Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Kenaikan Dolar AS Tekan Perajin Tahu Solo, Produksi Dipangkas hingga 30 Persen

SOLO, Cinta-news.com – Histeris! Dolar Amerika Serikat yang terus melambung tinggi bagai balon lepas kendali kini membuat para perajin tahu tempe di Sentra Industri Kecil Menengah (IKM) Kampung Krajan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo, Jawa Tengah, menjerit kesakitan. Mengapa demikian? Ternyata, harga bahan baku utama mereka, yakni kedelai, ikut merangkak naik dengan gila-gilaan!

Selanjutnya, Wahyudi (46), salah satu perajin tahu dari merek Mbok Na, dengan nada frustrasi mengungkapkan bahwa kenaikan harga kedelai saat ini dipicu secara langsung oleh melonjaknya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Menurut pengakuannya, kondisi ini benar-benar luar biasa memberatkan.

Kemudian, Wahyudi menjelaskan bahwa kenaikan harga kedelai ini sangat membebani para perajin tahu tempe di wilayah Mojosongo. “Ya, kami menyikapi dampak harga bahan baku kedelai terhadap dolar ya,” ujarnya dengan nada tertekan. “Kan dolar saat ini naik sampai menyentuh Rp 18.000 kalau gak salah ya. Wah, Rp 18.000 itu benar-benar sangat sangat membebani kami para perajin tahu dan tempe di wilayah Mojosongo ini,” keluhnya saat ditemui di rumah produksinya, Rabu (10/6/2026).

Di sisi lain, perajin tersebut membeberkan fakta mencengangkan bahwa saat ini harga kedelai sudah mencapai angka Rp 10.900 per kilogram. Angka ini merangkak naik secara signifikan dari sebelumnya yang hanya Rp 9.000 per kilogram. “Dulu itu nggak sampai Rp 10.000 ya, masih Rp 9.000 sekian, tapi coba lihat sekarang sudah tembus Rp 10.900, hampir menyentuh Rp 11.000! Kenaikan segitu, Rp 1.000 lebih, itu sudah luar biasa banyak bagi kami,” terangnya dengan geleng-geleng kepala.

Tak berhenti di situ, Wahyudi melanjutkan ceritanya bahwa kenaikan bahan baku ini membuat sejumlah perajin tahu tempe merugi besar-besaran. Berdasarkan perhitungan kasarnya, antara modal yang dikeluarkan dengan pendapatan yang diperoleh sekarang sudah tidak sebanding lagi. “Ya, ini berdampak langsung pada kenaikan bahan baku,” jelasnya. “Bahan bakunya itu, kalau dikonversi untuk tahu dan tempe, ya nggak dapet hasilnya, hasilnya benar-benar nggak dapet. Nggak nyambung gitu loh! Bahkan kadang-kadang ada yang sampai merugi,” tambahnya dengan nada prihatin.

Demi Bertahan, Perajin Tega Kurangi Ketebalan Tahu!

Sementara itu, Wahyudi memilih untuk tetap bertahan sejak kenaikan harga kedelai pada Lebaran lalu. Mengapa ia bertahan? Tujuannya jelas, agar roda perekonomian keluarganya masih bisa berputar meskipun situasi terus mencekik leher. “Dollar itu kan setelah lebaran sampai segini, malah naik-naik terus, nggak mau turun,” ujarnya kesal. “Kami sebagai perajin saat ini mungkin cuma bertahan dulu ya. Bertahan dulu, karena kalau nggak bertahan, bagaimana roda perputaran ini? Kami juga kan punya banyak keluarga yang harus kami nafkahi,” paparnya dengan beban berat di pundak.

