PELALAWAN, Cinta-news.com – Malam Jumat yang kelam menyelimuti areal Hutan Tanaman Industri (HTI) di Kabupaten Pelalawan, Riau. Nasib tragis menimpa seorang pekerja bernama Eko Prastio (29) yang ditemukan tewas mengenaskan setelah diduga menjadi korban keganasan harimau sumatera. Pria berusia 29 tahun itu harus kehilangan nyawa akibat serangan satwa dilindungi yang mematikan.
Kisah pilu ini berawal ketika Eko memutuskan keluar sendirian dari camp tempat tinggal para pekerja. Ia nekat berjalan di tengah kegelapan malam pada Jumat (10/7/2026) demi mencari lokasi yang memiliki jaringan telepon seluler. Sinyal telepon yang sangat terbatas di kawasan itu memaksanya mengambil risiko besar demi bisa berkomunikasi dengan keluarga atau orang terdekatnya.
Namun, waktu terus berjalan dan Eko tak kunjung menunjukkan batang hidungnya hingga larut malam. Rekan-rekannya yang mulai dilanda kekhawatiran berinisiatif melakukan pencarian. Setelah menanti sepanjang malam dengan perasaan cemas, akhirnya pada keesokan paginya, mereka menemukan jasad Eko tergeletak di kawasan hutan greenbelt. Lokasi penemuan itu berjarak sekitar dua kilometer dari camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik, Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan.
Kasi Humas Polres Pelalawan AKP Thomas Bernandes Siahaan mengungkapkan fakta mengejutkan bahwa serangan terhadap korban kemungkinan besar terjadi sekitar pukul 19.00 WIB. “Kami perkirakan korban diserang harimau pada pukul 19.00 WIB di areal camp TPK PT Madukoro Lestari Estate Tasik, Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan. Esok harinya, kami temukan ia sudah meninggal dunia,” jelas Thomas saat konferensi pers, Senin (13/7/2026).
Peristiwa mengerikan ini menjadi konflik manusia versus harimau yang kedua kalinya terjadi di Kabupaten Pelalawan dalam kurun waktu hanya satu pekan. Sebelum insiden ini, seorang anak berusia 12 tahun juga dilaporkan menjadi sasaran keganasan harimau pada Selasa (7/7/2026). Dua peristiwa beruntun ini jelas memicu keresahan mendalam di kalangan masyarakat dan pekerja kawasan hutan.
Rofi Hudzil Affa (21), rekan kerja Eko, menuturkan bahwa temannya itu pergi meninggalkan camp sekitar pukul 19.00 WIB. Menurutnya, Eko berjalan menuju bagian depan camp karena di sanalah ia biasa mendapat sinyal telepon seluler yang lumayan bagus. “Dia pasti ingin menelepon seseorang, karena selama ini sinyal di camp sangat terbatas,” kenang Rofi dengan nada pilu.
Akan tetapi, waktu terus menunjukkan angka yang semakin larut, sementara Eko belum juga kembali ke camp. Kecemasan mulai menyelimuti seluruh pekerja di sana ketika mereka menyadari keberadaan Eko benar-benar hilang tanpa kabar. Merasa ada yang tidak beres, sekitar pukul 21.00 WIB, Rofi memutuskan keluar dari camp untuk mencari rekannya itu seorang diri.
Dengan langkah gontai dan hati berdebar, Rofi menyusuri kawasan sekitar camp yang menurutnya menjadi lokasi favorit Eko mencari sinyal. Meskipun telah berusaha maksimal, namun usahanya itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Karena tidak kunjung menemukan Eko, Rofi akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada pekerja lain dan pihak manajemen perusahaan agar dilakukan pencarian bersama.
Jejak Darah Menuntun ke Lokasi Penemuan
Setelah mendapat laporan, seluruh pekerja dan pihak manajemen bergerak cepat melakukan pencarian besar-besaran. Mereka menyisir setiap sudut areal di sekitar camp pekerja HTI dengan harapan menemukan Eko dalam keadaan selamat. Pencarian yang sangat melelahkan itu berlangsung hingga Sabtu (11/7/2026) pagi, dan akhirnya menemukan titik terang.
Sekitar pukul 06.00 WIB, tepat saat fajar mulai menyingsing, para pekerja menemukan bercak darah segar di lokasi yang berjarak kurang lebih 100 meter dari bagian depan camp. Temuan mengerikan itu sontak membuat seluruh tim pencari bergidik ngeri, namun mereka tetap melanjutkan penelusuran mengikuti jejak darah tersebut.
