Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Kebakaran Lahan 2,2 Hektare di Punclut, Petugas Diskarmatan Bandung Berkejaran dengan Waktu

BANDUNG, Cinta-news.com — Amukan si jago merah mendadak mengguncang kawasan Jalan Rereongan Sarupi (Punclut), Kelurahan Cidadap, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, pada Senin (14/9/2026) malam. Kebakaran hebat tersebut melahap tumpukan material bangunan serta tempat pembuangan sampah hingga memicu kepanikan warga sekitar yang bermukim di kawasan tersebut.

Berdasarkan catatan resmi dari Dinas Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung, amukan api yang mengamuk hebat tersebut telah membumihanguskan lahan kosong seluas setidaknya 2,2 hektare dalam waktu singkat.

Namun, para petugas pemadam kebakaran harus berjuang ekstra keras di lapangan karena medan tebing yang sangat curam menghambat pergerakan armada. Akibatnya, tim pemadam di lokasi kejadian belum mampu menembus seluruh titik api utama yang terus membara di bagian bawah lereng.

Sementara itu, pantauan langsung di tempat kejadian pada sekitar pukul 22.11 WIB memperlihatkan perjuangan pantang menyerah dari para petugas Diskarmatan Kota Bandung. Selain itu, sirine puluhan armada pemadam kebakaran terus meraung-raung saat kendaraan melintas berlalu-lalang menembus kegelapan malam demi memadamkan si jago merah.

Tak hanya bertarung melawan kobaran api yang garang, para petugas juga wajib menahan kepungan asap pekat yang membubung tinggi ke udara. Bahkan, hembusan angin malam yang kencang membawa gumpalan asap tebal itu membubung tinggi hingga merembet langsung menerjang kawasan pemukiman padat warga.

Medan Curam Hambat Petugas

Selanjutnya, Kepala UPT Utara Diskarmatan PB Kota Bandung, Asep Sudrajat, mengonfirmasi bahwa pihak pemadam kebakaran pertama kali menerima laporan darurat bencana tersebut pada sekitar pukul 19.15 WIB.

Guna meredam amukan si jago merah yang kian membesar, pihaknya langsung menerjunkan sebanyak lima personel terlatih beserta tujuh unit kendaraan pemadam yang meluncur gabungan dari Markas Pusat, UPT Utara, dan UPT Barat.

“Area lahan yang terbakar saat ini tercatat kurang lebih mencapai 2,2 hektare, tetapi kesulitan terbesar kami sekarang adalah belum bisa merekomendasikan anggota untuk turun langsung akibat tingkat kecuraman lereng yang sangat ekstrem,” tegas Asep saat memberikan keterangan resmi di lokasi kejadian.

Selain itu, Asep menjelaskan bahwa lahan yang mendadak membara tersebut merupakan area tanah kosong milik warga yang selama ini kerap difungsikan sebagai tempat penampungan material sisa dan buangan sampah.

Meskipun begitu, pihak berwenang hingga saat ini belum bisa membeberkan secara pasti pemicu utama dari bencana kebakaran tersebut. Namun demikian, berdasarkan rincian informasi awal yang dihimpun oleh petugas di lapangan, api diduga kuat berasal dari bagian bawah lereng sebelum akhirnya menjalar cepat membakar semak belukar ke arah atas.

“Oleh sebab itu, kami jujur belum mengetahui kepastian pemicu utamanya, namun laporan awal warga menyebutkan bahwa titik awal api memang menjalar dari area bawah lalu naik ke atas,” lanjut Asep dengan sigap.

Maka dari itu, Asep menegaskan bahwa fokus utama seluruh tim pemadam saat ini adalah memblokir pergerakan si jago merah demi mencegah api merembet ke area kawasan permukiman warga lainnya.

Di samping itu, kombinasi antara medan tebing yang curam dan minimnya penerangan di malam hari menghalangi petugas untuk menembus titik api utama di dasar lereng. Malahan, kondisi tanah lereng yang kian labil dikhawatirkan sanggup memicu pergeseran tanah berbahaya yang dapat mengancam keselamatan jiwa para petugas.

“Hingga detik ini kobaran api memang masih belum sepenuhnya padam, sehingga kami berfokus melakukan tindakan proteksi ketat agar tidak terjadi rembetan ke tempat lain,” ujar Asep menekankan situasi darurat terkini.

Api Masih Berpotensi Muncul

Selanjutnya, Asep mengingatkan bahwa permukaan luar yang terlihat sudah padam tidak menjadi jaminan bahwa area tersebut telah aman sepenuhnya dari ancaman amukan api susulan. Sebab, tumpukan material keras dan sampah tebal masih menyimpan potensi bara api aktif yang terus membara di bagian dalam tumpukan.

Oleh karena itu, tim pemadam kebakaran sengaja menerapkan teknik penyiraman khusus agar semprotan air dapat meresap secara perlahan dan masuk menembus hingga ke celah terdalam dari tumpukan material tersebut.

“Memang area tumpukan sampah seperti ini tidak bisa langsung padam begitu saja, melainkan kami harus menerapkan teknik khusus agar air benar-benar menembus ke bagian terdalam sampai seluruh bara padam secara total,” jelas Asep secara terperinci.

Asap Ganggu Permukiman Warga

Sementara itu, Ketua RT 1/RW 10, Usep, mengaku bahwa dirinya baru mengetahui insiden mengerikan tersebut setelah mendapat laporan panik dari warga saat ia sedang menghadiri kegiatan acara tahlilan.

