Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Selamat 10 Tahun Lalu, Kini Peracik Petasan di Malang Tewas Terkena Ledakan

MALANG, Cinta-news.com – Suasana siang bolong yang tadinya sunyi di Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tiba-tiba berubah mencekam pada Sabtu (23/5/2026). Tiba-tiba, sebuah dentuman menggelegar mengguncang seluruh permukiman warga sekitar pukul 11.30 WIB. Ternyata, sumber suara mengerikan itu berasal dari ledakan petasan rakitan.

Hebohnya, guncangan dahsyat ini tidak hanya membuat warga Jalan Dhoho kaget setengah mati. Getarannya bahkan menjalar hingga ke desa-desa tetangga, membuat banyak orang melonjak dari kursi masing-masing.

Tragisnya, peristiwa petasan meledak di Kepanjen ini merenggut nyawa pemilik rumah, Sarbini (48). Pedagang nasi goreng keliling itu diduga kuat tengah asyik meracik petasan ilegal di belakang rumahnya sebelum petaka mematikan itu terjadi.

Warga Kira KENA SERANGAN NUKLIR ISRAEL, Suaranya Tembus Antar Desa!

Ketua RT 9/ RW 1 Desa Jenggolo, Sujarno, dengan suara masih bergetar menceritakan betapa mencekamnya situasi saat ledakan petasan rakitan itu meledak. Suara menggelegar tersebut spontan membuat warga panik total. Bahkan, banyak yang sempat mengira dunia sedang diserang.

“Suaranya keras banget, kami sempat kira serangan nuklir dari Israel, soalnya kan memang lagi rame di medsos. Ternyata setelah dicek, cuma suara petasan meledak,” jelas Sujarno dengan nada lega bercampur takut, Minggu (24/5/2026). Menurutnya, suara itu terdengar jelas hingga ke Desa Mangunrejo dan Desa Sengguruh.

Begitu suara dahsyat itu menghilang, warga langsung berbondong-bondong keluar rumah. Mereka pun segera menghampiri pusat suara. Sesampainya di rumah Sarbini—yang lokasinya cuma sekitar 200 meter dari rumah Sujarno—langkah mereka terhenti mendadak. Ternyata, bagian belakang bangunan permanen itu sudah hancur parah terkena ledakan.

Tragedi 10 Tahun Lalu TERULANG! Korban Dulu Diperingatkan, Kini Tewas

Bagi warga sekitar, aktivitas mematikan korban ini bukanlah pemandangan baru. Sujarno mengungkapkan fakta mengejutkan: ini adalah ledakan petasan KEDUA KALINYA di rumah Sarbini.

“Awas, ini kejadian kedua, geng. Sekitar 10 tahun lalu, rumah yang sama pernah meledak juga. Bedanya, dulu skalanya lebih kecil dan sempat kebakaran sebagian rumahnya,” ungkap Sujarno dengan geleng-geleng kepala.

Dulu, setelah insiden pertama, pihak kepolisian sempat menggerebek rumah korban. Sebagai perangkat rukun tetangga, Sujarno pun berkali-kali memperingatkan Sarbini agar berhenti meracik petasan ilegal. Korban sempat terlihat patuh dan fokus berjualan nasi goreng keliling. Namun, siapa sangka Sarbini kembali diam-diam meracik bahan berbahaya itu, dan kini nyawanya menjadi taruhannya.

Untungnya, saat ledakan dahsyat itu terjadi, istri, mertua, dan kedua anak korban sedang tidak ada di rumah. “Keluarga selamat semua. Mungkin sedang keluar saat kejadian,” pungkas Sujarno bersyukur.

Jasad Terbakar Sekujur Tubuh, Keluarga TOLAK OT-OPSI!

Pasca-ledakan, pihak kepolisian bergerak cepat begitu menerima laporan dari perangkat desa. Kapolsek Kepanjen, Kompol Subijanto, menjelaskan bahwa saat petugas tiba di TKP, pemandangan mengerikan langsung menyambut mereka. Sarbini tergeletak lemah di lantai dengan kondisi mengenaskan. Petugas pun segera mengevakuasi korban ke RSUD Kanjuruhan.

“Begitu kami tiba, kami langsung melihat korban mengalami luka bakar di seluruh tubuhnya. Mulai dari kepala hingga kaki menghitam. Sementara itu, rumahnya juga rusak berat,” terang Kompol Subijanto dengan nada prihatin.

Sayang seribu sayang, meski sudah mendapat perawatan intensif selama sekitar 2 jam di ruang perawatan, nyawa Sarbini tidak bisa diselamatkan. Pihak rumah sakit pun menyatakan bahwa ia meninggal dunia akibat luka bakar ekstrem yang dideritanya.

Hingga berita ini diturunkan, Tim Inafis dan penyidik kepolisian masih sibuk melakukan olah TKP. Mereka juga mengamankan sejumlah barang bukti dan memeriksa para saksi mata. Semua dilakukan untuk mendalami penyebab pasti insiden ledakan petasan di Kepanjen ini.

“Penyidik kami sudah mengirimkan hasil Visum Et Repertum (VER) ke RSUD Kanjuruhan. Tujuannya jelas, untuk melakukan otopsi terhadap jenazah korban,” jelas Subijanto tegas.

Namun, keputusan mengejutkan datang dari keluarga korban. Mereka memilih TIDAK melanjutkan proses autopsi dalam. Keluarga sudah mengikhlaskan kejadian ini sebagai musibah murni. Hasilnya, kepolisian hanya melakukan tindakan visum luar sebelum akhirnya menyerahkan jenazah Sarbini kepada keluarga untuk segera dimakamkan. Sebuah pelajaran pahit yang terulang kembali.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version