JAKARTA, Cinta-news.com – Musibah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menghantui langit Indonesia! Kali ini, aktivitas penerbangan di berbagai wilayah Kalimantan mulai terancam serius. Gangguan visibilitas yang drastis memaksa sejumlah maskapai menunda bahkan mengalihkan jadwal penerbangan mereka. Kondisi ini tentu sangat meresahkan para penumpang dan pelaku industri aviasi yang mengandalkan transportasi udara.
Situasi semakin memprihatinkan ketika AirNav Indonesia selaku penyedia layanan navigasi penerbangan pun mengambil sikap tegas. Mereka meningkatkan kewaspadaan dengan memperketat pemantauan ruang udara secara ekstra ketat. Fokus utama pengawasan tertuju pada perubahan jarak pandang (visibility) serta dinamika kondisi meteorologi yang sangat fluktuatif. Langkah preventif ini diambil semata-mata demi memastikan keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas nomor satu.
Ancaman Nyata di Langit Kalimantan
Direktur Utama AirNav Indonesia, Capt. Avirianto Suratno, mengungkapkan bahwa atmosfer yang berubah-ubah secara tak terduga menuntut pemantauan berkelanjutan. “Kami tidak bisa lengah sedetik pun,” tegasnya. Dengan demikian, setiap informasi terkini mengenai kondisi ruang udara dapat segera disalurkan kepada seluruh pemangku kepentingan operasional penerbangan. Kecepatan dan akurasi informasi menjadi kunci utama dalam situasi darurat seperti ini.
“Keselamatan penerbangan adalah prioritas utama kami. Dalam menghadapi kondisi kabut asap seperti saat ini, AirNav Indonesia terus melakukan pemantauan terhadap kondisi ruang udara, termasuk perubahan jarak pandang, kondisi cuaca, serta informasi meteorologi lainnya,” ujar Avirianto dalam keterangan resmi, Kamis (3/9/2026). Beliau juga menambahkan bahwa seluruh informasi tersebut dikoordinasikan dengan berbagai stakeholder terkait. Tujuannya jelas, memastikan setiap penerbangan memperoleh data akurat untuk mendukung pengambilan keputusan operasional yang krusial.
Berdasarkan hasil pemantauan AirNav Indonesia pada Rabu (2/9/2026) hingga pukul 11.57 WIB, Pontianak, Kalimantan Barat mencatatkan dampak paling parah. Jarak pandang di wilayah tersebut anjlok drastis hanya mencapai 600 meter! Akibatnya, seluruh jadwal penerbangan mengalami keterlambatan yang signifikan. Bahkan, satu penerbangan dengan rute Jakarta-Pontianak terpaksa harus melakukan return to base (RTB). Pesawat tersebut kembali ke bandara asal karena kondisi cuaca dinilai tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan menuju Pontianak. Bayangkan kekecewaan para penumpang yang sudah bersiap tiba di tujuan!
Namun, kabar sedikit melegakan datang dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Kondisi di sana masih terbilang relatif aman dibandingkan wilayah lainnya. Aktivitas penerbangan tetap berjalan normal dengan jarak pandang sekitar 3.500 meter. Meski demikian, kewaspadaan tetap harus dijaga mengingat dinamika kabut asap yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Bandara Perintis Paling Terpukul
Sebelumnya, gangguan serupa juga melanda Kalimantan Utara pada Selasa (1/9/2026). Kabut asap pekat menyebabkan jarak pandang di Bandara Juwata, Tarakan, turun ke kisaran 1.000–5.000 meter. Dampaknya pun langsung terasa, satu penerbangan harus dialihkan (divert) ke bandara terdekat. Tak hanya itu, tiga penerbangan lainnya juga mengalami penundaan jadwal. Penumpang pun terpaksa menunggu lebih lama di ruang tunggu bandara.
Penurunan jarak pandang juga melanda sejumlah bandara perintis di Kalimantan. Di Malinau, visibility sempat berada di angka 2.000 meter sehingga satu penerbangan perintis harus dialihkan. Kondisi bahkan lebih ekstrem terjadi di Bandara Long Apung dengan jarak pandang hanya sekitar 150–300 meter. Sementara itu, visibility di Bandara Tanjung Harapan berada pada kisaran 400–1.000 meter. Sungguh kondisi yang sangat mengkhawatirkan bagi keselamatan penerbangan di daerah terpencil.
Syukurlah, kondisi di Kalimantan Utara mulai menunjukkan perbaikan pada Rabu (2/9/2026). Jarak pandang meningkat signifikan hingga berada di kisaran 3.000–5.000 meter. “Tetapi hari ini (2/9), kondisi di Kalimantan Utara terpantau mulai membaik, dengan jarak pandang yang meningkat hingga di kisaran 3.000–5.000 meter,” ungkap Avirianto dengan lega. Perbaikan ini tentu menjadi angin segar bagi para pengguna jasa penerbangan di wilayah tersebut.
Siaga Penuh, Tak Hanya di Kalimantan
Selain memantau kabut asap karhutla di Kalimantan, AirNav Indonesia juga mencermati kondisi ruang udara yang terdampak erupsi Gunung Sinabung di Sumatra Utara. Untuk wilayah Sumatra Utara, operasional penerbangan di Bandara Kualanamu pada Rabu (2/9/2026) kembali berjalan normal. Berdasarkan pemantauan terkini, tidak terdapat abu vulkanik yang menutupi jalur penerbangan. Hal ini tentu sangat melegangkan mengingat ancaman abu vulkanik bisa sangat berbahaya bagi mesin pesawat.
AirNav Indonesia pun memastikan bahwa pemantauan kondisi ruang udara dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi. Mereka tidak hanya fokus pada satu wilayah, tetapi mengawasi seluruh ruang udara Indonesia dari potensi gangguan. “Jadi, pemantauan dilakukan oleh Airnav Indonesia secara menyeluruh untuk memastikan bahwa seluruh ruang udara aman untuk dilintasi,” jelas Avirianto dengan penuh tanggung jawab.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa setiap potensi gangguan sekecil apa pun akan segera ditindaklanjuti sesuai prosedur. Informasi penting tersebut akan dirilis secepatnya kepada pilot dan maskapai penerbangan. “Langkah ini untuk memastikan setiap penerbangan mendapatkan informasi yang diperlukan dalam mendukung pengambilan keputusan operasional,” ungkapnya dengan mantap. Hal ini ditekankan kembali karena keselamatan penerbangan adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar-tawar.
Seluruh upaya pemantauan dan koordinasi ini dilakukan demi menjaga keselamatan jiwa para penumpang dan awak pesawat. AirNav Indonesia berkomitmen penuh untuk terus meningkatkan kewaspadaan di tengah ancaman kabut asap karhutla yang kian meluas. Masyarakat pun diimbau untuk selalu memantau perkembangan informasi terkini sebelum melakukan perjalanan udara. Tetap waspada dan utamakan keselamatan!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
