Cinta News – Kabar Terkini, Penuh Inspirasi!
News  

Gara-gara Royalti, Restoran Stop Musik – Karyawan: Jenuh!

JAKARTA, Cinta-news.com – Bayangkan bekerja seharian di restoran tanpa alunan musik. Sunyi, monoton, dan bikin jenuh. Itulah yang dirasakan karyawan sebuah restoran mie di Jalan Tebet Raya, Jakarta Selatan, setelah manajemen melarang pemutaran lagu karena takut kena royalti. “Iya, jenuh. Tapi kita nurut aja sih,” keluh Gusti (23), salah satu karyawan yang enggan pakai nama asli, dengan wajah lesu.

Tanpa musik, suasana restoran berubah jadi “anyep”—hambar kayak air putih. Gusti mengeluh, “Dulu ada lagu kan seru, sekarang cuma dengar suara sendok ngeletak-letuk sama obrolan pelanggan. Benar-benar bikin bete!” Padahal, musik bisa bikin kerja lebih semangat, tapi aturan adalah aturan.

Berbeda dengan restoran Gusti, sebuah kafe di Jalan Tebet Barat tetap memutar musik—tapi main aman dengan lagu-lagu Barat atau instrumen. “Enggak ada yang protes so far, lagunya tetap hits kok,” cerita Ririn (28), karyawan kafe yang juga pakai nama samaran. Meski begitu, Ririn mengaku sekarang harus ekstra hati-hati. “Dulu bebas putar lagu Indonesia, sekarang enggak boleh. Manajemen takut kena tegur,” jelasnya.

Nah, ini akar masalahnya! Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum baru-baru ini ngotot bahwa semua usaha—mulai dari restoran, kafe, sampai gym—wajib bayar royalti kalau mau muter musik. Agung Damarsasongko, Direktur Hak Cipta DJKI, bilang, “Langganan Spotify atau YouTube Premium itu cuma untuk personal. Kalau diputer di tempat usaha, itu udah komersial, harus bayar lisensi!”

Gimana caranya bayar royalti? Lewat Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), sesuai UU Hak Cipta. LMKN ini nanti yang bagi-bagi duit ke musisi dan pemilik hak cipta. “Jadi, enggak bisa asal putar lagu sembarangan,” tegas Agung.

Aturan ini bikin pelaku usaha kecil kelabakan. Ada yang milih mute musik seperti restoran Gusti, ada juga yang cari loophole dengan muter lagu luar negeri. “Tapi kan enggak semua customer suka lagu Barat. Ada yang mau dengar lagu Indonesia biar lebih relate,” keluh Ririn.

Di media sosial, netizen ribut. Ada yang pro, ada yang kontra. “Lah, emang musisi juga butuh makan!” tulis @AjiPamungkas. Tapi ada juga yang nyaranin solusi kreatif: “Muter lagu daerah aja, gratis kan?” saran @DewiKopi.

Jadi, gimana solusinya? Di satu sisi, musisi berhak dapet royalti. Di sisi lain, usaha kecil kebebanan biaya. Mungkin perlu ada middle ground—misalnya, diskon lisensi untuk UMKM atau paket streaming khusus bisnis. Kalau enggak, risiko terbesar bukan cuma ke karyawan yang “anyep”, tapi juga ke suasana bisnis kuliner yang kehilangan vibe-nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *