KUPANG, Cinta-news.com – Kabar menggembirakan akhirnya datang dari Pulau Adonara! Setelah pahitnya konflik lahan yang merenggut tiga nyawa dan meluluhlantakkan 68 rumah, warga Dusun Lewonara dan Dusun Bele kini kembali berpelukan erat. Perdamaian yang dinanti-nantikan itu akhirnya terwujud dalam sebuah momen bersejarah yang mengharukan.

Rekonsiliasi damai yang dipadukan dengan Ritual Adat Lepan Dopi Ledan Gala ini berlangsung khidmat di Adonara pada Senin (10/8/2026). Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, secara langsung memimpin acara sakral tersebut, dan tampak hadir pula deretan pejabat lintas sektor yang turut menyaksikan momen penuh haru ini.
Hadir dalam kesempatan tersebut Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, dan Wakil Bupati Flores Timur Ignasius Boli. Tak ketinggalan, Kapolres Larantuka AKBP Gede Putra Yase, Dandim 1624 Letkol Inf. Erly Merlian, serta Kepala Kanwil HAM Oce Yuliana N. Boymau turut memadati lokasi rekonsiliasi.
Acara perdamaian ini menjadi puncak dari serangkaian upaya panjang untuk menyelesaikan konflik agraria yang sebelumnya sempat memicu bentrokan mematikan pada Sabtu (18/7/2026). Saat itu, amukan massa tidak hanya merenggut tiga jiwa, tetapi juga menghanguskan 68 rumah warga hingga rata dengan tanah. Kerugian material lainnya pun dilaporkan cukup signifikan akibat peristiwa nahas tersebut.
Letakkan Perisai dan Tombak, Satu Rahim Kembali Bersatu
Proses perdamaian yang tercipta ini bukanlah hasil instan, melainkan buah dari serangkaian dialog intensif dan kesepakatan yang melibatkan banyak pihak. Pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga tokoh pemuda dari kedua kubu duduk bersama mencari solusi terbaik.
Sebelumnya, pada 5 Agustus 2026, para tokoh dari Desa Waiburak dan Desa Narasaosina telah menggelar musyawarah penting. Dari pertemuan tersebut, lahirlah sejumlah komitmen bersama, termasuk penetapan Jeda Sakral yang mewajibkan kedua belah pihak menghentikan segala bentuk permusuhan.
Pada acara puncak perdamaian, kedua pihak dengan tegas membacakan komitmen damai dan menandatangani berita acara kesepakatan bersama. Suasana haru langsung menyelimuti lokasi saat para tetua adat Lewonara dan Bele melanjutkan prosesi dengan sumpah adat dan ritual Bau Lolon yang sakral.
Ritual tersebut menjadi pengukuhan secara adat di hadapan Rera Wulan Tana Ekan, yang mereka maknai sebagai Tuhan dan alam semesta. Melalui ritual ini, kedua belah pihak secara simbolis melepas semua dendam dan mengikat janji suci untuk hidup berdampingan secara damai.
Wagub Johni: Kekalahan Sejati Adalah Matinya Persaudaraan!
Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas kebesaran hati para tokoh adat, tokoh agama, pemerintah desa, serta seluruh masyarakat yang memilih jalan dialog untuk mengakhiri konflik.
“Dalam kehidupan itu memang kadang-kadang konflik tidak dapat dihindari. Namun, yang terpenting adalah kita belajar dari situ untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama,” ujar Johni dengan penuh makna.
Menurutnya, konflik agraria yang terjadi telah menimbulkan korban jiwa dan kerugian harta benda yang tidak sedikit. Johni dengan tegas mengingatkan bahwa konflik tidak pernah membawa kemenangan bagi siapa pun.
“Konflik tidak pernah membawa kemenangan bagi siapa pun, yang kalah sesungguhnya adalah persaudaraan kita,” tegasnya.
Wagub kemudian mengaitkan ritual Lepan Dopi Ledan Gala dengan pesan kuat untuk menghentikan permusuhan secara permanen. “Melalui ritual Lepan Dopi Ledan Gala dan Jeda Sakral, kita diingatkan untuk meletakkan Dopi (perisai) dan Gala (tombak). Mari kita hidupkan kembali semangat hidup rukun sebagai kakak dan adik karena kita berasal dari satu rahim yang sama,” tandasnya penuh haru.
