahan iklim yang semakin tidak menentu, sekaligus menjaga kelangsungan mata pencaharian mereka di tengah tantangan yang ada.

Pendampingan ini tidak setengah-setengah, karena mencakup berbagai aspek penting. Mulai dari menghubungkan komoditas kopi dengan pasar yang lebih luas dan adil, memberikan informasi iklim terkini yang akurat, mengajarkan praktik pertanian yang baik dan ramah lingkungan, hingga melindungi petani dengan skema perlindungan risiko finansial.

“Kami sengaja melakukan pendampingan langsung ke petani kopi di Jolotigo, Talun ini untuk mengintegrasikan data-data iklim secara konkret. Dengan begitu, petani dapat memperoleh informasi akurat mengenai potensi kekeringan maupun curah hujan ekstrem sebagai bahan pertimbangan penting dalam mengelola perkebunan mereka,” jelas Arif dengan semangat.

Menurutnya, informasi iklim yang tepat waktu dan akurat bukan hanya sekadar data biasa. Informasi ini bisa menjadi pedoman krusial bagi petani untuk mengambil keputusan cerdas dalam mengelola perkebunan kopi, terutama ketika menghadapi potensi kekeringan berkepanjangan dan cuaca ekstrem yang datang tiba-tiba.

Lebih jauh lagi, pihaknya juga berkomitmen untuk memperluas akses pasar bagi kopi khas Pekalongan agar tidak hanya bergantung pada pembeli lokal. Di samping itu, mereka juga tengah mengembangkan skema perlindungan finansial yang inovatif untuk melindungi petani dari kerugian ekonomi akibat gagal panen.

“Kami terus berupaya keras bagaimana caranya supaya kopi kebanggaan Pekalongan ini bisa terkoneksi dengan pasar yang jauh lebih besar dan menjanjikan,” pungkas Arif dengan penuh harapan.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version