Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Peserta Marathon Jakim 2026 Meninggal, Rekan: “Tiba-tiba Kolaps, Tak Ada Riwayat Sakit”

JAKARTA, Cinta-news.com – Duka mendalam menyelimuti perhelatan akbar BTN Jakarta International Marathon (Jakim) 2026 yang memasuki hari kedua, Minggu (14/6/2026). Alih-alih merayakan prestasi, panitia justru berkabung setelah sejumlah pelari dilaporkan pingsan di tengah jalan. Lebih memilukan lagi, satu orang di antaranya akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Tim medis yang seharusnya sigap justru mendapat sorotan tajam karena disebut terlambat hadir lebih dari 15 menit. Akibat kelambanan itu, para pelari lain yang berprofesi sebagai dokter pun dengan sigap turun tangan memberikan pertolongan darurat. Sementara itu, pihak panitia dengan nada defensif mengklaim sudah menempatkan tim medis di titik-titik yang ditentukan. Mereka pun menuding perubahan cuaca ekstrem yang tiba-tiba menjadi lebih panas sebagai biang keladi insiden nahas ini.

Peserta Pingsan di Depan Mata, Tim Medis Mangkir 18 Menit!

Seorang pendukung atau cheering tim yang tengah memberikan semangat, Roja Nur Ramadhani, dengan suara bergetar menceritakan pengalaman menegangkan saat menyaksikan langsung seorang pelari jatuh pingsan tepat di hadapannya. Saat kejadian itu, dirinya masih berdiri di belakang garis pembatas lintasan lari, tepatnya di Kilometer (KM) 19. Sekitar pukul 07.56 WIB, tiba-tiba seorang pelari perempuan ambruk bagai kain basah dan langsung kehilangan kesadaran.

“Saya bukan peserta Marathon, kebetulan saya cuma cheering dari pinggir,” ujar Roja saat dihubungi melalui Instagram, Minggu, dengan nada masih terbayang-bayang kejadian tersebut. “Mbaknya itu pingsan persis di bawah kaki teman saya ketika kami sedang lewat di sampingnya,” tambahnya.

Meskipun Roja mengakui melihat dua orang marshal panitia Marathon berjaga di lokasi kejadian, fakta di lapangan berbicara lain. Beberapa menit berlalu setelah pelari itu terjatuh, namun tim medis tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Kepanikan pun mulai menyebar di antara para penonton dan peserta lain yang berhenti. Beberapa orang dengan inisiatif tinggi berusaha membantu, tetapi wajah mereka hanya menunjukkan kebingungan karena tidak memiliki peralatan medis yang memadai. Mereka pun terus berusaha menghubungi tim medis, berharap bantuan segera datang.

“Betul, sudah lewat 18 menit lamanya, tapi medisnya belum datang juga,” tegas Roja dengan nada kesal. “Padahal ada dua marshal panitia yang ada di sana, tapi mereka malah ikut kebingungan,” sesalnya.

Dokter Peserta Jadi Pahlawan Darurat di Tengah Lintasan

Dalam rentang waktu kritis 18 menit yang terasa seperti seabad itu, beberapa pelari yang ternyata berprofesi sebagai dokter akhirnya angkat bicara dan mengambil alih situasi. Mereka tidak menunggu perintah lagi. Dengan sigap, para dokter peserta lari ini turun tangan memberikan pertolongan pertama layaknya di ruang gawat darurat. Beberapa peserta lainnya yang prihatin pun ikut menghentikan aktivitas lari mereka sejenak demi membantu mengevakuasi korban ke tempat yang lebih aman dan teduh.

Setelah berhasil dipindahkan, para dokter itu pun bergantian memeriksa denyut nadi, pernapasan, dan memberikan penanganan darurat lainnya. “Ada empat orang dokter yang kebetulan ikut lari, mereka peserta Half Marathon (HM) juga, dan mereka bergantian menolong mbak tersebut,” tutur Roja dengan lega sekaligus kecewa; lega karena ada tenaga medis profesional di lokasi, kecewa karena panitia gagal menyediakan layanan yang semestinya.