Pembangunan Butuh Perdamaian, Bukan Perang Saudara!
Johni Asadoma menekankan bahwa perdamaian yang telah tercipta ini merupakan modal fundamental bagi pembangunan di Adonara dan Flores Timur ke depannya. Menurutnya, pembangunan tidak mungkin berjalan maksimal jika masyarakat masih berada dalam suasana konflik.
Jalan-jalan mulus, sekolah-sekolah, fasilitas kesehatan, pengembangan ekonomi, pariwisata, hingga berbagai program pemerintah, kata Johni, hanya akan memberikan manfaat apabila masyarakat hidup dalam kondisi aman dan damai.
Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga perdamaian ini sebaik-baiknya demi masa depan generasi mendatang.
Sementara itu, Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen juga menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses rekonsiliasi ini.
“Kami atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten menyampaikan terima kasih yang berlimpah atas kebesaran jiwa ama-ama (bapak-bapak), para orangtua, serta saudara-saudari sekalian hingga kita dapat mengambil keputusan besar pada hari ini,” kata Antonius.
Bupati pun menyebut kesepakatan damai tersebut sebagai tonggak penting bagi masyarakat Adonara ke depannya. “Hari ini merupakan tonggak yang teramat penting bagi kita seluruh masyarakat Adonara, di mana kita dapat menyaksikan peristiwa yang sangat bersejarah ini,” lanjutnya penuh semangat.
Tanah Jangan Jadi Sumber Perpecahan, Nyawa Tak Bisa Kembali!
Pesan serupa juga disampaikan oleh Wakapolda NTT Brigjen Pol. Faizal. Ia mengingatkan dengan tegas agar persoalan tanah adat tidak kembali menjadi pemicu konflik dan pertumpahan darah di kemudian hari.
“Tanah adat merupakan warisan luhur yang wajib kita hormati dan jaga bersama. Namun, jangan sampai warisan tersebut menjadi sumber perpecahan dan tumpah darah antar saudara,” pesan Faizal dengan nada serius.
Menurutnya, persoalan batas dan kepemilikan lahan masih dapat dibicarakan dan diselesaikan melalui berbagai mekanisme yang tersedia. “Tanah dapat kita bicarakan, batas dapat kita sepakati, dan persoalan dapat kita selesaikan, namun nyawa yang telah hilang tidak akan pernah dapat kita kembalikan,” ujarnya dengan tegas.
Faizal menegaskan, Polda NTT berkomitmen penuh mendorong penyelesaian persoalan secara menyeluruh. Pendekatan yang ditempuh tidak hanya melalui penegakan hukum, tetapi juga pendekatan adat, keagamaan, sosial, dan kemanusiaan.
Ritual Sakral Pulihkan Persaudaraan, Sambung Koda Haten!
Setelah pembacaan komitmen dan penandatanganan kesepakatan damai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ritual adat yang sarat dengan nilai spiritual masyarakat setempat. Ritual tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan berkat kepada Tuhan, yang mereka sebut Ala Teten Rena, serta penghormatan kepada leluhur dan tanah yang disebut Lemu Tanah.
Melalui cawan-cawan adat yang diangkat dalam prosesi tersebut, para tetua menyampaikan doa dan permohonan berkat sekaligus ungkapan syukur atas pulihnya hubungan persaudaraan. Cawan adat tersebut menjadi simbol sakral yang mempertemukan niat tulus dan permohonan kedua pihak.
Simbol tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi seluruh pihak agar memegang teguh janji perdamaian yang telah disepakati bersama. Melalui penyatuan hati dan ritual pemulihan yang mereka sebut sambung koda haten, masyarakat diajak membangun kembali hubungan kekeluargaan atau kakan ari yang sempat retak.
Perdamaian ini diharapkan tidak sekadar mengakhiri konflik saat ini, tetapi juga memutus mata rantai dendam antargenerasi. Adonara pun diharapkan kembali menjadi rumah bersama bagi seluruh masyarakat, dengan kehidupan yang aman, damai, dan harmonis.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











