KUKAR, Cinta-news.com – Musim kemarau tahun ini benar-benar menunjukkan taringnya di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Tak tanggung-tanggung, kebakaran lahan gambut seluas sekitar 50 hektare melalap habis kawasan di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga, pada Selasa (18/8/2026). Situasi di lapangan sungguh mencekam. Bayangkan, kobaran api yang berkobar hanya berjarak sekitar 100 hingga 150 meter dari pemukiman warga. Bahkan, si jago merah sempat bergerak mendekati rumah-rumah penduduk, membuat warga panik dan terpaksa menyelamatkan diri.
Api Mengamuk di Lahan Gambut, Angin Kencang Memperparah Keadaan
Rahman, Koordinator Pos Damkar Sangasanga, menjelaskan bahwa kebakaran terjadi di kawasan lahan gambut yang memang memiliki sifat mudah terbakar.
Kondisi ini semakin parah ketika angin bertiup kencang, sehingga api dengan cepat menjalar dan mengancam pemukiman.
“Sebenarnya ini kebakaran lahan gambut, dan angin kencang membuat api mengarah langsung ke pemukiman warga,” ujar Rahman saat dikonfirmasi pada Selasa malam.
Petugas pemadam pertama kali mendeteksi titik api sekitar pukul 02.00 Wita.
Setelah itu, api dengan cepat meluas dan membakar lahan hingga mencapai perkiraan luas 50 hektare.
Rahman menambahkan bahwa lahan yang terbakar terdiri dari milik pemerintah, perusahaan, dan warga.
Kawasan tersebut memang berada di wilayah gambut, sehingga risiko kebakaran sangat tinggi.
Proses Pemadaman Berlangsung Lama, Api Belum Padam Total
Meskipun petugas berjuang memadamkan api hingga sekitar pukul 21.30 Wita, namun api belum sepenuhnya padam.
Karakter lahan gambut membuat kebakaran sangat sulit ditangani, karena api tidak hanya membakar permukaan tanah, tetapi juga merambat dan bertahan di bagian bawah.
Rahman menjelaskan, “Karena gambut, saat api naik, yang terbakar di bawah juga ada dan masih terus menyala.”
Kondisi ini membuat titik api dapat kembali muncul meskipun sebelumnya sudah disiram dan dinyatakan padam.
“Saya sudah padamkan, tapi setelah sekitar lima menit ditinggalkan, api muncul lagi,” ujarnya.
Karena itu, Rahman menyebut potensi api kembali muncul masih sangat besar dan mengancam keselamatan warga.
Angin Kencang dan Sumber Air Sulit Jadi Kendala Utama
Ancaman kebakaran semakin diperparah oleh angin kencang dan sulitnya mendapatkan sumber air.
Rahman mengungkapkan, “Kendala pemadaman sebenarnya angin deras dan titik air yang susah.”
Untuk mengatasi keterbatasan air, petugas meminta bantuan warga sekitar untuk menyuplai air.
Beberapa perusahaan di sekitar lokasi juga ikut mengerahkan tangki dan tim pemadam mereka.
Selain itu, akses menuju titik api juga menjadi kendala besar.
Petugas harus membuka jalur terlebih dahulu untuk bisa mencapai area yang terbakar.
Drone Jadi Andalan Pantau Api di Malam Hari
Dalam kondisi malam dengan penerangan terbatas, petugas menggunakan drone pinjaman untuk memantau anggota yang berada di tengah area kebakaran.
“Kita menggunakan drone untuk memantau anggota di lapangan,” kata Rahman.
Pemantauan dari udara ini sangat membantu mengarahkan petugas di lapangan.
“Kita pantau mereka dengan drone, lalu kita arahkan lewat radio, kiri, kanan,” ujarnya.
Menurut Rahman, cara tersebut sangat efektif karena akses menuju lokasi kebakaran sangat sulit, apalagi di malam hari.
“Jalur malam itu aksesnya susah, lampu juga terbatas. Jadi, kami memanfaatkan drone pinjaman,” katanya.
Asap Tebal Bikin Panik, Ratusan Warga Dievakuasi
Asap tebal yang menyelimuti kawasan kebakaran membuat warga panik.
Apalagi lokasi kebakaran berdekatan dengan pemukiman.
Ratusan warga, terutama orang tua dan anak balita, sempat dievakuasi oleh relawan Kelurahan Pendingin.