Bahkan, ketika ia bergegas berlari menuju ke tempat kejadian perkara, amukan kobaran api sudah terlihat sangat membesar dan membakar area sekitar.

“Begitu saya tiba di sini keadaan api sudah terlanjur sangat besar, sebab informasi dari warga menyebutkan api berasal dari kebun bambu di bawah lalu menjalar naik ke sini,” ungkap Usep menceritakan kesaksian langsungnya.

Kemudian, Usep menambahkan bahwa laporan bencana kebakaran tersebut diterimanya sekitar pukul 18.30 WIB, di mana ia mengestimasi luas area yang terdampak telah membentang hampir dua hektare hingga menyentuh kawasan pinggiran aliran sungai.

Selain itu, Usep membeberkan fakta bahwa lahan yang terbakar tersebut sejatinya merupakan tanah milik pribadi yang sehari-hari difungsikan warga sebagai tempat pembuangan material sisa.

Beruntung, tidak ada bangunan rumah warga yang berdiri tepat di sekitar titik pusat kebakaran sehingga tidak ada permukiman yang dilahap api secara langsung. Kendati demikian, warga sekitar tetap harus menanggung ancaman serius dari polusi kepungan asap tebal.

“Jika berbicara mengenai ancaman fisik kebakaran, rumah pemukiman warga memang bisa dibilang aman, namun cemaran polusi asap pekat ini ikut berdampak buruk menimpa warga kami,” keluh Usep meyakinkan.

Maka dari itu, pihak pengurus RT bergerak cepat merencanakan pembagian masker secara gratis kepada masyarakat terdampak dengan memanfaatkan stok bantuan sisa yang masih tersisa.

“Oleh sebab itu, kami sudah menyiapkan persediaan masker bekas bantuan tahun-tahun lalu yang masih layak untuk segera kami bagikan kembali kepada masyarakat demi menjaga kesehatan,” jelas Usep dengan sigap.

Ada Sekolah dan Dapur SPPG di Sekitar Lokasi

Di sisi lain, Camat Cidadap, Maulana Fatahudin, menyampaikan bahwa pihak kecamatan telah menghubungi Kepala Dinas Lingkungan Hidup guna mendatangkan tim asesmen darurat untuk mengatasi dampak buruk asap kebakaran.

“Saya sudah menelepon langsung Kepala Dinas Lingkungan Hidup karena kami sangat membutuhkan tim asesmen untuk merancang langkah-langkah penanganan preventif guna mencegah ancaman bahaya asap tersebut,” tegas Maulana menerangkan upayanya.

Tak hanya itu, pihak kecamatan juga bergerak merangkul petugas puskesmas setempat agar mengerahkan tim tenaga kesehatan langsung ke lapangan pada Selasa (15/9/2026) pagi.

Pasalnya, keberadaan sejumlah fasilitas umum penting serta permukiman padat warga di dekat area bencana menuntut penanganan medis dan keselamatan yang diprioritaskan.

“Esok pagi bersama Pak Lurah, tim kesehatan tersebut akan turun langsung ke lapangan karena di bagian bawah terdapat dapur SPPG, bangunan sekolah, serta permukiman warga masyarakat yang harus kami utamakan perlindungannya,” ujar Maulana menyampaikan skenario aksinya.

Selain itu, Maulana memastikan bahwa koordinasi insentif dengan pihak puskesmas akan difokuskan untuk merealisasikan pembagian masker secara merata kepada seluruh warga.

“Tentu saja langkah tersebut wajib kita lakukan secepatnya, sehingga nanti saya terus berkoordinasi dengan Puskesmas demi meminta tambahan pasokan masker,” imbuh Maulana menegaskan.

Sementara itu, berdasarkan data pendataan awal pihak berwenang, kawasan permukiman yang mulai terdampak kepungan asap pekat mencakup wilayah RW 10, RW 3, dan RW 2.

Bahkan, bau sangit dan kepulan asap tebal dilaporkan telah tercium hingga menjangkau kawasan sekitar yang memiliki fasilitas pelayanan kesehatan.

“Nah, di bagian bawah lokasi kebakaran terdapat Rumah Sakit Salamun yang juga kena dampak hembusan asap tersebut,” tutur Maulana memperingatkan potensi bahayanya.

Kecamatan Siapkan Patroli Cegah Kebakaran Berulang

Guna mencegah musibah serupa terulang kembali di masa depan, Kecamatan Cidadap bakal segera membentuk tim gabungan khusus untuk menggelar patroli berkala di titik-titik rawan.

“Oleh karena itu, ke depannya kami bersama tim gabungan akan membentuk tim khusus patroli bersama karena masalah kebakaran lahan ini sudah terjadi berulang kali dan umumnya marak terjadi pada malam hari,” terang Maulana menguraikan rencananya.

Di samping itu, Maulana menduga kuat bahwa kebiasaan buruk pembakaran sampah oleh oknum tertentu menjadi pemicu utama yang membakar lahan kosong tersebut hingga tak terkendali.

“Meskipun kami belum mengantongi bukti fisik yang kuat, kami menduga ada oknum yang sengaja membakar sampah hingga memicu kebakaran hebat ini walau hal itu masih sebatas dugaan,” tegas Maulana membeberkan analisanya.

Akhirnya, hingga Senin malam berlalu, proses penanganan darurat masih terus berlangsung di mana puluhan petugas pemadam kebakaran pantang menyerah menyiramkan air demi memadamkan sisa-sisa bara api di lahan tersebut.

Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *