JAKARTA, Cinta-news.com – Kabar duka menyelimuti tanah Papua! Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) baru saja melontarkan fakta yang menggegerkan. Lembaga ini mengungkap pengakuan mengejutkan dari seorang korban yang selamat dalam insisi berdarah di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada 14 April 2026. Sungguh mencengangkan!

Kepala Sekretariat Komnas HAM Papua, Fritz Ramandey, langsung angkat bicara. Menurutnya, pengakuan ini didapatkan setelah pihaknya meminta keterangan secara langsung dari korban. “Si korban dengan sangat tegas mengaku,” ujar Fritz.
Baca Juga: Pabrik di Madiun Tahan Ijazah Puluhan Eks Karyawan, Diminta Tebus Rp 2,5 Juta
“Yang bersangkutan tanpa ragu-ragu mengatakan bahwa ‘yang menembak saya adalah tentara berseragam’,” tegas Fritz saat hadir secara virtual dalam jumpa pers di Komnas HAM, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Pernyataan ini sontak membuat suasana mencekam!
Lebih lanjut, Fritz menjelaskan kronologi mengerikannya. Kontak tembak pertama kali pecah pada 13 April 2026, lalu eskalasi semakin memuncak keesokan harinya, tepatnya 14 April 2026. Peristiwa nahas itu berlangsung di Kabupaten Puncak, tepatnya di dekat perbatasan dengan Kabupaten Puncak Jaya. Akibatnya, tim evakuasi terpaksa membawa para korban ke Puncak Jaya untuk mendapatkan perawatan.
Duka Mendalam di Papua: 15 Warga Tewas, Korban Selamat Masih Trauma Berat
“Pascakejadian itu, kami langsung menggelar pertemuan internal,” lanjut Fritz. “Hasilnya, dalam catatan sementara kami, tercatat 15 orang meninggal dunia. Selain itu, ada 5 orang yang sampai sekarang masih kami verifikasi karena mengalami luka-luka.” Sungguh ironis!
Baca Juga: Polisi Buru Dua Perempuan Pengendali Jaringan Sabu 5 Kilogram di Makassar
Eksekusi investigasi pun terus berjalan. Dari lima korban selamat, Komnas HAM baru berhasil menemui satu orang untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Korban perempuan itu ternyata mengalami luka tembak yang cukup serius di bagian leher. Saat ini, ia tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Dian Harapan. Kondisinya memprihatinkan!
TNI Akhirnya Buka Suara! Bantahan Keras Dilontarkan
Sementara itu, pihak TNI tidak tinggal diam! Kepala Penerangan Komando Operasi TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna, dengan sigap memberikan tanggapan resmi. Ia dengan tegas membantah bahwa personel TNI terlibat dalam penembakan yang menewaskan seorang anak di Kampung Jigiunggi, Kecamatan Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah.
“Pastinya tidak ada aktivitas prajurit TNI di Kampung Jigiunggi saat peristiwa penembakan terhadap anak tersebut terjadi,” ujar Wirya dalam siaran pers resmi Koops Habema, Senin (20/4/2026). Bantahan ini sekaligus menepis kabar liar yang beredar luas di masyarakat.
Baca Juga: Usulan Tarif Pelayaran di Selat Malaka Ditolak Malaysia dan Singapura
Sebelumnya, banyak pihak menduga bahwa seorang anak menjadi korban akibat kontak senjata sengit antara TNI dan kelompok separatis OPM. Namun, TNI berkilah!
Lebih detail, Wirya menjelaskan bahwa sebenarnya terjadi dua peristiwa penembakan yang berbeda di hari yang sama, yakni Selasa (14/4/2026). “Peristiwa pertama terjadi di Kampung Kembru, Papua,” jelasnya. “Berdasarkan laporan masyarakat, di sana terdapat keberadaan kelompok bersenjata OPM,” tambah siaran pers resmi tersebut.
Tak menunggu lama, aparat pun bergerak cepat! Mereka langsung mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan dan pengamanan. Namun, saat aparat tiba, mereka justru disambut dengan tembakan dari kelompok OPM. Alhasil, baku tembak pun tidak bisa dihindari. Dalam pertempuran tersebut, TNI berhasil mencatatkan empat anggota OPM tewas.
Tak hanya itu, aparat juga berhasil menyita berbagai barang bukti milik para pelaku penembakan. “Aparat mengamankan sejumlah barang bukti yang mengindikasikan aktivitas kelompok bersenjata,” ujar Wirya. Barang-barang tersebut antara lain dua pucuk senjata rakitan, satu pucuk senapan angin, munisi kaliber 5,56 mm dan 7,62 mm, satu selongsong peluru, busur dan anak panah, serta berbagai senjata tajam seperti parang, kapak, pedang, dan pisau. Sungguh persenjataan yang mengerikan!
Baca Juga: Pemprov DKI Kembali Gelar Program Keringanan PBB 2026, Diskon Spesial untuk yang Bayar Cepat
Kontradiksi antara pengakuan korban selamat di Komnas HAM dan bantahan TNI ini pun memicu polemik baru. Masyarakat diimbau tetap tenang dan menunggu hasil investigasi lebih lanjut dari pihak berwenang. Yang jelas, peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi 15 keluarga korban yang kehilangan orang-orang tercinta. Kita doakan semoga keadilan segera ditegakkan!
Temukan juga berbagai berita terbaru lainnya hanya di Exposenews.id.











