JAYAPURA, Cinta-news.com – Malapetaka itu menyambar tanpa aba-aba. Sosok buaya raksasa tiba-tiba melesat dari kedalaman Sungai Tami, langsung membuka rahangnya lebar-lebar, lalu menggilas tubuh David (21) dalam satu tarikan brutal.
Pemuda malang itu bahkan tidak sempat berteriak. Saking cepatnya, ia hanya sempat menjejakkan kuku di tanah basah sebelum monster air itu menyeretnya ke pusaran sungai. Rekan-rekannya yang berada beberapa meter dari lokasi hanya bisa terpaku. Napas mereka memburu. Namun, rasa takut membekukan kaki.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jayapura, Anton Sucipto, mengonfirmasi peristiwa nahas ini terjadi Selasa (10/2/2026) siang. Saat itu, korban dan kawan-kawannya sedang asyik memancing. Tanpa mereka duga, seekor buaya lapar mengincar dari balik permukaan air keruh.
“Korban duduk santai di pinggir sungai, mungkin sedang fokus pada kailnya. Seketika itu juga, buaya menerkam dan langsung menggiringnya masuk ke tengah sungai,” ungkap Anton dengan nada prihatin, Rabu (11/2/2026).
Dalam laporan yang diterima Basarnas, Anton menekankan bahwa tidak ada satu pun saksi yang mampu bergerak. Panik menghantam rasio. Air yang dalam dan gelap menjadi tameng sempurna bagi predator purba itu untuk menghilang bersama mangsanya.
“Beberapa rekan korban sempat berteriak, melempar batu, tapi buaya itu tidak melepaskan mangsanya. Mereka hanya bisa menyaksikan muka David menghilang perlahan di permukaan sungai,” imbuhnya.
Keluarga korban sontak gempar. Mereka segera melapor ke Kantor SAR Jayapura beberapa jam setelah kejadian. Malam itu juga, tim langsung bergerak meski medan berat dan minimnya cahaya menghambat.
DRONE DITERBANGKAN, PERAHU DITURUNKAN—TIGA REGU SIAP SIAGA
Keesokan harinya, fajar belum sempurna merekah, tim SAR gabungan sudah menyusun strategi. Anton membagi pasukan dalam tiga formasi berbeda. Regu pertama mengarungi Sungai Tami menggunakan perahu karet. Dengan mesin tempel menderu, mereka menyisir setiap lengkungan sungai yang berpotensi menjadi persembunyian buaya.
Regu kedua dan ketiga memilih jalur darat. Mereka menyusuri kedua sisi sungai dengan langkah hati-hati. Ranting-ranting patah mereka singkap. Lumpur hitam mereka injak. Mata mereka awas mengamati jejak—mungkin ada sobekan baju, atau percikan darah yang tersisa di bebatuan.
“Kami tidak hanya bergantung pada mata manusia. Drone kami terbangkan pagi tadi. Kamera termal menyapu permukaan dari ketinggian, mencari gumpalan panas yang mencurigakan. Ini perburuan di dua alam: sungai dan udara,” tegas Anton.
TIDAK SENDIRIAN, KELUARGA DAN WARGA TURUN SUKARELA
Sementara tim formal sibuk dengan protokol pencarian, warga Kampung Muara Tami tidak tinggal diam. Mereka mengenal Sungai Tami seperti kenal garis tangan sendiri. Bagi mereka, sungai ini adalah sumber kehidupan, sekaligus kuburan terbuka bagi siapa pun yang lengah.
Mereka membawa dayung buatan, sampan sederhana, bahkan ada yang hanya mengandalkan akar pohon untuk meraba-raba dasar sungai. Perasaan khawatir dan solidaritas menyatu. Mereka tidak ingin David lenyap begitu saja tanpa jejak.
Koramil dan Polsek Muara Tami langsung bersinergi. Seragam loreng dan cokelat menyatu dalam lumpur yang sama. Tidak ada sekat. Mereka bergerak seirama dengan satu tujuan: menemukan David—setidaknya untuk memastikan keluarga bisa mengucapkan selamat tinggal yang layak.
WAKTU BERLALU, DOA MENGIRING SETIAP JENGKAL SUNGAI
Hari kedua pencarian berlangsung dengan tensi yang meningkat. Matahari membakar ubun-ubun. Keringat bercucuran, tapi semangat tidak surut. Para penyelam sukarelawan mulai menawarkan diri untuk turun. Namun, tim SAR memilih berhati-hati. Kehadiran buaya yang masih berkeliaran di sekitar lokasi membuat operasi bawah air terlalu berisiko.
Anton menekankan bahwa pencarian ini mengutamakan keselamatan tim. “Kami tidak akan mengorbankan nyawa lain hanya karena kecerobohan. Buaya ini agresif. Ia sudah mencicipi mangsa dan kemungkinan masih berada di sekitar lokasi,” jelasnya.
Hingga Rabu petang, David masih belum ditemukan. Sungai Tami seolah enggan melepaskan rahasianya. Keluarga korban mulai pasrah, namun tetap berharap pada keajaiban.
Di balik layar, tim forensik bersiap. Mereka membawa kantong jenazah dan peralatan identifikasi. Semua orang berharap kantong itu tidak perlu digunakan, tapi mereka tetap siaga.
MENGAPA BUAYA SEMAKIN BERANI? WARGA MENGELUH
Sembari tim bekerja, warga setempat mulai bersuara. Mereka merasa Sungai Tami belakangan ini makin berbahaya. Populasi buaya meningkat, sementara habitat mereka makin sempit akibat pembukaan lahan. Konflik antara manusia dan buaya bukan lagi cerita lama, tapi fakta harian.
“Kami setiap hari mandi dan mencuci di sini. Sekarang, kami takut. Buaya tidak malu-malu lagi. Mereka mendekat,” ujar seorang ibu yang rumahnya persis di tepian sungai.
Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah. Apakah ini saatnya evaluasi besar-besaran terhadap relasi manusia dan satwa liar di Papua?
Begitu matahari tenggelam, tim tidak lantas menarik diri. Mereka mendirikan posko darurat di pinggir sungai. Lampu petromaks menyala, menyinari wajah-wajah lelah yang enggan menyerah. Radio komunikasi tidak pernah diam. Laporan dari regu satu ke regu lain terus mengalir.
Masyarakat sekitar membawakan nasi bungkus dan air mineral. Mereka duduk melingkar, berbisik, sesekali menatap ke arah sungai yang hitam pekat. Di balik kegelapan itu, mungkin David masih menunggu ditemukan.
Kini, seluruh Papua memegang napas. Sungai Tami yang dulu tenang, kini jadi saksi bisu tragedi pilu. David hilang, tapi perburuan ini belum selesai.
Tim SAR Gabungan yang terlibat dalam operasi ini terdiri dari Basarnas, Polsek Muara Tami, Koramil Muara Tami, keluarga korban yang gigih, serta warga lokal yang enggan tinggal diam. Mereka semua bergerak karena satu keyakinan: tidak ada korban yang layak dilupakan di dasar sungai.
Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com