“Pada pukul 06.00 WIB, kami menemukan bercak darah korban sekitar 100 meter dari depan camp. Para saksi kemudian mengikuti jejak darah itu,” ungkap Thomas menjelaskan kronologi penemuan. Langkah mereka semakin cepat dan penuh waspada ketika menyadari jejak darah itu memanjang hingga sekitar dua kilometer menuju kawasan greenbelt.
Jasad Terseret Sejauh 2 Kilometer ke Hutan Greenbelt
Dengan susah payah, para pekerja terus mengikuti jejak berdarah yang diduga kuat berasal dari tubuh Eko. Mereka merambah semak belukar dan melewati medan berat yang sulit dilalui. Akhirnya sekitar pukul 07.00 WIB, pemandangan mengenaskan menyambut mereka ketika menemukan Eko sudah dalam kondisi meninggal dunia.
Lokasi penemuan jasad itu berada sekitar dua kilometer dari titik awal Eko meninggalkan camp, sungguh jarak yang sangat jauh untuk ukuran terseret. Polisi menduga kuat bahwa Eko diserang di tempat sepi yang minim penerangan, kemudian harimau itu menyeretnya ke dalam hutan sejauh 2 kilometer. Betapa dahsyatnya kekuatan satwa buas tersebut!
“Kami menduga korban diserang harimau di area sepi minim penerangan, lalu diseret ke areal hutan sejauh 2 kilometer,” tegas Thomas mengungkapkan fakta mengerikan itu.
Evakuasi Jenazah dan Penyelidikan Polisi
Setelah jasad Eko berhasil ditemukan, pihak manajemen perusahaan segera mengevakuasinya menuju Klinik Estate Tasik untuk penanganan lebih lanjut. Saat melakukan pemeriksaan awal, polisi mendapati sejumlah luka menganga di tubuh korban yang diduga kuat akibat gigitan dan cakaran harimau. Temuan ini jelas memperkuat dugaan awal bahwa Eko tewas setelah menjadi korban keganasan satwa liar tersebut.
Pada sekitar pukul 10.30 WIB, jasad Eko kemudian diserahkan kepada pihak keluarga dan kontraktor tempat korban bekerja yang datang menjemput. Jenazah selanjutnya dibawa menuju Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, untuk dimakamkan secara layak oleh pihak keluarga. Eko diketahui merupakan warga asli Kabupaten Kampar yang sehari-hari bekerja di areal HTI PT Madukoro Lestari Estate Tasik.
Polisi Olah TKP dan Minta Bantuan BBKSDA
Personel Polsubsektor Pelalawan bergerak cepat mendatangi lokasi kejadian setelah menerima laporan dari pihak perusahaan sekitar pukul 09.00 WIB. Petugas kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara secara menyeluruh untuk mengumpulkan barang bukti dan petunjuk. Mereka juga langsung mengamankan area tersebut dari akses masyarakat umum.
Selain melakukan penyelidikan, polisi juga meminta pihak manajemen perusahaan agar segera berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Langkah ini sangat penting untuk menangani keberadaan harimau sumatera yang masih berkeliaran di sekitar areal kerja. Koordinasi tersebut juga bertujuan untuk menyusun langkah mitigasi agar serangan serupa tidak terjadi lagi di masa depan.
Tim dari BBKSDA nantinya akan memastikan pergerakan satwa, area jelajahnya, serta tingkat risiko terhadap para pekerja yang masih beraktivitas di sekitar kawasan hutan. Semua data itu diperlukan agar dapat dirumuskan strategi efektif untuk melindungi keselamatan manusia di tengah habitat satwa liar.
Dua Serangan Beruntun dalam Sepekan Gegerkan Pelalawan
Kematian tragis Eko menjadi catatan kelam karena ini merupakan serangan harimau kedua di Pelalawan dalam kurun waktu kurang dari satu pekan. Pada Selasa (7/7/2026), seorang anak usia 12 tahun juga dilaporkan menjadi korban keganasan harimau di wilayah tersebut. Rangkaian serangan ini jelas membuat tingkat kekhawatiran masyarakat dan pekerja melonjak drastis.
Pihak kepolisian dan BBKSDA mengimbau seluruh perusahaan yang beroperasi di kawasan perkebunan maupun hutan agar meningkatkan sistem pengawasan secara signifikan. Mereka juga menekankan pentingnya kesadaran para karyawan untuk tidak bepergian seorang diri, khususnya pada malam hari atau di lokasi dengan penerangan terbatas. Langkah pencegahan sederhana ini dinilai sangat krusial untuk mengurangi risiko interaksi fatal antara manusia dan satwa liar.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











