SURABAYA, Cinta-news.com — Bayangkan, para pelaku usaha di Kota Pahlawan mendadak gempar! Pasalnya, harga plastik di pasaran Surabaya, Jawa Timur, dilaporkan meroket luar biasa hingga 60 persen. Mengerikan, bukan? Namun, jangan khawatir! Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya saat ini dengan sigap menyiapkan berbagai langkah taktis untuk menekan lonjakan harga yang sangat memberatkan para pedagang tersebut.
“Harga Melambung Gila-gilaan!” Begini Reaksi Pemkot
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, terus berusaha menenangkan publik. Setelah kami konfirmasi pada Selasa (7/4/2026), ia mengakui bahwa kenaikan harga plastik saat ini tidak dapat dihindari. Mengapa? Semua itu karena pengaruh buruk pasokan global dan harga energi dunia yang tengah bergejolak.
Baca Juga: Avtur Tembus Rp23 Ribu per Liter, Maskapai Pilih Ubah Rute dan Rasionalisasi Kapasitas
“Situasinya memang cukup menantang ya, kenaikan harga plastik sekarang ini sangat signifikan, sekitar 30 persen sampai 60 persen,” ungkap Mia dengan nada serius.
Strategi Jitu: Pantau Stok dan Potong Rantai Pasok!
Menghadapi situasi panas ini, Pemkot Surabaya langsung mengambil tindakan nyata! Mereka melakukan monitoring rutin dan ketat terhadap ketersediaan barang di berbagai pasar tradisional hingga toko kelontong. Bukan hanya itu, Dinkopumdag juga dengan gencar menjalin komunikasi langsung dengan para distributor besar.
“Kami terus berkomunikasi dengan distributor, lalu kami hubungkan secara langsung dengan para pedagang atau UMKM kita. Jadi, intinya kami berusaha memutus rantai pasok yang terlalu panjang,” tegas Mia dengan penuh optimisme.
Langkah cerdas memutus rantai distribusi ini diharapkan akan mampu memangkas harga perolehan plastik. Dengan begitu, para pelaku usaha mikro bisa bernapas lega karena harga jual produk di tingkat konsumen tetap terjaga. Selain itu, pendampingan di lapangan pun terus kami perkuat untuk memantau dampak kenaikan biaya produksi ini.
UMKM Wajib Baca! Solusi Inovasi Kemasan dan Ubah Ukuran Produk
Nah, untuk solusi jangka pendek, Mia dengan tegas menyarankan para pelaku UMKM agar segera berinovasi pada kemasan produk mereka. Apa saja? Pertama, mereka bisa beralih ke wadah non-plastik yang lebih ramah lingkungan. Kedua, mereka disarankan mengurangi penggunaan kemasan ukuran kecil atau saset yang boros material plastik.
“Kalau untuk perdagangan pada umumnya, ubahlah kuantitas jual itu. Jangan lagi dikemas kecil-kecil. Namun perubahan yang paling signifikan adalah perubahan kemasan yang harus segera dimulai,” ujar Mia dengan penuh semangat.
Menurutnya, perubahan gaya pengemasan ini sangat krusial. Mengapa? Karena biaya plastik yang tinggi secara otomatis akan melambungkan biaya produksi jika tidak segera diantisipasi. Inovasi ini dianggap sebagai solusi jitu agar daya beli masyarakat tetap stabil dan UMKM bisa terus bertahan di tengah ketidakpastian harga bahan baku yang mencekam.
Konflik Timur Tengah Memanas, Kantong Pedagang Terbakar!
Di tingkat pedagang, keluhan pun mulai bermunculan. Kenaikan harga ini mulai dirasakan sejak momen Idul Fitri 2026 yang baru berlalu. Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa kenaikan ini adalah dampak tidak langsung dari eskalasi konflik panas di Timur Tengah. Kondisi itu pun secara signifikan mempengaruhi harga minyak bumi yang merupakan bahan baku utama plastik.
Mimin (65), seorang pedagang di Pasar Pucang Anom Surabaya, tampak frustrasi. Ia mengaku kesulitan menentukan harga jual kepada pelanggan karena lonjakan harga yang terjadi secara tiba-tiba.
“Kresek yang awalnya hanya Rp9.000 itu tiba-tiba melonjak menjadi Rp15.000! Semua jenis plastik mengalami kenaikan hampir 40 persen,” keluh Mimin dengan nada kecewa saat ditemui di Pasar Pucang Anom.
Mimin pun mengaku tidak sempat melakukan persiapan stok. Ia tidak pernah memprediksi harga akan melonjak secepat kilat ini. Ia menambahkan, banyak pelanggan yang sudah memborong plastik sejak pertengahan bulan Ramadhan, sebelum harga resmi merangkak naik secara drastis.
“Katanya sih plastik itu dari minyak bumi, padahal BBM tidak mengalami kenaikan. Ini semua gara-gara perang, dan kenaikan terjadi tepat saat hari raya Idul Fitri. Kalau soal stok, ada yang habis, ada juga yang masih tersisa,” pungkas Mimin dengan pasrah.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
