Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Klarifikasi Pemerintah Soal Isu Pengadaan Kipas Angin Rp 1,8 Triliun untuk Kopdes Merah Putih

JAKARTA, Cinta-news.com Geger! Satu peristiwa mengejutkan kembali menggoncang jagat maya dan ruang rapat DPR. Bayangkan, isu pengadaan 1,8 juta unit kipas angin dengan nilai fantastis mencapai Rp 1,8 triliun untuk Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih tiba-tiba menjadi perbincangan hangat dan memicu gelombang pertanyaan keras dari berbagai kalangan. Wajar saja, angka sebesar itu tentu membuat siapa pun langsung terperanjat dan mempertanyakan logika di balik anggaran yang teramat jumbo tersebut.

Kabar yang beredar luas di media sosial ini pun sontak mengundang reaksi beragam. Tidak hanya warganet yang gempar, namun para wakil rakyat di Senayan pun turut angkat bicara dan meminta kejelasan. Bahkan, Menteri Koperasi pun dengan tegas angkat tangan dan menyatakan bahwa proyek kontroversial ini sama sekali bukan bagian dari program kementeriannya. Di sisi lain, pihak PT Agrinas Pangan Nusantara yang disebut-sebut terkait justru balik menuding dan mempertanyakan kredibilitas data yang digunakan oleh para pengkritik. Lantas, mana yang benar? Apakah ini sekadar isu murahan atau memang ada fakta tersembunyi di balik angka Rp 1,8 triliun tersebut? Mari kita kupas tuntas polemik yang sedang memanas ini.

DPR Langsung Tembak! Pertanyakan Transparansi Pengadaan Kipas Angin Rp 1,8 Triliun

Suasana rapat kerja antara Komisi VI DPR RI dengan Menteri Koperasi tiba-tiba memanas ketika Anggota Komisi VI dari Fraksi PDI-P, Mufti Anam, melontarkan pertanyaan pedas yang langsung menghentak ruangan. Tanpa basa-basi, politisi ini menyoroti isu pengadaan 1,8 juta unit kipas angin senilai Rp 1,8 triliun untuk Kopdes Merah Putih yang tengah viral dan menjadi buah bibir di mana-mana. Kemudian, ia pun dengan lugas mempertanyakan spesifikasi dan rasionalitas anggaran raksasa tersebut karena dinilai sangat tidak wajar jika dibandingkan dengan harga pasaran pada umumnya.

“Izin ke Bapak Menteri. Hari ini rakyat sedang dihebohkan dengan isu adanya pengadaan kipas angin 1,8 juta yang nilainya Rp 1,8 triliun. Lalu, kemudian dari isu ini kami coba mencari informasi, tetapi kami tidak dapat satu informasi pun dari pemerintah adanya pengadaan ini,” ujar Mufti dengan nada tegas di hadapan Menteri Koperasi Ferry Juliantono, Rabu (15/7/2026). Bahkan, Mufti mengaku sudah berusaha mencari informasi ke berbagai pihak terkait, namun tidak seorang pun berani memberi jawaban pasti mengenai kebenaran isu tersebut.

Mufti pun langsung melontarkan pertanyaan kunci kepada Menteri Koperasi. “Nah, maka pada kesempatan ini kami ingin tanya kepada Pak Menteri, isu soal pengadaan 1,8 juta kipas angin dengan anggaran Rp 1,8 triliun itu betul tidak, Pak?” tegasnya. Lebih lanjut, ia membandingkan harga satuan kipas angin yang beredar di pasaran. Berdasarkan pantauannya di berbagai platform e-commerce, harga kipas angin model standing berkisar di angka Rp 300.000 per unit. Padahal, menurut logika bisnis, pembelian dalam jumlah massal seharusnya bisa menekan harga hingga jauh lebih murah.

“Itu kipas angin yang standing loh, Pak. Yang embusan anginnya bisa mungkin bisa apa? Mengempaskan tikus-tikus di KDMP begitu,” ujar Mufti dengan nada sinis yang langsung memicu gelak tawa dan perhatian serius seluruh peserta rapat. Pernyataan ini semakin memperkuat kesan bahwa ada sesuatu yang janggal dan perlu diungkap secara transparan.

Menkop Bantah Keras: Itu Bukan Proyek Kementerian Kami!

