Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Kyiv Beberkan Kerja Sama Rusia-Iran: Drone Shahed Buatan Moskow Dipakai Serang AS

KYIV, Cinta-news.com – Sebuah pengakuan mengejutkan baru saja meledak di panggung geopolitik dunia! Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, dengan lantang membongkar skandal besar: Rusia diam-diam memasok drone tempur Shahed kepada Iran. Lebih mencengangkan lagi, senjata canggih ini rencananya akan digunakan untuk menghantam Amerika Serikat dan Israel di tengah konflik Timur Tengah yang sedang membara. Wah, dunia benar-benar sedang panas-panasnya!

Zelensky Buka Suara: “Ini Fakta 100 Persen!”

Dalam cuplikan wawancara eksklusif dengan CNN yang akhirnya dirilis pada Sabtu (14/3/2026), Zelensky tidak main-main dengan pernyataannya. Dengan tegas ia menyatakan bahwa Iran sudah mulai mengoperasikan drone Shahed buatan Rusia untuk menyerang pangkalan militer Amerika Serikat. “Dengar, ini bukan isapan jempol belaka. Ini adalah fakta 100 persen bahwa Iran menggunakan Shahed buatan Rusia untuk menyerang pangkalan AS,” ujar Zelensky dengan nada penuh keyakinan kepada jurnalis kawakan CNN, Fareed Zakaria.

Ngomong-ngomong soal drone Shahed, kita pasti langsung teringat dengan mesin terbang maut ini. Awalnya, drone ini dikenal sebagai senjata andalan Iran—sebuah alternatif murah meriah namun mematikan dibandingkan rudal konvensional yang harganya selangit. Tapi namanya melejit justru saat Rusia menginvasi Ukraina. Sejak akhir 2022, ribuan drone Shahed menghujani langit Ukraina, menghancurkan infrastruktur dan menyebarkan teror. Pemerintah Ukraina mencatat, serangan demi serangan terus dilancarkan pasukan Rusia menggunakan drone ini.

Namun, ceritanya tidak berhenti di situ. Awalnya memang Iran yang memasok, tetapi Rusia ternyata murid yang cepat belajar. Kini, mereka sudah memproduksi sendiri drone Shahed versi lokal dengan berbagai peningkatan. Teknologi ini kemudian menyebar seperti virus. Bahkan Amerika Serikat pun mengakui bahwa sistem drone tipe Shahed kini menjadi komponen penting dalam kampanye militer mereka yang sedang berlangsung melawan Iran. Ironis, bukan? Senjata yang awalnya dibuat untuk melawan, kini dipakai oleh banyak pihak.

Iran Balas Sindir: Bantuan Ukraina Hanya “Lelucon”

Menanggapi tuduhan panas ini, pihak Iran memilih untuk tidak bereaksi secara langsung. Justru melalui kantor berita Rusia TASS, Utusan Iran untuk Ukraina, Shahriar Amouzegar, malah melontarkan sindiran pedas. Ia mengomentari langkah Ukraina yang disebut-sebut membantu Amerika Serikat di Timur Tengah. Amouzegar dengan nada meremehkan menyebut pernyataan Kyiv tentang bantuan menghadapi drone Iran di Timur Tengah hanyalah “lelucon” belaka.

“Adapun soal tindakan Ukraina di Timur Tengah yang katanya mau melawan drone kami, kami anggap itu tidak lebih dari sekadar lelucon dan gestur yang dibuat-buat untuk mencari perhatian,” kata Amouzegar sinis dalam wawancaranya dengan AFP di Paris.

Tapi, benarkah hanya lelucon? Jangan salah! Sebelumnya, Zelensky benar-benar bergerak cepat. Ia mengumumkan bahwa Ukraina telah mengirimkan tim ahli drone ke sejumlah negara Timur Tengah, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Bahkan dalam wawancara terpisah dengan The New York Times, Zelensky membeberkan detail yang lebih mengejutkan: Ukraina mengirim pakar drone untuk membantu melindungi pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Yordania.

Tik-Tok Geopolitik: Ukraina Kirim Tim, AS Bilang Tak Butuh

Menurut cerita Zelensky, permintaan bantuan ini datang langsung dari Washington pada tanggal 5 Maret. Bayangkan, tanpa buang waktu, tim drone Ukraina langsung berangkat ke kawasan konflik pada hari berikutnya! Cepat sekali, bukan? Ini menunjukkan betapa daruratnya situasi dan betapa eratnya kerja sama Kyiv-Washington saat ini.

Namun, ceritanya kembali berbelok. Beberapa hari setelah tim Ukraina dikirim, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba-tiba angkat bicara. Dengan gayanya yang khas, Trump menyatakan bahwa sebenarnya Amerika tidak memerlukan bantuan Ukraina untuk menghadapi serangan drone dalam operasi militernya melawan Iran. Pernyataan ini tentu mengundang banyak tanya. Apakah ada ketidakharmonisan? Atau justru ini bagian dari strategi diplomatik yang lebih besar?

Yang jelas, pusaran konflik di Timur Tengah semakin kompleks. Rusia dituding memasok senjata ke Iran, Iran dituding menyerang pangkalan AS, Ukraina berusaha membantu AS, tapi AS merasa tidak perlu dibantu. Semua negara saling tuduh dan saling serang. Satu hal yang pasti, drone Shahed telah menjadi bintang film horor di medan perang modern, dan kali ini, panggungnya berpindah dari Ukraina ke gurun pasir Timur Tengah.

Dari Kyiv hingga Teheran, dari Moskow hingga Washington, semua mata kini tertuju pada langit-langit Timur Tengah. Akankah drone-drone maut itu benar-benar digunakan untuk menghantam pangkalan AS? Ataukah semua ini hanya bagian dari perang opini dan propaganda? Yang terang, dunia sedang menahan napas, menanti babak selanjutnya dari drama geopolitik yang mencekam ini. Kita tunggu saja gebrakan berikutnya!

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Exit mobile version