Peserta lain, Silfi (29), juga membenarkan bahwa dirinya melihat beberapa peserta lain di belakangnya tumbang pingsan pada hari yang panas itu. Ia juga menyaksikan beberapa ambulans hilir mudik di lintasan, diduga tengah mengevakuasi pelari yang mengalami gangguan kesehatan serius. Menurut pengamatannya, cuaca yang semakin terik dan menyengat menjadi faktor paling dominan penyebab musibah ini. “Kayaknya karena panas matahari banget sih, ya,” ujarnya polos namun tepat sasaran.

Satu Peserta Meninggal, Rekannya Syok Berat

Kabar duka semakin mendalam ketika dikonfirmasi bahwa tidak hanya pingsan, tetapi satu orang peserta bernama Agus Putrandi asal Lombok dinyatakan meninggal dunia. Informasi ini pertama kali disampaikan oleh teman sekaligus rekannya, Johan Rio Pamungkas, melalui media sosial Threads, yang sontak memicu gelombang duka dan kemarahan netizen. Johan menceritakan bahwa dirinya sempat sarapan pagi bersama Agus sehari sebelum perlombaan dimulai. Saat itu, dalam persiapan lomba lari, Agus tampak sehat dan tidak memiliki keluhan apapun.

“Setahu saya, enggak ada masalah kesehatan sama sekali. Dia tiba-tiba ambruk atau kolaps di Kilometer 14,” kata Johan ketika dihubungi terpisah, suaranya terdengar parau menahan sedih. “Ketika tim medis akhirnya membawanya ke rumah sakit, dia sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri,” tambahnya.

Pihak panitia dengan segera melarikan Agus ke Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk. Namun, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Hingga berita ini diturunkan, jenazah Agus masih berada di rumah sakit karena menunggu proses administrasi yang berbelit-belit sebelum akhirnya diserahkan kepada keluarga yang berduka. Sementara itu, Humas BTN Jakarta International Marathon, Agas, membenarkan adanya laporan tragis mengenai peserta yang meninggal dunia dalam event tersebut. Namun, secara hati-hati ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab dan kronologi meninggalnya Agus. “Betul (ada peserta yang meninggal). Izin kami cek dulu ke Medical Director ya untuk keterangan resmi dari RS dan IGD yang menangani,” ujar Agas saat dikonfirmasi.

Panitia Bersikukuh Tim Medis Standby, Cuaca Dituding sebagai Kambing Hitam

Menyusul ramainya kecaman di media sosial yang mempertanyakan kinerja tim medis yang dinilai sangat tidak maksimal bahkan fatal, pihak panitia akhirnya buka suara. Menanggapi gelombang kemarahan warganet, Vice Medical Director BTN Jakim 2026, Fauzan Nanggadita, dengan tegas membantah kelalaian. Ia mengklaim bahwa tim medis sudah ditempatkan di berbagai titik strategis sepanjang lintasan selama dua hari gelaran tersebut. Menurutnya, hal ini sudah sesuai dengan standar operasional prosedur penyelenggaraan lomba lari internasional.

“Kami menempatkan tim medis termasuk di hampir setiap kilometer, dengan total personel dan unit pendukung yang jumlahnya mengikuti standar medical guidelines yang berlaku untuk penyelenggaraan lomba lari,” kata Fauzan dalam keterangan pers yang diterima, Minggu malam, dengan nada penuh pembelaan.

Fauzan kemudian membenarkan dugaan peserta tentang cuaca panas. Ia justru menuding kondisi cuaca yang makin panas seiring berjalannya kegiatan sebagai biang kerok utama yang meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat paparan panas atau heat-related illness pada peserta. Ia beralasan bahwa situasi tersebut membuat kebutuhan terhadap layanan kesehatan meningkat secara bersamaan, sehingga tim medis pun harus bekerja ekstra keras. Meskipun begitu, Fauzan tetap mengeklaim timnya profesional dan menjalankan prosedur yang berlaku. “Dalam situasi tersebut, tim medis tetap memberikan pelayanan sesuai prosedur kegawatdaruratan, termasuk penerapan sistem triase untuk memastikan peserta dengan kondisi paling serius mendapatkan penanganan segera,” pungkasnya, sementara publik masih menunggu penyelidikan lebih lanjut atas satu nyawa yang melayang sia-sia.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version