Menyikapi desakan dan pertanyaan keras dari anggota DPR, Menteri Koperasi Ferry Juliantono pun langsung merespons dengan tegas dan lugas. Dengan jelas, ia membantah bahwa proyek pengadaan kipas angin fantastis tersebut merupakan agenda dari Kementerian Koperasi. Namun demikian, ia juga memberikan penjelasan teknis bahwa terdapat jenis kipas angin industri tertentu yang memang dibanderol dengan harga cukup tinggi, berbeda dengan kipas angin rumahan biasa.

“Soal kipas angin ini saya enggak tahu. Ini kalau pengadaannya bukan kami, Pak. Tetapi rasanya angka yang ada itu kalau bentuk kipas anginnya yang model ada di Imatsu MDF itu harganya di Shopee ini 11.465.000. Tetapi itu, saya enggak tahu persis,” ungkap Ferry saat menjawab pertanyaan Mufti di ruang rapat. Pernyataan ini sekaligus menjadi bantahan halus namun tegas bahwa kementeriannya tidak terlibat dalam pengadaan tersebut.

Di kesempatan berbeda, Ferry kembali menegaskan bantahannya saat ditemui awak media di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Kamis (16/7/2026). Ia bahkan dengan tegas menyebut bahwa kipas angin yang dimaksud dalam isu tersebut bukanlah kipas angin biasa untuk kos-kosan yang terbuat dari plastik murah. “Ah, itu kipas anginnya bukan kipas angin kos-kosan, itu kipas angin, kalau kipas angin kos-kosan yang plastik,” cetus Ferry. Namun, ia kembali mengakui bahwa dirinya tidak memiliki informasi detail mengenai pengadaan tersebut dan memastikan bahwa hal itu bukan berada di bawah kewenangan Kementerian Koperasi. “Saya kurang tahu, itu bukan di Kementerian Koperasi,” pungkasnya.

Agrinas Tersinggung dan Balik Menyerang: Jangan Asal Bicara Tanpa Data!

Sementara itu, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo de Sousa Mota, tampak tersinggung dengan pernyataan anggota Dewan yang dinilainya kurang berbasis data dan cenderung provokatif. Dengan nada kecewa, Joao menyayangkan sikap wakil rakyat tersebut karena dianggap telah berbicara tanpa menggunakan data yang prudent dan akurat. Baginya, hal ini sangat merendahkan martabat lembaga DPR itu sendiri.

“Sehingga sebetulnya, itu sebetulnya sikap-sikap beliau seperti itu sangat merendahkan dan tidak menjunjung tinggi kehormatan badan Dewan Perwakilan Rakyat,” ujar Joao dengan ekspresi kesal saat ditemui di lokasi yang sama. Ia pun mengingatkan agar para anggota dewan dapat mengumpulkan data yang valid dan akurat sebelum berbicara di muka publik, sehingga tidak menciptakan narasi yang justru memprovokasi dan meresahkan masyarakat luas.

Joao juga mengajak semua elemen bangsa untuk bersatu padu mendukung program pembangunan desa, ketimbang sibuk melontarkan tudingan-tudingan yang tidak berdasar dan tanpa bukti kuat. Ketika awak media terus mendesak dan mempertanyakan kebenaran kabar pengadaan Rp 1,8 triliun tersebut, Joao dengan cerdik menghindari jawaban tegas dan justru membalikkan pertanyaan. Ia meminta pihak penuduh untuk menjelaskan dari mana sumber data mereka berasal.

“Kan harus ada ketepatan, harus ada kebenaran, dan harus ada kejujuran daripada data itu. Karena kalau tidak, menjadi satu fitnah yang seolah-olah hanya memprovokasi masyarakat,” ucapnya dengan nada tajam. Joao menambahkan bahwa Agrinas tidak hanya mengadakan mobil pikap untuk Kopdes Merah Putih, melainkan total ada 26 jenis sarana dan prasarana yang disiapkan. Untuk rincian detailnya, ia dengan santai meminta wartawan untuk mengecek langsung unggahan media sosialnya yang sudah di-broadcast sebelumnya. Menurutnya, di sana sudah tertera rincian harga satu per satu dan jenis barang yang jauh lebih lengkap daripada penjelasan lisan yang mungkin tidak sempurna.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *