JAKARTA, Cinta-news.com – Wah, kabar besar datang dari industri nikel tanah air! Indonesia kini semakin mantap melangkah sebagai raksasa baru di panggung global. Coba bayangkan, berdasarkan rilis terbaru dari U.S. Geological Survey (USGS) pada 2026, Indonesia memegang cadangan nikel terbesar di dunia, yaitu mencapai 62 juta ton! Angka fantastis ini saja sudah mewakili sekitar 44,3 persen dari total timbunan nikel seluruh planet. Hebatnya lagi, sekitar 90 persen dari cadangan super besar ini tersebar di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan tentu saja, bintang utamanya: Maluku Utara.
Nah, dari sinilah cerita serius dimulai. Maluku Utara tidak tinggal diam; daerah ini justru menguatkan posisinya sebagai salah satu pusat hilirisasi nikel terintegrasi kelas dunia. Penguatan ini benar-benar terlihat nyata lewat gelaran North Maluku Sustainability Trip. Kegiatan keren ini diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Komite Bilateral UK dan Irlandia, berkolaborasi dengan Kadin Indonesia dan juga Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP). Acara ini berhasil mempertemukan berbagai pemain penting, mulai dari organisasi internasional, pelaku industri, investor, akademisi, hingga para pembuat kebijakan. Mereka semua datang dengan satu tujuan: meninjau langsung bagaimana sih perkembangan ekosistem hilirisasi nikel di Maluku Utara?
Forum bergengsi ini juga dijadikan sebagai ruang diskusi panas mengenai posisi strategis Maluku Utara. Daerah ini mulai dirujuk sebagai contoh nyata praktik responsible downstreaming atau hilirisasi yang bertanggung jawab. Isu ini makin krusial karena pasar dunia kini makin keras menuntut rantai pasok mineral kritis yang berkelanjutan. Siapa yang tidak peduli dengan masa depan bumi, kan?
Perhatian global terhadap keberlanjutan rantai pasok mineral kritis memang terus meningkat dari hari ke hari. Namun, Maluku Utara perlahan tapi pasti mulai menunjukkan bukti nyata. Di sini, hilirisasi tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi sekaligus mampu menjawab tuntutan berat soal lingkungan, sosial, dan tata kelola atau yang kita kenal dengan environmental, social, and governance (ESG). Keren banget, kan?
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, dengan percaya diri memaparkan dampak nyata dari hilirisasi nikel terhadap daerahnya. Ekonomi Maluku Utara, katanya, melesat tumbuh sekitar 34 persen secara tahunan pada tahun lalu. Bahkan, pada kuartal I 2026, ekonomi daerah ini mampu tumbuh 19,64 persen. Angka ini menjadikannya yang tertinggi se-Indonesia! “Sebagian besar pertumbuhan ini berasal dari industri hilirisasi, khususnya di sektor nikel. Pertumbuhan ini membuktikan bahwa hilirisasi telah menciptakan nilai tambah yang nyata bagi daerah,” ujar Sherly dalam keterangan persnya, Sabtu (6/6/2026). Mantap, kan?
Sherly juga menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Mereka bertekad memperkuat pengawasan lingkungan, meningkatkan transparansi, dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam pembangunan industri. Langkah-langkah ini dinilai sangat penting agar manfaat pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan lebih luas dan, yang terpenting, berkelanjutan. “Lima puluh tahun dari sekarang, Maluku Utara tidak boleh hanya dikenal karena nikel yang diambil dari tanahnya, tetapi karena nilai yang berhasil kita tinggalkan bagi masyarakatnya,” lanjut Sherly dengan penuh visi. Nah, ini baru namanya pemimpin!
Kunjungan Lapangan yang Membuka Mata
Selanjutnya, kegiatan North Maluku Sustainability Trip ini juga dimeriahkan dengan kehadiran sejumlah organisasi bergengsi. Mereka semua berperan besar dalam pengembangan standar keberlanjutan sektor mineral global. Beberapa di antaranya adalah Nickel Institute, International Council on Mining and Metals (ICMM), Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), Global Battery Alliance, Glencore, GIZ, para akademisi, serta berbagai asosiasi industri. Dalam diskusi, mereka fokus membahas isu-isu strategis seperti responsible mining, transparansi rantai pasok, perlindungan biodiversitas, pengembangan masyarakat, hingga peluang kolaborasi jangka panjang untuk mendukung transisi energi global. Serius, ini bukan sekadar acara seremonial!