Untuk menyiasati kondisi gila ini, Wahyudi mulai mengambil tindakan tegas dengan mengurangi ketebalan tahu hingga memangkas jumlah produksinya. Biasanya, ia memproduksi 100 kilogram tahu per hari. Namun, sekarang ia memilih untuk hanya memproduksi 70 hingga 80 kilogram per hari. “Untuk ketebalan tahu, dari kira-kira 3 sentimeter menjadi 2,5 sentimeter gitu,” jelasnya. “Itu sudah kami lakukan untuk me-reduce, untuk menyesuaikan dengan harga bahan baku yang gila-gilaan ini,” imbuhnya.

Namun yang lebih menyedihkan, siasat nekad tersebut ternyata tak mampu menekan biaya produksi secara signifikan. Akhirnya, Wahyudi pun terpaksa mengambil keputusan pahit: mengurangi jumlah karyawan di rumah produksi tahu miliknya. “Iya, sempat mengurangi ketebalan tahu, mengurangi produksi, jadi otomatis juga mengurangi karyawan. Awalnya lima orang, sekarang cuma tiga orang, karena memang nggak bisa nutup biaya produksi lagi,” katanya dengan suara lirih.

Harga Jual Naik? Daya Beli Masyarakat Malah Ambruk!

Setelah berbagai siasat gagal membuahkan hasil, Wahyudi bersama perajin tahu tempe Krajan kini mulai memikirkan opsi paling ekstrem: menaikkan harga jual. “Ya, kalau kami mengurangi, mengurangi, mengurangi terus kan nggak mungkin juga,” urainya. “Toh, terus gimana? Mungkin nanti langkah terakhirnya, kami rembuk bareng sama komunitas tahu dan tempe untuk bisa menyesuaikan harga, menyamakan harga semua,” jelasnya.

Akan tetapi, opsi menaikkan harga tahu tempe ini ternyata membuat Wahyudi ragu setengah mati. Mengapa demikian? Sebab menurut pengamatannya, saat ini daya beli masyarakat sedang ambruk dan menurun drastis. “Kalau mau menaikkan sendiri tanpa bareng-bareng sama temen-temen, kayaknya belum dulu ya,” katanya ragu. “Kami masih bertahan dulu, soalnya kalau nggak seragam, nanti kalau kami naikkan sendiri, mungkin malah nggak laku. Apalagi sekarang ini daya beli masyarakat lagi turun banget,” ungkapnya.

Lebih parahnya lagi, Wahyudi mengungkapkan bahwa omzet yang ia peroleh kini merosot hingga 70 persen! Dari yang biasanya memperoleh omzet Rp 2 juta per hari, kini ambrol hingga hanya Rp 1,1 juta. “Omzet ya kira-kira per hari, biasanya Rp 2 juta, sekarang jadi Rp 1,5 juta atau Rp 1,1 juta sampai Rp 1,2 juta sampai Rp 1,4 juta. Berkurangnya juga lumayan banget,” ungkapnya. “Itu semisalnya ya, kira-kira 70 persen lah berkurang,” pungkasnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, Wahyudi menduga harga kedelai akan kembali melambung semakin tinggi seiring dengan kenaikan harga dua jenis Bahan Bakar Minyak (BBM), yaitu Pertamax dan Pertamax Green 95. “Itu dampak kenaikan BBM, saya rasa nanti juga akan mempengaruhi harga kedelai ya. Mungkin akan lebih naik lagi,” katanya was-was. “Karena dari kemarin-kemarin itu, dolar naik dari Rp 17.000 sampai Rp 18.000, naiknya terus. Grafiknya naik, kedelai sebagai bahan bakunya juga ikut naik,” tambahnya.

Di akhir perbincangan, Wahyudi pun berharap dengan sangat kepada pemerintah agar dapat segera menekan harga kedelai. Pasalnya, ia tidak ingin para perajin kehilangan mata pencaharian mereka. “Mohon pemerintah itu bisa ya, turun tangan lah. Turun tangan untuk bisa menekan harga kedelai,” harapnya dengan penuh pengharapan. “Bisa menurunkan harga kedelai, jadinya nanti perekonomian bagi kami bisa berputar lagi,” pungkasnya.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *