Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Lima Trayek Angkot Bekasi Lumpuh Imbas Penolakan terhadap Bus Trans Beken

BEKASI, Cinta-news.com – Ratusan sopir angkot Bekasi serentak mematikan mesin kendaraan mereka. Selasa (10/2/2026) pagi, Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, berubah jadi lautan manusia dan angkot yang mogok total. Mereka tidak sekadar demo—mereka berteriak minta selamat.

Aksi ini pecah karena Bus Trans Beken akan meluncurkan jalur baru. Sopir angkot menilai rute bus itu tumpang tindih dengan jalur nafkah mereka yang sudah puluhan tahun mereka lalui. Bukan rebutan penumpang biasa. Ini soal perut melawan kekuasaan.

Sedikitnya lima trayek angkot lumpuh total siang itu. Kemacetan mengular dari Terminal Bekasi hingga Bekasi Selatan. Pengguna jalan menggerutu, tapi di balik kemudi angkot, para sopir menahan amuk.

Lima trayek berhenti. Ribuan penumpang terlantar. Siapa bertanggung jawab?

  • Angkot 25 rute Rawa Panjang–Stasiun Cakung tidak keluar pool.
  • Angkot 07 rute Terminal Bekasi–Seroja mangkrak di pinggir jalan.
  • Angkot 11 rute Bantar Gebang–Terminal Bekasi parkir rapi sebagai barikade damai.
  • Angkot 10 rute Pondok Ungu–Terminal Bekasi ikut bergabung.
  • Angkot 30 rute Terminal Bekasi–Taman Harapan Baru (THB) ikut mati suri.

Lumpuhnya lima trayek ini memicu efek domino. Penumpuk menumpuk di halte liar. Ojek online mendadak banjir order. Namun di balik kemacetan, tersimpan kisah pilu ribuan sopir yang takut kehilangan pekerjaan dalam sekejap.

Pendapatan tergerus

Eri (45) memegang setir dengan tangan bergetar. Bukan karena lelah—tapi karena marah. Sopir angkot trayek 11 ini buka suara dengan nada tinggi namun mata berkaca-kaca.

“Kami mogok karena pemerintah diam saja. Bus Trans Beken bakal luncurkan rute baru. Kami ini swasta, tak dapat subsidi. Mereka punya dukungan penuh pemda. Kami cuma punya suara dan aksi ini,” ujarnya, menahan sesak.

Eri melanjutkan dengan nada lebih pelan. “Kami takut, pak. Penumpang pasti pilih bus baru, apalagi gratis. Kami punya istri, punya anak. Ini bukan soal gengsi, ini soal bertahan hidup.”

Dia memperkirakan sekitar 500 sopir ikut dalam aksi ini. Mereka datang dari berbagai trayek. Tak hanya sopir, pemilik angkot kecil ikut cemas. “Jam 8 pagi kami mulai demo. Kalau tak ada keputusan, besok kami lanjutkan. Sampai kapan pun kami siap,” tegasnya.

Asrizal (59) bukan wajah baru di terminal. 30 tahun ia mengemudi angkot. Hari ini, ia ikut duduk di aspal panas bersama puluhan koleganya. Keringat mengucur deras, tapi semangatnya tak surut.

“Bus baru ini gratis! Kami sopir angkot mau makan apa? Penumpang pasti kabur. Ini bukan kompetisi sehat, ini pembunuhan karakter,” ujarnya lantang.

Ia menyayangkan pemda yang seolah lupa pada angkot. “Kami juga bagian dari transportasi Bekasi. Dulu saat bus lain tak mau masuk gang sempit, kami yang masuk. Sekarang kami dibuang begitu saja?” tanyanya sinis.

Asrizal tak ingin bus baru dihentikan. Ia hanya minta kebijakan berpihak pada semua. “Beri kami ruang. Jangan matikan kami perlahan.”

Penumpang di tengah pusaran konflik

Rini (45) berdiri di pinggir jalan dengan tangan di pinggang. Matanya memandang kosong ke arah jalan yang lengang dari angkot. Ia telat 20 menit ke kantor. Dompetnya terkuras lebih cepat hari ini.

“Biasanya naik angkot cuma Rp5.000. Sekarang saya terpaksa naik Grab, bayar Rp25 ribu. Ini baru sekali jalan. Kalau pulang nanti gimana?” keluhnya.

Rini bukan anti bus baru. Ia hanya ingin pilihan terjangkau tetap ada. “Angkot itu merakyat. Saya pilih angkot karena murah dan sopirnya ramah. Kalau pemerintah mau perbaiki sistem, rekrut saja mereka jadi sopir bus. Kasihan, Pak,” tuturnya lirih.

Ia mewakili ribuan penumpang lain yang tak bersuara. Mereka hanya ingin sampai tujuan dengan ongkos murah. Namun konflik elit transportasi justru menjerat mereka.

Wali kota buka suara: “Mereka hanya takut”

Namun, di tengah gemuruh protes para sopir, Tri Adhianto, Wali Kota Bekasi, akhirnya angkat bicara. Dengan nada tenang, ia menyebut aksi ini lahir dari ketakutan, bukan fakta.

“Saya kira mereka hanya kurang sosialisasi. Lagi pula, rute bus tidak sepenuhnya tumpang tindih. Hanya beririsan di beberapa titik. Jadi menurut saya, ini bagian dari demokrasi, mereka berhak menyampaikan pendapat,” ujarnya diplomatis.

Ia menyebut angkot K-02 hanya akan bertemu bus di kawasan Timur hingga Sudirman. Tak seluruh rute mati. “Justru kehadiran bus baru bisa tumbuhkan penumpang baru. Mereka akan naik angkot juga nantinya,” tambahnya.

Tri juga menegaskan bahwa pemerintah harus menyiapkan banyak pilihan transportasi. “Kami sediakan menu. Masyarakat yang pilih. Bukan berarti kami mematikan yang lama,” pungkasnya.

Namun di lokasi demo, tak satu pun sopir merasa lega. Mereka masih duduk di trotoar. Masih menenteng spirtus. Masih berteriak minta keadilan.

Mereka tak minta bus dihentikan. Mereka hanya minta dilibatkan. Jangan jadikan angkot sebagai penjahat dalam kisah modernisasi yang setengah hati.

Pemkot Bekasi kini berjanji buka ruang dialog. Namun janji tak pernah cukup ketika besok pagi anak-anak mereka harus tetap sarapan.

Apakah angkot akan bertahan? Atau perlahan tenggelam oleh zaman yang tak lagi ramah pada yang kecil?

Bekasi menunggu jawaban. Bukan di balik meja rapat—tapi di jalanan, di mana nafkah setiap hari dipertaruhkan.

Dapatkan juga berita teknologi terbaru hanya di newtechclub.com

Exit mobile version