BANDAR LAMPUNG, Cinta-news.com — Suasana di kawasan Pahoman, Bandar Lampung, tiba-tiba berubah menjadi pemandangan yang tak biasa. Bayangkan saja, puluhan monyet ekor panjang atau yang dalam bahasa ilmiahnya disebut Macaca fascicularis, dengan berani turun dari kawasan Hutan Kera dan memilih untuk berkeliaran bebas di sekitar pemukiman warga. Yang lebih mencengangkan, kawanan primata ini sama sekali tidak menunjukkan sikap agresif terhadap manusia. Sebaliknya, mereka justru tampak sibuk dengan misi utama mereka: berburu makanan!
Alih-alih menyerang atau mengganggu aktivitas warga, rombongan monyet ini lebih memilih untuk fokus mengamati pohon-pohon buah yang tumbuh subur di pekarangan rumah. Mereka dengan cekatan memanjat pagar, melompat dari satu dahan ke dahan lain, dan tanpa sungkan-sungkan memetik buah-buahan segar yang menggoda di halaman warga Jalan Way Abung, Pahoman. Lokasi ini ternyata berada tidak jauh dari SMAN 10 Bandar Lampung, yang membuat pemandangan ini semakin unik karena terjadi di tengah kawasan pendidikan.
Bukan Sekadar Kedatangan Biasa: Frekuensi Kunjungan yang Membuat Warga Heran!
Salah seorang warga Pahoman, Dwi Prihatini, dengan santai mengungkapkan bahwa kawanan tersebut sebenarnya bukanlah tamu asing bagi mereka. Bahkan, menurut pengakuannya, jumlah yang datang dalam sekali kunjungan bisa mencapai puluhan ekor! “Mereka sering banget datang. Biasanya sampai puluhan ekor yang datang,” ungkap Dwi saat berbincang dengan awak media pada Sabtu (29/8/2026). Kedatangannya yang rutin ini membuat warga mulai terbiasa, namun tetap menyisakan kekhawatiran tersendiri.
Menariknya, Dwi menjelaskan bahwa aktivitas monyet ini tidak hanya terjadi pada musim tertentu. Dalam sepekan, ia bisa menyaksikan kedatangan mereka dua hingga tiga kali. “Enggak juga pas musim tertentu. Kayaknya tiap minggu, dua atau tiga kali pasti mereka ke sini,” tambahnya. Biasanya, rombongan monyet ini memilih waktu pagi hari sekitar pukul 06.30 WIB untuk memulai “petualangan kuliner” mereka. Namun, pada Sabtu siang itu, pemandangan berbeda terjadi karena puluhan monyet masih terlihat berkumpul di permukiman hingga siang hari. “Biasanya saya lihat pagi-pagi jam 06.30, tapi ini tumben siang masih ngumpul di sini,” tuturnya dengan nada heran.
Bukan Sekadar Iseng: Monyet-Monyet Ini Punya “Menu Favorit”!
Dwi kemudian menjelaskan bahwa kawanan itu sebenarnya sudah dianggap sebagai bagian dari keseharian warga. Namun, ia tidak bisa memungkiri bahwa kehadiran mereka tetap menimbulkan dampak, terutama terhadap tanaman buah milik warga. “Kayaknya warga sudah biasa karena memang sering datang bergerombol. Cuma jadi merusak tanaman buah di sini,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Buah jambu ternyata menjadi incaran utama para monyet ini. Mereka dengan lincah memetik buah jambu yang masih segar di pohon, tanpa peduli apakah itu milik siapa. “Biasa cuma metik buah. Biasanya mereka metikin buah jambu,” kata Dwi. Meskipun perilaku ini terkesan mengganggu bagi pemilik tanaman, Dwi menegaskan bahwa sejauh ini monyet tersebut tidak pernah menunjukkan perilaku agresif terhadap warga. Mereka hanya mengambil makanan dari tanaman yang tersedia di pekarangan dan tidak pernah mengganggu aktivitas manusia.
Mengapa Memilih Turun Gunung?
Dwi menduga kuat bahwa kawanan tersebut berasal dari kawasan Hutan Kera yang terletak di sekitar belakang Dinas Kesehatan Bandar Lampung. Meskipun jarak antara kawasan hutan dan pemukiman warga tidak terlalu dekat, monyet-monyet ini tetap mampu menempuh perjalanan untuk mencapai halaman rumah warga. Pertanyaan besarnya adalah: apa yang mendorong mereka melakukan perjalanan ini?