Puncaknya, para peserta diajak melakukan kunjungan lapangan yang sangat berkesan ke area pertambangan PT Weda Bay Nickel (WBN) dan fasilitas IWIP. Kunjungan ini mencakup berbagai fasilitas canggih, mulai dari fasilitas pengolahan nikel, fasilitas pengelolaan lingkungan yang modern, pusat riset dan pengembangan, hingga rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dalam satu kawasan industri. Wah, peserta benar-benar bisa melihat langsung bagaimana implementasi hilirisasi nikel dan berbagai inisiatif keberlanjutan dijalankan di lapangan. Pengalaman yang membuka mata, pastinya!
Ahmad Fikri Susanto, perwakilan Kadin Komite Bilateral UK dan Irlandia yang juga menjabat sebagai Direktur BYD Haka Auto, memberikan pendapatnya. Menurutnya, investor dan pembeli global kini tidak lagi sekadar melihat volume produksi. Mereka sudah jauh lebih peduli pada aspek keberlanjutan rantai pasok. “Investor dan pembeli global kini ingin melihat lebih dari sekadar volume produksi. Mereka ingin memahami bagaimana rantai pasok dikelola, bagaimana lingkungan dijaga, dan bagaimana masyarakat turut merasakan manfaat pembangunan. Upaya membangun kepercayaan kini menjadi sama pentingnya dengan membangun kapasitas produksi itu sendiri,” ucapnya dengan tegas.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Luar Negeri Kadin Indonesia, Bernardino Vega, menambahkan bahwa standar keberlanjutan kini semakin mempengaruhi keputusan investasi dan akses pasar industri mineral global. “Semakin banyak dana investasi yang menerapkan kriteria ESG menjadikan kepatuhan terhadap standar keberlanjutan sebagai salah satu prasyarat utama dalam pengambilan keputusan investasi,” tukas Bernardino. Data pun berbicara: investasi di sektor pengolahan mineral Indonesia tercatat melonjak 208 persen pada periode 2019 hingga 2022. Nilainya pun naik drastis dari 3,56 miliar dolar AS menjadi 10,96 miliar dolar AS. “Peran Kadin Indonesia adalah memastikan pelaku usaha nasional memahami dengan jelas standar dan ekspektasi yang terus berkembang tersebut, serta membantu mereka beradaptasi lebih awal,” pungkas Bernardino.
Tenaga Kerja Lokal Jadi Tulang Punggung
Presiden Direktur PT IWIP, Kevin He, juga turut angkat bicara. Ia menegaskan bahwa investasi di kawasan tersebut tidak hanya mendukung industrialisasi Indonesia, tetapi juga transisi energi global. “Investasi yang berkembang di kawasan ini tidak hanya berkontribusi terhadap agenda industrialisasi Indonesia, tetapi juga mendukung upaya global dalam membangun sistem energi yang lebih bersih, mempercepat adopsi kendaraan listrik, dan memperkuat rantai pasok yang lebih tangguh,” ungkap Kevin He dengan optimis. Namun, ia juga mengingatkan bahwa pertumbuhan industri membawa tanggung jawab besar. Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, dan ekspansi industri harus menciptakan peluang serta manfaat nyata bagi masyarakat lokal.
Yang paling membanggakan, ekosistem hilirisasi di IWIP terbukti berdampak signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja di Maluku Utara. Saat ini, sekitar 85 persen tenaga kerja di kawasan IWIP berasal dari Maluku Utara sendiri. Angka keren ini dengan jelas mencerminkan keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam rantai nilai industri yang terus berkembang pesat di wilayah tersebut. Kini, bukan hanya nikelnya yang melimpah, tetapi juga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh putra-putri daerah.
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











