TEHERAN, Cinta-news.com – Dunia kembali bergetar! Pasukan elite Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), secara resmi mengunci Selat Hormuz pada Minggu (12/7/2026). Keputusan dramatis ini langsung memicu kekhawatiran global akan konflik terbuka dengan Amerika Serikat. IRGC dengan tegas mengumumkan bahwa jalur perairan strategis itu akan tetap tertutup hingga pemberitahuan lebih lanjut, dan mereka tidak akan segan-segan menindak siapa pun yang mencoba melanggarnya.
Dalam pernyataan resmi yang disiarkan melalui televisi negara Iran, IRB, Angkatan Laut IRGC menjelaskan bahwa setiap bentuk intervensi asing atau upaya pembentukan “jalur ilegal” di selat tersebut akan mereka lawan dengan kekuatan penuh. Mereka bahkan sudah bertindak tegas dengan menembakkan tembakan peringatan ke arah kapal-kapal yang dianggap membangkang, mematikan sistem navigasi mereka dan menyimpang dari rute yang telah disetujui Iran.
Langkah mengejutkan ini bukan tanpa sebab. Hanya beberapa hari sebelumnya, tiga kapal tanker komersial menjadi sasaran serangan misterius yang memicu baku tembak sengit dengan pihak AS. Insiden berdarah itu seolah menjadi pemicu utama bagi IRGC untuk mengambil tindakan drastis. Mereka dengan lantang menegaskan bahwa tidak ada satu kapal pun—baik komersial maupun militer—yang akan diizinkan melintasi Selat Hormuz selama campur tangan AS di kawasan itu masih berlanjut. “Kami akan melindungi kedaulatan kami dengan segenap jiwa,” tegas pernyataan mereka.
SUMPAH DARAH MOJTABA KHAMENEI: BALAS KEMATIAN AYAHNYA!
Keputusan penutupan Selat Hormuz datang hanya beberapa jam setelah dunia dikejutkan oleh pidato pertama Mojtaba Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Dalam pesan berapi-api yang diunggah di akun Telegram pribadinya, Mojtaba bersumpah akan membalas kematian ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan gabungan AS dan Israel beberapa bulan lalu.
“Kami berjanji dengan darah kami, balas dendam atas gugurnya pemimpin kami dan semua martir dari dua perang ini akan kami tuntaskan dari para pembunuh yang keji dan tercela!” ujar Mojtaba dengan suara bergetar penuh amarah. Baginya, ini bukan sekadar dendam pribadi, melainkan tuntutan seluruh bangsa Iran yang harus segera diwujudkan. Dalam pidato yang sama, ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada jutaan rakyat Iran yang membanjiri jalan-jalan Teheran dalam prosesi pemakaman ayahnya. Kehadiran massa yang luar biasa besar itu, menurutnya, telah menorehkan sejarah baru dan berhasil memecah belah barisan musuh-musuh Iran.
Mendengar sumpah darah ini, seluruh dunia langsung tersentak. Apakah ini pertanda perang besar akan segera meletus di kawasan Teluk yang sudah panas?
ANCAMAN TRUMP: 1.000 RUDAL SIAP MELULUHLAKAN IRAN!
Situasi semakin memanas ketika Presiden AS Donald Trump merespons dengan ancaman yang tidak kalah dahsyat. Melalui platform Truth Social-nya, Trump dengan berapi-api mengklaim telah memerintahkan seluruh pasukan militer AS untuk bersiap menghantam Iran dengan kekuatan penuh. Ia memperingatkan bahwa jika pemerintah Iran berani bertindak atau bahkan sekadar mencoba melakukan pembunuhan terhadap dirinya, maka neraka akan terbuka bagi Republik Islam.
“1.000 rudal telah saya siapkan dan bidikkan tepat ke jantung Republik Islam Iran, dengan ribuan rudal lainnya akan segera menyusul! Jika pemerintah Iran bertindak sesuai dengan ancaman mereka yang telah diumumkan ke seluruh dunia untuk membunuh, atau mencoba membunuh, Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, dalam hal ini, SAYA!” tulis Trump dengan huruf kapital penuh. “Perintah telah saya berikan! Militer AS siap, bersedia, dan mampu, untuk jangka waktu satu tahun—yang dapat diperpanjang—untuk memusnahkan dan menghancurkan seluruh wilayah Iran secara total!”
Unggahan Trump ini sontak membuat bursa saham global berguncang dan harga minyak dunia melonjak drastis. Para analis militer memperkirakan bahwa jika konflik benar-benar pecah, ini akan menjadi perang terbesar di kawasan Timur Tengah sejak invasi Irak.
LAUTAN MANUSIA MENERIAKKAN KEMATIAN BAGI TRUMP!
Di sisi lain, prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei telah berubah menjadi panggung raksasa pembangkangan terhadap AS. Ratusan ribu bahkan jutaan pelayat yang memenuhi jalan-jalan Teheran meneriakkan slogan-slogan anti-AS dengan penuh semangat. Teriakan “Kematian bagi Trump!” dan tuntutan pembalasan atas wafatnya Khamenei menggema di seluruh penjuru kota, menciptakan atmosfer revolusioner yang mengingatkan pada masa-masa awal kemenangan Revolusi Islam 1979.
Khamenei, yang telah memimpin Iran selama lebih dari tiga dekade sejak 1989, meninggal dunia setelah Teheran dibombardir habis-habisan oleh serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Serangan brutal itu juga merenggut nyawa anggota keluarga Khamenei lainnya, termasuk cucunya yang masih belia—seorang bayi berusia 14 bulan yang menjadi simbol kesedihan mendalam bagi seluruh rakyat Iran. Insiden inilah yang kemudian memicu serangan balasan Iran ke negara-negara Teluk yang dianggap dekat dengan AS dan Israel, memperlebar jurang konflik di kawasan.
Kini, dengan penutupan Selat Hormuz, sumpah darah Mojtaba Khamenei, dan ancaman rudal Trump, dunia seolah berada di ujung tanduk. Seluruh mata tertuju pada langkah selanjutnya dari dua negara adidaya yang sedang saling adu otot ini. Apakah ini hanya taktik tekanan, ataukah benar-benar awal dari perang besar yang akan mengubah peta politik global? Yang pasti, kawasan Teluk saat ini bagaikan tong mesiu yang siap meledak kapan saja!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.