Dwi meyakini bahwa penyebab utamanya adalah terbatasnya sumber makanan alami di dalam kawasan hutan. “Iya, kayaknya jumlahnya makin banyak, tapi makanan di sana enggak ada,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Ia mengungkapkan bahwa terakhir kali mengunjungi kawasan Hutan Kera sekitar tiga tahun lalu, ia lebih sering melihat pengunjung yang membawa buah-buahan untuk diberikan kepada monyet. Kondisi ini ternyata membuat monyet-monyet tersebut terbiasa mendapatkan makanan dari manusia, bukan dari alam bebas.
“Biasanya orang-orang yang berkunjung ke sana bawa buah-buahan untuk monyet. Jadi kayaknya stok makanan mereka cuma dari pemberian orang-orang di situ, bukan mencari di alam bebas,” jelasnya. Hal ini diperkuat dengan pengalaman pribadinya ketika mencoba memberikan roti kepada monyet yang datang ke rumahnya. Namun, anehnya, makanan itu sama sekali tidak menarik perhatian kawanan tersebut. “Aku kasih roti, enggak ada yang mau,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Kekhawatiran Baru: Jangan Sampai Monyet Justru Jadi Sasaran Perburuan!
Hal serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Dendy. Ia mengaku cukup sering menyaksikan monyet berkeliaran di sejumlah kawasan perkotaan Bandar Lampung, terutama wilayah yang berdekatan dengan Hutan Kera. Dendy menilai kemunculan kawanan di permukiman tidak terlepas dari kondisi kawasan habitatnya yang dinilai kurang terawat dan minim sumber makanan. “Memang sering kelihatan monyet berkeliaran di kota, terutama yang dekat dengan Hutan Kera. Mungkin karena di sana makanannya tidak cukup, jadi mereka keluar mencari makanan ke tempat lain,” jelas Dendy.
Meskipun demikian, Dendy sejauh ini menilai keberadaan di permukiman belum menjadi gangguan serius bagi warga. “Untungnya mereka tidak mengganggu warga. Paling mengambil atau memetik buah dari tanaman,” ujarnya. Namun, kekhawatiran justru muncul dari sisi keselamatan monyet-monyet tersebut. Dendy mengkhawatirkan jika keberadaan kawanan primata ini dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menangkap atau memburunya. “Yang dikhawatirkan ada orang yang enggak bertanggung jawab, hewan itu malah jadi binatang buruan. Kasihan juga,” kata Dendy dengan nada prihatin.
Hutan Kera: Saksi Bisu Perubahan Zaman di Tengah Kota!
Hutan Kera sendiri merupakan kawasan perbukitan di Teluk Betung Utara yang selama puluhan tahun dikenal sebagai habitat monyet liar. Kawasan ini bahkan telah ada sejak masa kolonial Belanda sebagai kawasan hutan tropis alami. Koloni monyet ekor panjang kemudian menjadikan kawasan ini sebagai habitatnya. Pada era 1970 hingga 1990-an, kawasan ini juga menjadi salah satu tujuan rekreasi favorit warga Bandar Lampung. Masyarakat sering datang untuk menikmati suasana hutan yang asri dan pemandangan memukau dari kawasan perbukitan.
Sebagian kawasan Taman Hutan Kera berada di atas lereng bukit yang merupakan aset Pemerintah Kota Bandar Lampung. Sementara sebagian kawasan lainnya bersinggungan dengan wilayah atau pengelolaan yang berkaitan dengan PDAM Way Rilau. Kini, kemunculan puluhan monyet hingga ke halaman rumah warga menjadi tanda nyata bahwa hubungan antara habitat satwa dan lingkungan perkotaan masih terus berlangsung hingga saat ini.
Warga pun berharap keberadaan monyet tetap terjaga tanpa harus membuat satwa tersebut terus mencari makanan hingga ke permukiman. Mereka ingin ada solusi bijak yang dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan satwa dan kenyamanan warga. Apakah ini saatnya pemerintah kota turun tangan untuk mengembalikan keseimbangan alam di Hutan Kera? Kita tunggu saja langkah selanjutnya!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