Mereka sementara dipindahkan ke rumah keluarga untuk menghindari paparan asap yang berbahaya bagi kesehatan.
“Alhamdulillah, sekarang sudah aman dan kembali normal,” kata Rahman.
Setelah kondisi dinilai lebih terkendali, warga diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing.
Di sekitar lokasi kebakaran, terdapat sedikitnya 300 kepala keluarga yang tinggal di wilayah pemukiman Kelurahan Pendingin.
15 Personel Damkar dan Puluhan Relawan Turun Tangan
Sebanyak 15 personel Pos Damkar Sangasanga dikerahkan untuk memadamkan api.
Namun, hanya sekitar 10 personel yang berada di lokasi, sementara lima lainnya tetap berjaga di posko.
Mereka juga diperkuat oleh puluhan relawan dari berbagai komunitas, antara lain Redkar Kelurahan Pendingin, Redkar Kota Juang, Redkar Sangasanga Muara, Redkar Sadi Jaya, Relawan Albaddar, dan Relawan Wadah Batuah.
Perusahaan di sekitar lokasi juga turut membantu dengan mengerahkan tangki dan tim pemadam mereka.
Peralatan Terbatas, Petugas Maksimalkan Semua Fasilitas
Rahman mengakui bahwa Pos Damkar Sangasanga harus memaksimalkan peralatan yang tersedia.
Fasilitas pemadam kebakaran yang dimiliki sebenarnya bukan khusus untuk menangani kebakaran lahan.
“Tempatnya sebenarnya bukan untuk kebakaran lahan, tapi kami manfaatkan semua yang ada di sektor kami,” ujarnya.
Petugas berjuang keras dengan peralatan seadanya demi melindungi warga dan pemukiman dari ancaman api.
Kemarau Panjang Picu Risiko Kebakaran, Warga Diimbau Tidak Membakar Sampah
Kebakaran lahan gambut di Pendingin menjadi gambaran nyata bagaimana kondisi kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Rahman mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas pembakaran terbuka selama musim kemarau.
“Kalau saat ini kan kemarau panjang. Jangan membakar sampah atau kebun yang bisa menyebabkan kebakaran lebih besar,” katanya.
Imbauan terkait ancaman kemarau panjang juga telah disampaikan di tingkat kelurahan dan kecamatan.
Air Sungai Mahakam Mulai Terasa Asin, Tanda Kemarau Semakin Parah
Kondisi kemarau mulai terasa di wilayah Sangasanga.
Bahkan, masyarakat mulai merasakan perubahan pada air Sungai Mahakam.
“Di wilayah Sangasanga ini sudah mulai, istilah orang Banjar, air Sungai Mahakam sudah mulai antah campur air asin,” ujar Rahman.
Saat ditanya apakah air Sungai Mahakam memang mulai terasa asin, Rahman membenarkannya.
“Iya, sudah mulai terasa,” katanya.
Warga Diminta Waspada, Api Bisa Muncul Kembali Kapan Saja
Rahman meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.
Lahan gambut memiliki karakter berbeda karena api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun kobaran di atas tanah sudah terlihat padam.
Kebakaran juga dapat dengan cepat meluas ketika angin kembali menguat.
Beruntung, menjelang malam, kondisi angin mulai melemah dan udara menjadi lebih lembap sehingga intensitas panas berkurang.
“Untung saja kejadian ini menjelang malam, jadi angin berkurang. Cuaca lembap, jadi tidak terlalu berpengaruh pada panas. Ini sudah agak berkurang,” kata Rahman.
Pantang Pulang Sebelum Padam, Itu Slogan Kami
Meskipun petugas telah meninggalkan lokasi sekitar pukul 21.30 Wita, pemantauan tetap dilakukan karena api belum padam total.
Bagi petugas Damkar Sangasanga, penanganan kebakaran lahan bukan sekadar memadamkan api, tetapi memastikan api tidak kembali hidup dan menjalar menuju pemukiman.
“Kami punya slogan, pantang pulang sebelum padam,” tegas Rahman.
Menurutnya, kembali ke posko bukan berarti persoalan selesai.
Petugas baru meninggalkan lokasi setelah kondisi dinilai aman dan pemantauan dapat dilakukan.
“Kalau sebelum padam kami pulang ke posko, berarti aman,” pungkasnya.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











